PENGARUH MEDIA PEMBELAJARAN PUZZLE TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN CALISTUNG PESERTA DIDIK PENDIDIKAN KEAKSARAAN FUNGSIONAL TINGKAT DASAR DI UPTD SKB KABUPATEN TRENGGALEK


Abstract


Illeteracy is an inability to use the language, to read, to write, to listen, and to speak. It means they cannot read and write well in the appropriate level of written communication or in the level which allows someone to have function at a certain society level. Illiteracy is the main problem for someone to access information and developes their knowledge skill and attitude. They are as follows: a) do not go to school since they are young, b) primary school drop out (first to thrid grade) and c) re-illiterate.literacy education for adult gives the functional function for yhe learners’ life. It is because the learning process is conduced based on the local context and local desaign. Besides that, it is also because the society development needs dynamic strategy which allows learners to have enojoyable situation. Puzzle is a kind of game which arranges the scrabble pictrues or words. This kind of media can make the learners be fun, becouse it encourages the learners not to keep silent. It encourages the learners to move actively to arrange the scrabble words and to think creatively.

This research aim to find out the learners’ “calistung” skill before and after the use of puzzle as the learning media, to find out the imrovement of the learning “calistung” skill after they are given puzzle as the learning media, and to find out whether there is a significant effect of the puzzle as the learning media for the improvement of learners “calistung” skill.

This research uses experimental quantitative research by using single subject. The subject of the research are the learners at the Literacy Primary Education of UPTD SKB Trenggalek. Based on the result of pre-test and post-test, the learners’ “calistung” skill in the functional literacy primary education in the post-test is better than in the pre-test. Based on the calculation by usinh Wilcoxon Match Pairs test, Tcount < Ttable = 1 < 52. It Proves that Ha is accepte and Ho is rejected

 

Keywords: Puzzle, “Calistung”, Litercy Education,

 

ABSTRAK

 

Buta aksara adalah ketidakmampuan untuk menggunakan bahasa ketidakmampuan untuk membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Hal ini, biasanya diartikan tidak mampu membaca dan menulis pada tingkat yang memadai untuk komunikasi tertulis atau pada tingkat yang akan memungkinkan seorang individu untuk berfungsi pada tingkat tertentu dari masyarakat. Buta aksara merupakan penghambat utama bagi individu penyandangnya untuk bisa mengakses informasi dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikapnya. Ada beberapa alasan mengapa mereka buta huruf, antara lain disebabkan: a) tidak sekolah sejak awal; b) drop out sekolah dasar (SD kelas 1-3); c) buta huruf kembali. Pendidikan keaksaraan bagi orang dewasa memberikan fungsi fungsional bagi kehidupan peserta didik, oleh karena pelaksana pembelajaran berdasarkan konteks dan desain lokal serta dinamika perkembangan masyarakat memerlukan strategi yang dinamis sehingga peserta didik terlibat dalam suasana yang menyenangkan. Puzzle adalah jenis permainan teka-teki menyusun potongan-potongan gambar atau kata. Jenis media ini dapat menyenangkan peserta didik karena media ini mengajak peserta didik agar tidak diam saja melainkan bergerak aktif untuk merangkai penggalan kata tersebut, selain itu media ini mengajak mereka untuk berpikir kreatif.

Tujuan dari penelitian ini adalah : Untuk mengetahui kemampuan calistung peserta didik sebelum adanya penerapan media pembelajaran puzzle, untuk mengetahui peningkatan kemampuan calistung peserta didik setelah adanya penerapan media pembelajaran puzzle, untuk mengetahui ada atau tidak adanya pengaruh media pembelajaran puzzle  terhadap peningkatan kemampuan calistung peserta didik.

Dalam penelitian ini pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif Penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen dengan subyek tunggal (Single Subject). Subjek pada penelitian ini adalah peserta didik pendidikan keaksaraan tingkat dasar di UPTD SKB Kabupaten Trenggalek. Berdasarkan hasil pre-test dan  post-test menunjukkan bahwa bahwa kemampuan calistung peserta didik pendidikan keaksaraan fungsional tingkat dasar pada saat post-test lebih baik daripada kemampuan calistung peserta didik pendidikan keaksaraan fungsional tingkat dasar pada saat pre-test. Sedangkan, Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan uji wilcoxon match pairs diperoleh hasil Thitung  Ttabel = 1  52  Hal ini membuktikan bahwa Ha bisa diterima dan Ho ditolak.

 

Kata Kunci: media puzzle, calistung, pendidikan keaksaraan.,



Full Text: Article