APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/apron en-US autar.unesa@gmail.com (Autar Abdillah) autar.unesa@gmail.com (Autar Abdillahh) Wed, 28 Jul 2021 23:54:30 +0000 OJS 3.1.1.0 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Codhi' Sumekar dance Estetika Tari Codhi' Sumekar Karya Taufikurrahman Di Kabupaten Sumenep https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/apron/article/view/42265 <p><strong>Codhi' Sumekar dance is a choreographic work of Taufikurrahman, a founder of the Bhumi Jokotole Dance Studio in Sumenep City. Codhi' Sumekar dance is in the form of a paired female dance, which describes the skills and toughness of Madurese women in practicing codhi' weapons to maintain their safety, dignity and honor. This dance form is equipped with a property in the form of codhi' (dagger or small dagger) which is a weapon commonly used by women in the past. The author's interest in choosing the topic of aesthetic studies is because he sees the uniqueness of this Codhi 'Sumekar Dance which lies in the dynamic, firm movement patterns, the properties used have multiple functions, and still exist not only in society but also among students. In addition, the form and style of the Codhi 'Sumekar Dance show very distinctive Madurese characteristics both in terms of movement patterns and dance music. This study aims to reveal the form and aesthetic value of the form of Codhi' Sumekar Dance, using the form theory approach as revealed by Soedarsono (1978), the aesthetic theory expressed by Elizabeth R. Hayes (1959), supported also by literature on Madurese culture. The research was conducted using qualitative methods, with data collection techniques through: literature study, observation, interviews and documentation and documentation. Data analysis was carried out using data reduction techniques, data classification, data presentation and drawing conclusions. The results showed that the form of Codhi 'Sumekar Dance structurally consists of 5 parts including: opening part, main part 1, main 2, main 3 and closing. All of these sections are supported by 26 types of motion motifs. In addition, the unified form of the Codhi' Sumekar Dance is visually supported by a distinctive fashion makeup design using karompi monte and calana tello' per empa'. Dance music using gamelan. The property uses a small kris (codhi'). Elements of the aesthetic value of Codhi' Sumekar Dance can be seen using the aesthetic concept of Elizabeth R. Hayes, namely unity, variety, repetition, contrast, transition, sequence, climax, proportion, balance, and harmony. In addition to these ten elements, the aesthetic or beauty of the Codhi' Sumekar Dance is also in accordance with the Madurese background and style which is then supported by movement motifs with Madurese techniques and dance music using Madurese language song.</strong></p> Nur Halima, Eko Wahyuni Rahayu ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/apron/article/view/42265 Wed, 28 Jul 2021 00:00:00 +0000 BENTUK PERTUNJUKAN GEMBLAK MBAWI DALAM LAKON TIMUN MAS DI DESA HARGORETNO KECAMATAN KEREK KABUPATEN TUBAN https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/apron/article/view/41827 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p><em>Gemblak Mbawi </em>memiliki akronim <em>digegem lan diblakne</em> atau memegang teguh nilai-nilai kebaikan dan membuang setiap keburukan dari esensi cerita Panji yang kemudian digambarkan dalam bentuk pertunjukan yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pertunjukan <em>Gemblak mbawi </em>pada lakon Timun Mas di Desa Hargoretno Kecamatan Kerek Kabupaten Tuban. Dengan hal ini diharapkan dapat menambah wawasan mengenai pengkajian struktur dramatik pada bentuk pertunjukan tradisional karena masih minimnya catatan yang mengupas tentang <em>Gemblak Mbawi</em> di kalangan akademisi dan praktisi, serta&nbsp; dapat membantu meningkatkan eksistensi pertunjukan ini di masyarakat umum. Rumusan masalah pada penelitian ini, yaitu: 1) bagaimana bentuk pertunjukan <em>Gemblak Mbawi </em>dalam lakon Timun Mas?, 2) bagaimana struktur pertunjukan pada pertunjukan <em>Gemblak Mbawi </em>dalam lakon Timun Mas?. