STRUKTUR PENYAJIAN KESENIAN ANGKLUNG CARUK BANYUWANGI


Abstract


ABSTRAK

 

 

Realitas kompetisi Angklung Caruk merupakan pertunjukan yang unik. Pada dasarnya, pertunjukan caruk memang sudah menjadi kebiasaan sosial masyarakat Using. Kata ” Caruk ” dalam bahasa Osing berarti ” temu “. Kata dasar itu bisa diucapkan ” Kecaruk ” atau ” Bertemu “.  Kata ” Angklung Caruk ” artinya adalah dua kelompok kesenian angklung yang dipertemukan dalam satu panggung, saling beradu kepandaian dengan iringan sejumlah tembang Banyuwangian tujuannya  untuk memperebutkan gelar sebagai group kesenian angklung yang terbaik.

 

Struktur penyajian dalam angklung caruk adalah Giro-giroan, Penghormatan, Embat-embatan/blabakan, Brindrong, Adu Gending dan Mengakhiri Pertarungan. Masing-masing kelompok akan saling beradu, saling menunjukkan kepiawaiannya dalam memainkan dan menirukan gending-gending yang diciptakan secara personal ataupun mengaransir gending-gending Banyuwangi yang sudah ada.

 

Pertunjukan angklung caruk ini sarat akan nilai etika dan estetika. Nilai etika nampak spontanitas, rasa kerjasama dan sportifitas, sedangkan nilai estetika nampak dari penyajian karya musiknya, termasuk dengan segala unsur keestetisannya seperti melodis, ritmis, harmoni, tempo dan lain sebagainya.

 

Kompetisi musikal yang terjadi dalam angklung caruk adalah sebuah fenomena yang menarik. Dimana pertunjukan menjadi sebuah peristiwa sosial multifungsi, tidak hanya menjadi media penyajian dan penikmatan sebuah karya musik. Angklung caruk juga merupakan proses sosial yang memberikan kesempatan menunjukkan prestasi, mengangkat identitas diri, kelompok daerah, mengokohkan status serta ajang seleksi sosial seniman.

 

 

Kata Kunci: Angklung Caruk, Struktur Penyajian, Adu Gending,



Full Text: Article