BAJU: Journal of Fashion & Textile Design Unesa https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/baju <p>BAJU mempublikasikan artikel-artikel dari mahasiswa, dosen, guru, para peneliti dan profesional yang berisi hasil penelitian, penciptaan, gagasan pemikiran, dan kreasi atau inovasi lain dibidang desain mode dan tekstil, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Diterbitkan setahun empat kali, memberikan kesempatan artikel anda untuk segera <em>publish</em>.</p> <p>&nbsp;</p> Universitas Negeri Surabaya en-US BAJU: Journal of Fashion & Textile Design Unesa 2747-2574 Penerapan Motif Gorga Batak Toba pada Busana Pengantin Wanita dengan Teknik Bordir dan Payet https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/baju/article/view/42361 <p>Gorga Batak Toba adalah seni ukir yang umumnya terdapat di bagian luar rumah adat Batak Toba. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses penerapan dan hasil jadi penerapan motif gorga batak toba pada busana pengantin wanita dengan teknik bordir dan payet. Metode yang digunakan dalam penciptaan karya ini adalah <em>three stage</em> <em>design process</em> yang terdiri dari 3 tahapan yaitu (1) <em>problem</em> <em>definition &amp; research</em>, (2) <em>creative exploration</em>, dan (3) implementation. Dari hasil yang diperoleh, Gorga batak toba bisa digunakan sebagai detail motif busana pengantin Wanita. Proses pembuatan motif gorga batak menggunakan mesin bordir komputer dengan mengikuti motif yang telah digambar atau dijiplak pada aplikasi <em>Adobe Illustrator</em>. Adanya detail payet yang membentuk motif Gorga Batak Toba<em>, </em>maka diperlukan penambahan lebar setikan jahitan pada saat membordir motif Gorga Batak Toba. Pada pemasangan motif Gorga Batak pada busana menggunakan jahit tangan atau jelujur. Hasil jadi pada busana pengantin wanita sesuai dengan konsep rancangan yang menggunakan prinsip desain, yaitu <em>balance, unity, rhytim</em>, dan <em>proportion. </em>Penerapan motif gorga batak toba diterapkan pada bagian tengah muka busana dan sesuai dengan prinsip desain <em>balance </em>jika dilihat dari kanan dan kiri terlihat seimbang.</p> <p><em>&nbsp;</em><em>Gorga Batak Toba is the art of carving which is generally found on the outside of the Toba Batak traditional house. The purpose of the creation of this work is to determine the process of application and the final result of the application of the Gorga Batak Toba motif on the bride's clothing with embroidery and sequin techniques. The method used in the creation of this work is a three-stage design process consisting of 3 stages, namely (1) problem definition &amp; research, (2) creative exploration, and (3) implementation. From the results obtained, Gorga Batak Toba can be used as a detail of the bride's clothing motif. The process of making the Gorga Batak motif using a computer embroidery machine by following the motifs that have been drawn or traced in the Adobe Illustrator application. The presence of sequin details that make up the Gorga Batak Toba motif, it is necessary to increase the width of the stitches when embroidering the Gorga Batak Toba motif. In the installation of the Gorga Batak motif on clothing, use hand sewing or basting. The finished result on the bride's dress is in accordance with the design concept that uses design principles, namely balance, unity, rhythm, and proportion. The application of the Gorga Batak Toba motif is applied to the center of the face of the dress and in accordance with the balance design principle when viewed from the right and left looks balanced.</em></p> Cynthia Karlina Irma Russanti ##submission.copyrightStatement## 2022-07-17 2022-07-17 2 2 44 52 10.26740/baju.v2n2.p44-52 Pengembangan Inspirasi Ragam Hias Kakando Dalam Pembuatan Rok Belimbing Pada Busana Pengantin Wanita https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/baju/article/view/42563 <p>Tujuan Penelitian ini yaitu mendeskripsikan pengembangan inpirasi ragam hias <em>kakando</em> dalam pembuatan rok belimbing pada busana pengantin wanita, dengan mendeskripsikan hasil jadi pengembangan inspirasi ragam hias <em>kakando </em>dalam pembuatan rok belimbing pada busana pengantin wanita. Metode yang digunkann yaitu <em>Double Diamond Model</em>, yang terdiri dari empat tahapan yaitu <em>discover</em>, <em>define</em>, <em>develop</em>, <em>deliver.</em> Dengan menghitung nilai rata-rata menggunakan analisis deskriptif. Berdasarkan 11 aspek penilaian disajikan dalam gambar grafik penelitian pengembangan ragam hias <em>kakando</em> dalam pembuatan rok belimbing pada busana pengantin wanita. Dengan penilaian lima ahli busana, mendapatkan nilai rerata akhir 97,06 dengan kriteria sangat baik. Sumber ide<em> kakando</em> dalam pembuatan rok belimbing ini sangat sesuai dengan kategori nilai yang sangat baik, dapat dilihat dari proses penciptaan karya suatu produk dan penilaian dari ahli busana. Dalam proses membuat produk, perlu didahului membuat prototype dalam ukuran miniature atau fragmen sebagai uji coba pertama, hal ini meminimalisir pemborosan bahan dan mengantisipasi kesalahan proses pada saat realisasi produk asli.