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan objek <em>Gemblak Mbawi</em>. Sumber data menggunakan <em>place</em>, <em>person</em>, dan <em>paper</em>. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah obervasi, wawancara, dan dokumentasi. Menggunakan analisis data melalui tahap reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.</p> <p>Dari hasil penelitian diperoleh bentuk pertunjukan <em>Gemblak Mbawi</em> yang didalamnya berisi dua unsur pendukung pementasan diantaranya adalah unsur teater dan drama. <em>Gemblak Mbawi</em> dalam pertunjukanya menyajikan lakon seputar cerita Panji yang salah satunya adalah Timun Mas. Pada pertunjukan ini terdapat struktur yang berisi tiga bagian diantaranya adalah bagian awal yaitu <em>gending</em> atau musik pembuka, bagian pertunjukan <em>Gemblak Mbawi</em> dalam lakon Timun Mas yang disajikan sebagian, kemudian diikuti hiburan pelawak, dan bagian akhir meliputi lanjutan pertunjukan berisi cerita lakon Timun Mas dalam <em>Gemblak Mbawi</em> hingga akhir.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Kata Kunci: Bentuk Pertunjukan, <em>Gemblak Mbawi</em>, Struktur Dramatik</strong></p> <p>&nbsp;</p> KRISTINA AYU PRIYANTI, Anik Juwariyah ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/apron/article/view/41827 Fri, 16 Jul 2021 00:00:00 +0000 Beksan Kamantakah Karya Sudarsono Kabupaten Bangkalan Madura (Kajian Koreografi) https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/apron/article/view/42304 <p>Abstrak</p> <p>Sanggar Tarara merupakan salah satu sanggar tari di Kabupaten Bangkalan, Madura yang didirikan oleh Sudarsono pada tahun 1996. Sanggar ini tidak lagi diragukan eksistensinya sebab telah banyak memberi sumbangsih prestasi kepada Bangkalan.<em>Beksan Kamantakah</em> merupakan satu-satunya karya tari bersifat liris yang memiliki makna tolak bala, diciptakan oleh Sudarsono dan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangkalan nomor: 188.45/ 168.1/ 433.116/ 2019 pada tanggal 11 Juni 2019 yang ditandatangani oleh Mohammad Hasan Faisol, S.STP.MM., <em>Beksan</em><em> Kamantakah</em> karya Sudarsono dikukuhkan sebagai tarian khas Bangkalan.</p> <p>Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: 1) bagaimana proses kreatif penciptaan koreografi <em>Beksan Kamantakah</em> karya Sudarsono Kabupaten Bangkalan Madura?, 2) bagaimana bentuk koreografi <em>Beksan Kamantakah</em> karya Sudarsono Kabupaten Bangkalan Madura?. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus intrinsik dimana penelitian dilakukan atas dasar ketertarikan terhadap kasus tertentu. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori proses garap, teori koreografi dan teori bentuk. Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi.</p> <p>Hasil analisis yang didapat pada penelitian ini yaitu proses kreatif penciptaan koreografi <em>Beksan Kamantakah </em>yang terdiri dari lima tahap, yaitu pemilihan penari, eksplorasi, improvisasi, evaluasi dan komposisi. Selain itu, hasil yang didapat juga mengenai bentuk koreografi <em>Beksan Kamantakah </em>yang mencakup elemen-elemen bentuk tari. Beksan Kamantakah memiliki keunikan dari segi gerak menghentakkan bahu yang disebut <em>Onjhâk Bhâuh </em>dan segi vokal dengan syair dan nada khas Madura.</p> <p>Kata Kunci: Tari <em>Beksan Kamantakah</em>, seni tari, proses, bentuk, Sanggar Tarara</p> Mery Vitaloka Sakti, Noordiana . ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/apron/article/view/42304 Thu, 29 Jul 2021 00:00:00 +0000 Peranan Penari Perempuan dalam Pertunjukan Jaranan Buto Paguyuban Sekar Dhiyu di Kabupaten Banyuwangi https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/apron/article/view/42307 <p>Abstrak&nbsp;</p> <p>&nbsp;Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang pertunjukan <em>Jaranan Buto</em> Sekar Dhiyu sebagai peranan yang dilakukan oleh penari perempuan dalam seni pertunjukan <em>Jaranan Buto</em>. Rumusan masalah dalam penelitian ini diantaranya, 1) Bagaimana latar belakang keberadaan seni pertunjukan <em>Jaranan Buto</em> Paguyuban Sekar Dhiyu di Kabupaten Banyuwangi, 2) Bagaimana peranan penari perempuan dalam pertunjukan <em>Jaranan Buto</em> Paguyuban Sekar Dhiyu di Kabupaten Banyuwangi. Objek penelitian adalah peranan penari perempuan dan <em>Jaranan Buto</em> Paguyuban Sekar Dhiyu yang dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data adalah Setro Asnawi selaku pencipta <em>Jaranan Buto</em>, Darni Wiyono selaku Ketua Paguyuban Sekar Dhiyu dan Nur Weni selaku pelaku <em>Jaranan Buto</em>. Teknik pengumpulan data&nbsp; dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data&nbsp; secara deskriptif kualitatif dengan menggunakan langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Uji keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi.