the The Relationship Between Mental Health and Achievement Motivation of UIN Malang Students
Pshycology
Abstract
Kesehatan mental mahasiswa merupakan isu krusial yang memerlukan perhatian serius dalam konteks pendidikan tinggi. Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan didefinisikan sebagai "keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang lengkap dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau kelemahan"(Kusterer et al., 2018). Definisi ini menekankan pentingnya kesehatan mental sebagai komponen integral dari kesejahteraan keseluruhan individu, khususnya mahasiswa yang tengah menjalani masa transisi penting dalam kehidupan mereka.
Memasuki lingkungan universitas membawa perubahan besar dalam kehidupan sosial, keluarga, dan personal mahasiswa, yang membuat mereka lebih rentan terhadap kerusakan psikologis(Mahdavi et al., 2023). Transisi ini seringkali disertai dengan berbagai tantangan adaptasi yang dapat mempengaruhi kondisi mental mahasiswa. Kaplan menyatakan bahwa kesehatan mental adalah adaptasi yang persisten terhadap situasi yang berubah, dan upaya untuk mengelola tuntutan internal serta persyaratan lingkungan yang berubah (Mahdavi et al., 2021). Ketika mahasiswa gagal beradaptasi dengan baik, hal ini dapat mengganggu kemampuan mereka untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab akademik.
Pengukuran kesehatan mental merupakan aspek penting dalam memahami kondisi psikologis mahasiswa. Penelitian pada kohort ibu hamil multietnis di Bradford mengungkapkan kompleksitas pengukuran kesehatan mental menggunakan General Health Questionnaire-28 (GHQ-28) (Prady et al., 2013) . Studi tersebut menemukan bahwa GHQ-28, yang terdiri dari empat subskala yaitu gejala somatik, kecemasan/insomnia, disfungsi sosial, dan depresi berat, dapat mengidentifikasi berbagai dimensi kesehatan mental. Javanmard dan Mamaghani (2013) melakukan standardisasi GHQ-28 pada mahasiswa di Provinsi Azerbaijan, Iran, dan menemukan bahwa instrumen ini memiliki reliabilitas dan validitas yang baik untuk mengukur kesehatan mental mahasiswa. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa GHQ-28 memiliki korelasi tinggi dengan SCL-90-R dan memiliki faktor reliabilitas yang tinggi pada keempat subskalanya. Meskipun penelitian ini fokus pada populasi ibu hamil dan mahasiswa di konteks tertentu, implikasinya relevan untuk memahami bahwa kesehatan mental merupakan konstruk multidimensi yang dapat diukur melalui berbagai aspek, termasuk pada populasi mahasiswa secara umum.
Di samping kesehatan mental, motivasi berprestasi merupakan faktor penting lain yang mempengaruhi kesuksesan akademik mahasiswa. McClelland mengembangkan teori motivasi yang berfokus pada tiga kebutuhan utama: kebutuhan akan prestasi (need of achievement), kebutuhan akan kekuasaan (need of power), dan kebutuhan akan afiliasi (need of affiliation) (Ridho, 2020). Teori ini sangat relevan dalam konteks pendidikan, dimana motivasi berprestasi dapat mendorong mahasiswa untuk mencapai target akademik yang lebih tinggi. Schunk, Meece, dan Pintrich (2014) dalam bukunya tentang motivasi dalam pendidikan menekankan bahwa motivasi merupakan proses yang diarahkan pada tujuan dan berkelanjutan. Mereka menjelaskan bahwa motivasi melibatkan tujuan yang memberikan dorongan dan arah untuk aktivitas, serta memerlukan aktivitas baik fisik maupun mental untuk mencapai tujuan tersebut(Schunk et al., 2014).
Peneliti mengembangkan Achievement Motives Scale yang direvisi (AMS-R) yang mengukur dua dimensi utama: harapan akan kesuksesan (hope of success) dan ketakutan akan kegagalan (fear of failure)(Lang & Fries, 2006). Instrumen ini telah terbukti memiliki properti psikometrik yang baik dalam sampel berbahasa Jerman dan menunjukkan validitas kriteria yang memadai terhadap perilaku terkait prestasi. Studi mereka menemukan bahwa individu dengan motivasi prestasi tinggi cenderung menunjukkan kinerja yang lebih baik, ketekunan yang lebih tinggi, menikmati tugas-tugas terkait prestasi, dan menetapkan tujuan yang realistis dan menantang.