</p> <p><em>&nbsp;</em><em>This research aims to describe the development of the inspiration of kakando ornamental variety in the manufacture of leatherback skirts on the bride's clothing by describing the results of the development of inspiration for kakando decorative types in the manufacture of leatherback skirts in bride's dress. The Double Diamond Model method is used, which consists of four stages, namely discover, define, develop, and deliver. By calculating the average value using descriptive analysis. Based on 11 aspects of assessment presented in the graphic image of research on the development of kakando ornamental variety in the manufacture of leatherback skirts on the bride's clothing. With the evaluation of five fashion experts, it is getting a final average score of 97.06 with excellent criteria. The source of kakando ideas in the manufacture of star fruit skirts is very suitable for the category of exceptional value; it can be seen in creating the work of a product and the assessment of fashion experts. In making a product, it is necessary to precede making a prototype in miniature or fragment size as the first trial. It minimizes material waste and anticipates process errors at the time of realization of the original product.</em></p> Umy Hanik Mashluhi Lutfiyah Hidayati ##submission.copyrightStatement## 2022-07-17 2022-07-17 2 2 53 60 10.26740/baju.v2n2.p53-60 TRANSFORMASI BENTUK RAGAM HIAS PUTA DINO SEBAGAI ORNAMEN BORDIR BUSANA PENGANTIN WANITA https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/baju/article/view/42665 <p>Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui transformasi bentuk ragam hias Puta Dino menjadi ornamen bordir pada busana pengantin dan dapat melihat hasil jadi transformasi bentuk ragam hias Puta Dino sebagai ornamen busana pengantin. Metode yang digunakan adalah metode <em>Double Diamond</em> yang tediri dari 4 tahapan yaitu <em>Discover, Define, Develop, dan Deliver</em>. Mengambil motif Puta Dino dengan sumber inspirasi cerita rakyat Leba Mareku Laisa yang menceritakan tentang rakyat yang mempunyai mata pencaharian cengkeh dan pala di Maluku, Tidore. Suku bangsa yang mempunyai ciri khas mata pencahariannya pala dan cengkeh salah satunya. Dari hasil yang diperoleh, 1) proses penerapan motif Puta Dino dengan teknik bordir yang penerapannya pada busana pengantin wanita meliputi proses menentukan motif Puta Dino yang di transformasikan menjadi motif modern dan dilakukan stilasi ragam hias, yang selanjutnya di jadikan menjadi satu kesatuan motif yang akan dibentuk dalam bentuk bordir. 2) Diterapkan pada busana pengantin wanita dengan menggunakan teknik lekapan menggunakan jahit tangan. Proses pembuatan bordir menggunakan material bahan organza yang dibordir dengan motif puta dino, kemudian diatur penataannya pada bagian cape depan dan cape belakang pada busana pengantin.&nbsp; Hasil jadi busana pengantin dengan siluet A-line dengan penerapan ornament bordir puta dino tampak simple elegan dan modern.</p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><em>The purpose of the study was to find out the transformation of Puta Dino's ornaments into embroidery ornaments on wedding dresses and to see the results of the transformation of Puta Dino's ornaments as wedding dress ornaments. The method used the Double Diamond method which consists of 4 stages, namely Discover, Define, Develop, and Deliver. Taking the Puta Dino motif with the source of inspiration for the Leba Mareku Laisa folklore which tells about the people who make cloves and nutmeg as a livelihood in Maluku, Tidore. One of the ethnic groups whose livelihood is nutmeg and cloves. From the results obtained, 1) the process of applying the Puta Dino motif with embroidery techniques whose application to the bride's clothing includes the process of determining the Puta Dino motif which is transformed into a modern motif and stylized decorative motifs, which are then made into a single motif that will be formed. in embroidery. 2) Applied to the bride's clothing by using the technique of hand sewing. The process of making embroidery uses organza material which is embroidered with a puta dino motif, then the arrangement is arranged on the front cape and back cape on the wedding dress. The finished wedding dress with an A-line silhouette with the application of puta dino embroidery ornaments looks simple, elegant and modern.</em></p> Alfi Rida Istiqomah Yuhri Inang Prihatina ##submission.copyrightStatement## 2022-07-17 2022-07-17 2 2 61 68 10.26740/baju.v2n2.p61-68 Pengembangan Desain Busana Pengantin Dengan Tema "The Bentenan Is Asmaralaya Of Tondano" https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/baju/article/view/42600 <p>Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengembangan busana pengantin dengan tema <em>“the Bentenan is asmaralaya of Tondano”.