</p> <p>&nbsp;Hasil penelitian menyatakan, Peranan Penari perempuan dalam Pertunjukan <em>Jaranan Buto</em> Paguyuban Sekar Dhiyu di Kabupaten Banyuwangi terdiri dari latar belakang keberadaan paguyuban <em>Jaranan Buto</em> Sekar Dhiyu, peranan penari perempuan dalam pertunjukan <em>Jaranan Buto</em> Sekar Dhiyu.&nbsp; Latar belakang keberadaan Paguyuban Sekar Dhiyu membahas tentang berdirinya <em>Jaranan Buto</em> dan perkembangan keanggotaan dalam pertunjukan <em>Jaranan Buto</em>. Peranan penari perempuan pada pertunjukan <em>Jaranan </em>membahas tentang peranan yang dibawakan oleh para perempuan. Peranan tersebut terdiri dari Sinden, Penari Pegon Pakem, Penari Pegon Kreasi, Penari Gandrungan dan Penari <em>Jaranan Buto</em>.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Kata kunci: peranan, perempuan, <em>Jaranan Buto</em>, Sekar Dhiyu, Banyuwangi</strong></p> Dita Ari Sandi, Eko Wahyuni Rahayu ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/apron/article/view/42307 Thu, 29 Jul 2021 02:25:10 +0000 ANALISIS GERAK TARI PADA GRUP JARANAN SATRIO PUTRO KENCONO DI KABUPATEN TRENGGALEK https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/apron/article/view/42398 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Analisis Gerak Tari Pada Grup Jaranan Satrio Putro Kencono di Kabupaten Trenggalek dimana grup yang telah lama vakum namun mampu berkesenian kembali. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode penelitian kualitatif, dimana mampu untuk memahami fenomena mengenai objek yang diteliti. . Grup Jaranan Satrio Putro Kencono berlokasi di RT. 05, RW. 02 Dusun Mbubak, Desa Semarum, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek. Penelitian menggunakan teknik pengumpulan data wawancara (interview), pengamatan (observasi) dan dokumentasi. Analisis data dengan mereduksi data, penyajian data dan penarikan simpulan. Untuk mengecek keabsahan data dilakukan dengan validitas data yang menggunakan tiga teknik triangulasi yaitu triangulasi sumber, triangulasi teknik dan triangulasi waktu.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu grup Jaranan di Kabupaten Trenggalek yang telah vakum mampu aktif kembali karena gerak tari yang dikembangkannya. Gerak dibagi menjadi dua yaitu gerak murni dan gerak maknawi. Dengan menganalisis bentuk geraknya yang merupakan wujud hasil dari beberapa elemen tari yaitu tenaga, ruang dan waktu. Proses gerak ditinjau dari prinsip bentuk gerak yang dibagi tujuh yaitu kesatuan, ulangan (repetisi), variasi, rangkaian, perpindahan (transisi), klimaks dan bentuk iringan yang terdiri dari iringan internal, iringan eksternal. Bentuk iringan dari Grup Jaranan Satrio Putro Kencono menggunakan iringan laras pelok slendro terdiri dari kesatuan gong kethuk kempul kenong, kendang, kendang jaipong, saron, demung, drum, slompret. Iringan pada grup ini juga dikreasikan seperti penambahan jogetan (campursari).</p> Nesty Dinida Alfahmi ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/apron/article/view/42398 Thu, 29 Jul 2021 03:17:19 +0000 Makna Simbolis Tari Luyung Karya Tejo Sulistyo Sebagai Pembentukan Identitas Budaya Kabupaten Klaten https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/apron/article/view/42479 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p>Tari Luyung diciptakan Tejo Sulistyo asal Kabupaten Klaten, yang menggambarkan remaja putri sedang berlatih menenun dan memainkan payung hias. Bentuk dan gaya Tari Luyung menunjukkan etnisitas Klaten berupa nilai-nilai budaya yaitu sopan santun, beretika, kalem, tetapi pekerja keras akibat letak wilayah, kekayaan alam, serta potensi pariwisata dan industri yang melimpah khususnya lurik pedan dan payung juwiring. Tari Luyung disusun oleh elemen pendukung gerak, musik