Hubungan antara kesehatan mental dan motivasi berprestasi telah dibuktikan dalam beberapa penelitian. Mahdavi et al. (2021) dalam studinya terhadap 430 mahasiswa di Kurdistan University of Medical Sciences menemukan bahwa kesehatan mental berkorelasi signifikan dengan motivasi berprestasi (p < 0,001). Studi tersebut mengungkapkan bahwa mahasiswa dengan status kesehatan mental yang lebih baik memiliki tingkat motivasi yang lebih tinggi dalam pendidikan mereka. Lebih lanjut, penelitian tersebut juga menemukan hubungan signifikan antara motivasi berprestasi dan prestasi akademik (p = 0,025), yang menunjukkan bahwa mahasiswa yang lebih termotivasi untuk mencapai tujuan pendidikan mereka cenderung lebih sukses secara akademik.
Namun demikian, temuan mengenai hubungan langsung antara kesehatan mental dan prestasi akademik masih menunjukkan hasil yang beragam. Mahdavi et al. (2021) tidak menemukan korelasi signifikan antara kesehatan mental dan kesuksesan pendidikan (p = 0,37), meskipun kesehatan mental terbukti mempengaruhi motivasi berprestasi. Hal ini mengindikasikan bahwa hubungan antara kesehatan mental dan prestasi akademik mungkin dimediasi oleh faktor-faktor lain, salah satunya adalah motivasi berprestasi.
Karakteristik mahasiswa dengan kebutuhan prestasi yang kuat menurut McClelland meliputi: keinginan kuat untuk tanggung jawab pribadi, keinginan untuk mendapat umpan balik yang cepat dan konkret, melakukan pekerjaan dengan baik, kecenderungan menetapkan tujuan prestasi yang layak, serta kesukaan mengambil tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah(Ridho, 2020). Karakteristik-karakteristik ini menunjukkan bagaimana motivasi berprestasi dapat menjadi pendorong penting dalam pencapaian akademik mahasiswa.
Studi juga mengatakan bahwa tiga penelitian berbeda (N = 3523, N = 132, N = 126) menunjukkan bahwa versi revisi 10-item dari Achievement Motives Scale (AMS-R) memberikan fit yang memadai terhadap model dua faktor yang dimaksudkan secara teoritis, dengan reliabilitas yang adekuat, korelasi antarskala yang lebih rendah, dan validitas terkait kriteria yang baik terhadap perilaku terkait prestasi seperti kinerja tugas, ketekunan, kenikmatan tugas, dan penetapan tujuan (Lang & Fries, 2006). Temuan ini mengkonfirmasi pentingnya mengukur motivasi berprestasi secara valid dan reliabel untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kesuksesan akademik.
Prevalensi masalah kesehatan mental di kalangan mahasiswa ilmu kesehatan juga menjadi perhatian khusus. Mahasiswa ilmu kesehatan berada di bawah tekanan mental yang intens yang diinduksi oleh sistem pelatihan medis dan lebih mungkin mengembangkan gangguan psikologis dan mental (Mahdavi et al., 2023). Prevalensi depresi di antara mahasiswa kedokteran dilaporkan 15 hingga 30 persen lebih tinggi daripada rekan mereka di bidang studi lain. Gangguan mental di kalangan mahasiswa juga dapat disertai dengan penggunaan zat, yang memperburuk konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang (Ridho, 2020).
Masalah psikologis dapat mengganggu fungsi normal organ dan mengganggu proses berpikir, sehingga mengenali masalah-masalah ini dan mengajarkan mahasiswa untuk menghadapinya akan berdampak besar pada keterampilan belajar dan kualitas pendidikan (Mahdavi et al., 2021). Oleh karena itu, memahami hubungan antara kesehatan mental dan motivasi berprestasi menjadi sangat penting untuk mengembangkan intervensi yang tepat dalam meningkatkan prestasi akademik mahasiswa.
Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kesehatan mental dan motivasi berprestasi terhadap prestasi akademik mahasiswa. Dengan memahami dinamika hubungan antara ketiga variabel tersebut, diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan strategi untuk meningkatkan kesehatan mental dan motivasi berprestasi mahasiswa, yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan prestasi akademik mereka.
Downloads
Published
Issue
Section
Abstract views: 0