</em> Terinspirasi dari cerita rakyat legenda danau Tondano dan motif tenun Bentenan. Metode yang digunakan yaitu <em>Double Diamond Design Prosses</em>, yang terdiri dari 4 tahap yaitu&nbsp; tahap <em>discover</em> merupakan <em>&nbsp;</em>tema yang dibahas pada penelitian ini adalah “<em>the Bentenan is asmaralaya of Tondano”</em> yang memiliki arti motif tenun Bentenan adalah surga dari pulau Danau Tondano yang disesuaikan dengan <em>inspiration picture. </em>Tahap <em>define</em> merupakan hasil yang diperoleh dari penerapan suatu sumber ide pada sebuah karya, kemudian menciptakan <em>basic design</em>. Tahap <em>develop</em> yaitu tahap pengembangan desain dengan <em>inspiration picture </em>yang muncul dari sumber ide untuk diwujudkannya dalam&nbsp; bentuk siluet I pada <em>dress</em>, <em>cape</em> yang bergelombang menunjukkan wujud air pada danau Tondano dan bordir motif Bentenan sebagai hiasan busana. hiasan Bordir ini bertujuan untuk memberi efek nyata dalam hiasan busana tersebut sesuai <em>inspiration picture.</em> Tahap<em> deliver</em> merupakan 5 pengembangan desain terbaik dan paling sesuai dengan <em>inspiration picture</em> dan tema. Hasil penelitian menunjukkan&nbsp; bahwa&nbsp; untuk membuat busana pengantin tersebut perlu menentukan pengembangan desain pada bagian siluet<em> dress</em> dan cape busana agar sesuai dengan<em> style</em> busana pengantin dan <em>inspiration picture</em>.</p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><em>The purpose of the study was to determine the development of wedding dress with the theme "the Bentenan is asmaralaya of Tondano". Inspired by the folklore of the legend of lake Tondano and the weaving motif of Bentenan. The method used is the Double Diamond Design Process, which consists of 4 stages, namely the discover stage, the theme discussed in this study is "the Bentenan is asmaralaya of Tondano" which means the weaving motif of Bentenan is Heaven from the island of lake Tondano adapted to the inspiration picture. The define stage is the result obtained from applying a source of ideas to a work, then creating a basic design. The develop stage is the design development stage with an inspiration picture that emerged from the source of the idea to be realized in the form of an I silhouette on the dress, a wavy cape showing the shape of water on Lake Tondano and embroidery with Bentenan motifs as fashion decorations. This embroidery decoration aims to give a real effect in the fashion decoration according to the inspiration picture. The deliver stage is the 5 best design developments that are most in line with the inspiration picture and theme. The results showed that to make the wedding dress, it was necessary to determine the design development on the silhouette of the dress and cape to match the style of the wedding dress and the inspiration picture.</em></p> Aminatun nisak Yulistiana Yulistiana ##submission.copyrightStatement## 2022-07-17 2022-07-17 2 2 69 77 10.26740/baju.v2n2.p69-77 Penerapan Ragam Hias Keker pada Busana Pengantin dengan Tema Queen of Peacock https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/baju/article/view/42448 <p>Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui proses pembuatan stilasi motif <em>keker</em>, penerapan <em>keker</em> pada busana pengantin dan jasil jadi setelah di terapkan pada busana pengantin, untuk menciptakan motif <em>keker </em>dan penerapannya metode yang digunakan adalah <em>Double Diamond Model,</em> yang terdiri dari 3 tahapan yaitu <em>discover, define, develop, deliver</em>. Proses pembuatan motif <em>keker</em> tersebut menggunakan teknik bordir yang di kombinasi dengan payet dan bulu <em>ostrich</em>, menggunakan desain awal mengambil motif dari kain tenun <em>keker</em> yang di stilasi menjadi motif baru. Hasil jadi pada busana wanita sesuai dengan konsep yang sudah di rancang antara lain adalah penerapan motif <em>keker </em>yang terletak pada bagian badan depan berjalan hingga ke rok bagian belakang. Hasil jadi pada busana pria sesuai dengan konsep perancangan yaitu menggunakan siluet busana formal yang klasik berupa setelan jas (<em>suit</em>). Penerapan motif <em>keker</em> yang diterapkan pada lengan kiri dan kanan. Hasil jadi busana secara keseluruhan telah memenuhi kriteria yang di inginkan.</p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><em>The purpose of the study was to determine the process of making the stylization of the keker motif, the application of the keker to the wedding dress and the finished jasil after it was applied to the wedding dress, to create the keker motif and its application the method used was the Double Diamond Model, which consisted of 3 stages, namely discover, define, develop, deliver. The process of making the keker motif uses an embroidery technique combined with sequins and ostrich feathers, using the initial design to take the motif from the woven keker cloth which is stylized into a new motif. The finished product for women's clothing is in accordance with the concept that has been designed, among others, is the application of the keker motif which is located on the front of the body running up to the back of the skirt. The finished product in men's clothing is in accordance with the design concept, namely using a classic formal dress silhouette in the form of a suit. The application of the keker motif is applied to the left and right arms. The results of the clothing as a whole have met the desired criteria.</em></p> Salsabila Rahudhah Mein Kharnolis ##submission.copyrightStatement## 2022-07-17 2022-07-17 2 2 78 86 10.26740/baju.v2n2.p78-86