The Influence of academic burnout on academic engangement
psychology
Abstract
Fenomena burnout akademik kini menjadi tantangan signifikan bagi mahasiswa yang aktif berorganisasi, termasuk mahasiswa semester 5 di Fakultas Psikologi UIN Malang. Burnout akademik dapat diartikan sebagai kondisi kelelahan emosional, depersonalisasi, serta penurunan rasa pencapaian diri yang dialami individu akibat tuntutan akademik yang berlebihan (Shadid et al., 2020). Kondisi ini berdampak pada menurunnya keterlibatan akademik academic engagement serta menurunkan performa belajar mahasiswa. Dalam konteks mahasiswa aktif organisasi, tekanan peran ganda antara dunia akademik dan organisasi dapat menjadi sumber stres yang cukup kompleks dan menimbulkan risiko burnout lebih tinggi dibanding mahasiswa nonaktif organisasi.
Mahasiswa yang terlibat dalam organisasi biasanya dihadapkan pada tanggung jawab tambahan seperti rapat rutin, kegiatan sosial, maupun program pengembangan diri. Aktivitas tersebut memang dapat menambah pengalaman, namun juga meningkatkan beban kognitif dan emosional yang dapat berujung pada burnout apabila tidak dikelola dengan baik (Ahmad et al., 2019). Ketidakseimbangan waktu antara kuliah dan organisasi dapat membuat mahasiswa kehilangan fokus terhadap prioritas akademik, memicu kelelahan, serta menurunkan motivasi belajar.
Burnout akademik tidak hanya berdampak pada aspek emosional, tetapi juga pada perilaku belajar dan keterlibatan mahasiswa dalam proses akademik. Penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang mengalami burnout cenderung menurunkan partisipasinya dalam kegiatan kelas dan memiliki perasaan sinis terhadap studi (Fares et al., 2016). Hal ini mengindikasikan bahwa burnout dan engagement memiliki hubungan yang saling berpengaruh—semakin tinggi burnout, semakin rendah engagement mahasiswa terhadap pembelajaran.
Keterlibatan akademik sendiri menggambarkan tingkat komitmen, perhatian, dan energi yang diberikan mahasiswa terhadap kegiatan belajar. Academic engagement meliputi tiga aspek: semangat belajar (vigor), komitmen terhadap tugas (dedication), dan fokus mendalam saat belajar (absorption) (Schaufeli & Bakker, 1978). Ketika burnout meningkat, tiga dimensi ini mengalami penurunan signifikan. Oleh karena itu, memahami dinamika antara burnout dan engagement sangat penting dalam konteks pengembangan kesejahteraan akademik mahasiswa.
Downloads
Published
Issue
Section
Abstract views: 0