tari, tata rias, tata busana, dan properti, yang mengandung symbol dan dapat dimaknai artinya, serta syarat akan pembentukan identitas budaya. Fenomena Tari Luyung yang populer dan banyak ditarikan pada berbagai acara, mendasari penelitian ini yang bertujuan untuk : 1) mengetahui makna simbolis dari Tari Luyung karya Tejo Sulistyo di Kabupaten Klaten, 2) mendeskripsikan keterkaitan antara makna simbolis pada Tari Luyung dengan pembentukan identitas budaya di Kabupaten Klaten. Penelitian menggunakan pendekatan teori koreografi, simbol, dan identitas dengan metode penelitian kualitatif. Objek yang dipilih berupa makna simbolis dan pembentukan identitas menggunakan teknik pengumpulan data observasi langsung yang berlokasi di Kabupaten Klaten, observasi video, wawancara dengan narasumber, studi dokumentasi, serta studi pustaka dari artikel, jurnal dan penelitian terdahulu. Teknik analisis data: reduksi data, penyajian data, verifikasi data, dan penarikan kesimpulan. Pengujian keabsahan data menggunakan triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan, makna simbolis pada Tari Luyung berupa petuah, ajakan bekerja keras, mampu membedakan baik dan buruk, dan harapan kepada pemerintah Klaten. Makna tersebut merupakan cerminan nilai-nilai budaya yang mengangkat lurik pedan dan payung juwiring sebagai produk unggulan daerah. Tari Luyung mampu diterima sebagai identitas budaya &nbsp;dan mempertegas keberadaannya sebagai produk tari unggulan Klaten. Kesimpulannya adalah makna simbolis yang ada dalam Tari Luyung erat hubungannya dengan pembentukan identitas budaya dari Kabupaten Klaten yang wajib dilestarikan.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Kata kunci : makna simbolis, Tari Luyung, pembentukan identitas budaya, Kabupaten Klaten</strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>Abstract</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p>Luyung dance was created by Tejo Sulistyo from Klaten Regency, which depicts young women practicing weaving and playing decorative umbrellas. The form and style of The Luyung Dance shows Klaten’s ethnicity in form of cultural values, namely politeness, ethics, calm, but hardworking due to the location of region, natural wealth, and abundant tourism and industrial potential, especially Lurik Pedan and Payung Juwiring. Luyung Dance is composed of supporting elements of motion, dance music, make-up, fashion, and properties that contain symbol and can be interpreted, as well as requirements for the formation of cultural identity. The phenomenon of Luyung Dance which is popular and widely danced in various events underlies this research which aim to: 1) find out the symbolic meaning of Tejo Sulistyo’s Luyung Dance in Klaten Regency, 2) describe the relationship between the symbolic meaning of Luyung Dance and the formation of cultural identity in Klaten Regency. The research uses a theoretical approach to choreography, symbols, and identity with qualitative research methods. The chosen objek is in the form of symbolic meaning and identity formation using direct observation data collection techniques located in Klaten Regency, video observation, interviews with resource persons, documentation studies, andd literature studies from articles, journals, and previous research. Data analysis techniques: data reduction, data presentation, data verification, and drawing conclusions. Testing the validity of the data using triangulation of sources, techniques, and time. The results of the study show that the symbolic meaning of the Luyung&nbsp; Dance is the form of advice, an invitation to work hard, being able to distinguish good and bad, and hope for the Klaten goverment. This meaning is a reflection of cultural values that elevate Lurik Pedan dan Juwiring Umbrellas as regional superior products. Luyung Dance is able to be accepted as a cultural identity and emphasizes its existence as a superior dance product of Klaten. the conclusion is that the symbolic meaning in the Luyung Dance is closely related to the formation of cultural identity of the Klaten Regency which must be preserved.