The "Correlation between Social Support and Subjective Well-Being in Out-of-Town Students"
Psychology
Abstract
Mahasiswa rantau merupakan kelompok yang menghadapi berbagai tantangan psikologis selama proses perkuliahan. Jarak geografis dengan keluarga, perubahan lingkungan sosial, serta tuntutan akademik sering kali menyebabkan tekanan psikologis yang tinggi. Fenomena ini berdampak pada munculnya stres, perasaan kesepian, hingga kesulitan dalam proses adaptasi terhadap lingkungan baru. Penelitian yang dilakukan oleh (Rachmadhani & Palupi, 2020) menunjukkan bahwa mahasiswa rantau cenderung memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang lebih rendah dibandingkan mahasiswa lokal karena keterbatasan dukungan sosial yang mereka terima secara langsung.
Salah satu faktor protektif yang berperan penting dalam menghadapi tekanan psikologis adalah dukungan sosial (social support). Menurut (Cohen & Wills, 1985), dukungan sosial berfungsi sebagai penyangga (buffer) terhadap stres sehingga membantu individu mempertahankan stabilitas emosional dan kesehatan mental. Dukungan sosial dapat bersumber dari keluarga, teman sebaya, atau lingkungan sosial, dan mencakup dimensi emosional, instrumental, informasional, serta penghargaan (Zimet et al., 1988). Dalam konteks mahasiswa rantau, dukungan ini menjadi sumber daya psikologis penting untuk meningkatkan ketahanan diri.
Kesejahteraan subjektif (subjective well-being/SWB) merupakan konstruk psikologis yang mencerminkan evaluasi individu terhadap kualitas hidupnya secara menyeluruh. Berdasarkan teori (Diener, 1984), konsep ini telah berkembang selama tiga decade terakhir mencakup aspek kognitif maupun afektif dalam kehidupan seseorang (Diener et al., 1999) SWB terdiri atas tiga komponen utama: kepuasan hidup (life satisfaction), afek positif (positive affect), dan afek negatif (negative affect). Mahasiswa dengan tingkat SWB tinggi cenderung memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik, kondisi emosi yang stabil, serta ketahanan terhadap tekanan akademik. Sebaliknya, rendahnya SWB dapat meningkatkan risiko stres kronis, kecemasan, dan penurunan performa akademik.
Berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan positif antara dukungan sosial dan SWB. (Fransisca, 2018) menemukan bahwa dukungan sosial memiliki kontribusi signifikan terhadap kesejahteraan subjektif mahasiswa. (Negraheni & Pratisti, 2016) juga melaporkan bahwa mahasiswa dengan dukungan sosial tinggi menunjukkan kondisi psikologis yang lebih baik. Temuan serupa juga muncul dalam penelitian internasional (Bender et al., 2019) terhadap mahasiswa internasional yang tinggal jauh dari keluarga, yang memperlihatkan bahwa dukungan sosial berperan penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis di lingkungan baru. Temuan ini juga konsisten dengan penelitian (Kim & Kim, 2019) yang menunjukkan bahwa stres akulturatif pada mahasiswa internasional dapat direduksi melalui dukungan sosial yang memadai, sehingga meningkatkan kesejahteraan subjektif mereka.
Meskipun hubungan antara social support dan subjective well-being telah banyak diteliti, sebagian besar kajian masih berfokus pada mahasiswa secara umum dan belum secara spesifik menyoroti kelompok mahasiswa rantau di Indonesia. Padahal, kelompok ini menghadapi tantangan adaptasi sosial, emosional, dan akademik yang lebih kompleks dibandingkan mahasiswa lokal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara social support dan subjective well-being pada mahasiswa rantau. Kebaruan penelitian ini terletak pada fokus kajian terhadap mahasiswa rantau sebagai populasi khusus, yang selama ini masih jarang menjadi subjek penelitian dalam konteks hubungan antara kedua variabel tersebut di Indonesia. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi empiris sekaligus menjadi dasar perancangan program pendampingan psikososial di lingkungan perguruan tinggi.
Migrant students are a group that faces various psychological challenges during their college education. Geographic distance from family, changes in social environment, and academic demands often cause high psychological pressure. This phenomenon impacts the emergence of stress, feelings of loneliness, and difficulties in adapting to new environments. Research conducted by (Rachmadhani & Palupi, 2020) shows that migrant students tend to have lower levels of psychological well-being compared to local students due to limited social support they receive directly.
One protective factor that plays an important role in dealing with psychological pressure is social support. According to (Cohen & Wills, 1985), social support functions as a buffer against stress, thus helping individuals maintain emotional stability and mental health. Social support can be sourced from family, peers, or the social environment, and encompasses emotional, instrumental, informational, and appraisal dimensions (Zimet et al., 1988). In the context of migrant students, this support becomes an important psychological resource to enhance resilience.
Subjective well-being (SWB) is a psychological construct that reflects an individual's evaluation of their overall quality of life. Based on the theory of (Diener, 1984), this concept has developed over the last three decades to include both cognitive and affective aspects of a person's life (Diener et al., 1999). SWB consists of three main components: life satisfaction, positive affect, and negative affect. Students with high levels of SWB tend to have better adaptation abilities, stable emotional conditions, and resilience to academic pressure. Conversely, low SWB can increase the risk of chronic stress, anxiety, and decreased academic performance.
Various studies show a positive relationship between social support and SWB. (Fransisca, 2018) found that social support has a significant contribution to students' subjective well-being. (Negraheni & Pratisti, 2016) also reported that students with high social support showed better psychological conditions. Similar findings also emerged in international research by (Bender et al., 2019) on international students living far from their families, which showed that social support plays an important role in maintaining psychological well-being in new environments. These findings are also consistent with research by (Kim & Kim, 2019) which shows that acculturative stress in international students can be reduced through adequate social support, thereby increasing their subjective well-being.
Although the relationship between social support and subjective well-being has been extensively studied, most studies still focus on students in general and have not specifically highlighted the group of migrant students in Indonesia. However, this group faces more complex social, emotional, and academic adaptation challenges compared to local students. Therefore, this study aims to analyze the correlation between social support and subjective well-being among migrant students. The novelty of this research lies in its focus on migrant students as a specific population, which has rarely been the subject of research in the context of the relationship between these two variables in Indonesia. The results of this study are expected to provide empirical contributions while serving as a basis for designing psychosocial support programs in higher education institutions.
Downloads
Published
Issue
Section
Abstract views: 0