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Keywords: </strong><strong>Symbolic Meaning, Luyung Dance, Identity Formation, Klaten Regency</strong></p> <p>&nbsp;</p> Forenita Imanuel Dika Cristy, Eko Wahyuni Rahayu ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/apron/article/view/42479 Fri, 30 Jul 2021 07:51:17 +0000 Bentuk Pertunjukan Teater Tradisional Sandhur Jawa Bromo Budoyo Dengan Lakon Pak Empang Ngangklang Di Desa Yungyang Kecamatan Modo Kabupaten Lamongan https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/apron/article/view/42502 <h2>ABSTRAK</h2> <p>Grup Sandhur Jawa Bromo Budoyo merupakan grup Sandur satu-satunya yang masih aktif hingga sekarang di Kabupaten Lamongan. Grup tersebut beralamatkan di Desa Yungyang Kecamatan Modo Kabupaten Lamongan. Pada grup Sandhur Bromo Budoyo, penyajian bentuk pertunjukan&nbsp; teater tradisional Sandur Lamongan selalu identik dengan peralatan jaranan yang diperagakan para pemain dalam pementasan. Dalam penelitian ini mendeskripsikan tentang bagaimana latar belakang berdirinya grup Sandhur Jawa Bromo Budoyo di Desa Yungyang dan mengkaji secara detail bentuk pertunjukan dari kesenian Teater Tradisional Sandur Lamongan oleh Grup Sandhur Jawa Bromo&nbsp; Budoyo&nbsp; di Desa Yungyang Kecamatan Modo Kabupaten Lamongan.</p> <p>Metode penelitian yang digunakan adalah metode pendekatan kualitatif, menggunakan teknik pengumpulan data dengan dua pendekatan yaitu studi lapangan dan studi pustaka. Studi lapangan dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi&nbsp; pada grup Sandhur Jawa Bromo Budoyo. Sedangkan studi pustaka dengan mempelajari pustaka- pustaka yang terkait dan relevan dengan data yang dibutuhkan dalam penelitian.</p> <p>Hasil dari penelitian ini bahwa latar belakang grup Sandhur Jawa Bromo Budoyo mulai dari berdirinya grup Sandhur Jawa Bromo Budoyo hingga prestasi yang didapatkan oleh grup tersebut. &nbsp;Selain itu membahasa tentang bentuk pertunjukan teater tradisional Sandhur Jawa Bromo Budoyo. Secara ringkas bentuk pertunjukannya diperankan oleh tujuh tokoh dengan satu germo. Diawali dengan pembagian peran, pementasan Sandur selalu diiringi dengan lagu-lagu khusus yang berhubungan dengan perannya dan lagu tersebut dilatunkan menggunakan bahasa jawa.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Kata Kunci :</strong> Sandhur Jawa Bromo Budoyo ,Bentuk Pertunjukan, Teater Tradisional</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>The Sandhur Jawa Bromo Budoyo Group is the only Sandur group that is still active today in Lamongan Regency. The group's address is Yungyang Village, Modo District, Lamongan Regency. In the Sandhur Bromo Budoyo group, the presentation of the traditional theatrical form of Sandur Lamongan is always identical to the jaranan equipment displayed by the players in the performance. This study describes the background of the establishment of the Sandhur Jawa Bromo Budoyo group in Yungyang Village and examines in detail the performance form of the Sandur Lamongan Traditional The</em><em>ater by the Bromo Budoyo Java Sandhur Group in Yungyang Village, Modo District, Lamongan Regency.</em></p> <p><em>The research method used is a qualitative approach, using data collection techniques with two approaches, namely field studies and literature studies. Field studies were conducted through observation, interviews, and documentation with the Sandhur Jawa Bromo Budoyo group. While literature study by studying related and relevant libraries with the data needed in research.</em></p> <p><em>The result of this research is that the background of the Sandhur Jawa Bromo Budoyo group starts from the establishment of the Sandhur Jawa Bromo Budoyo group to the achievements of the group. In addition, it discusses the form of traditional theater performances Sandhur Jawa Bromo Budoyo. In summary, the form of the show is played by seven characters with one pimp. Beginning with the division of roles, Sandur's performances are always accompanied by special songs related to his role and the songs are sung in Javanese.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Keywords: Sandhur Jawa Bromo Budoyo, Performance Form, Traditional Theatre</em></strong></p> <p>&nbsp;</p> Erviana Dwi Agustya, Welly Suryandoko ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/apron/article/view/42502 Fri, 30 Jul 2021 23:36:03 +0000