Character: Jurnal Penelitian Psikologi. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character <p>Jurnal Online Program Studi S-1 Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA</p> Universitas Negeri Surabaya en-US Character: Jurnal Penelitian Psikologi. 2252-6129 PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA ISTRI YANG MEMILIKI PASANGAN PENYANDANG TUNANETRA https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/47003 <p>Abstrak<br>Penelitian ini mengkaji bagaimana psychological well-being istri yang telah menikah dengan suami seorang tunanetra. Peneliti memusatkan analisisnya pada bagaimana istri dalam memaknai pernikahannya serta dampaknya terhadap psychological well-being. Subjek dalam penelitian ini adalah tiga orang istri yang telah membina rumah tangga selama lebih dari 20 tahun. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan studi kasus dan dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan wawancara semi-terstruktur dengan ketiga subjek. Peneliti menggunakan analisis tematik dan mengungkap bahwa ketiga subjek pada awalnya mengalami penolakan dari keluarga atas keputusannya menikah dengan seorang tunanetra. Di sisi lain subjek juga merasa khawatir tidak dapat menyesuaikan diri saat membina rumah tangga dan membutuhkan penyesuaian pada tahun awal pernikahan. Namun, subjek meyakini bahwa dirinya mampu mengelola kesulitannya dan dapat menyadari peluang yang ada untuk meningkatkan potensi dirinya. Subjek mengalami respon negatif dari lingkungan tempat tinggalnya tetapi subjek tetap menjalin hubungan yang baik dengan tetangga di lingkungan tempat tinggalnya. Subjek memiliki tujuan dan memaknai peristiwanya secara positif serta menerima aspek baik dan buruk dalam dirinya serta pasangannya. Subjek tidak merasa kecewa atas keputusannya menikah dengan seorang penyandang tunanetra.<br>Kata Kunci: kesejahteraan psikologis, istri, suami tunanetra<br>Abstract<br>This study examines how the psychological well-being of a wife who has married a blind husband. Researchers focused their analysis on how wives interpret their marriages and their impact on psychological well-being. The subjects in this study were three wives who had been in the household for more than 20 years. This qualitative research uses a case study approach and in data collection, researchers use semi-structured interviews with all three subjects. Researchers used thematic analysis and revealed that all three subjects initially experienced rejection from the family over their decision to marry a visually impaired person. In addition, the subject also feels worried about not being able to adjust when fostering a household and needs adjustment in the early years of marriage. However, the subject believes that he is able to manage his difficulties and can realize the opportunities that exist to increase his potential. The subject experienced a negative response from the environment in which he lived but the subject maintained a good relationship with the neighbors in the environment where he lived. The subject has a purpose and interprets the event positively and accepts the good and bad aspects in himself and his partner. The subject did not feel disappointed at his decision to marry a blind person.<br>Keywords: psychological well-being, wife, visually impaired husband</p> Sri Wahyuni Kaswan . Nurchayati ##submission.copyrightStatement## 2022-06-21 2022-06-21 9 6 69 83 MANAJEMEN KONFLIK PERNIKAHAN PADA PEREMPUAN YANG MENIKAH DI USIA MUDA https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/47026 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kematangan emosi pada pasangan yang menikah muda dapat memicu timbulnya konflik dan berpotensi menimbulkan perceraian. Dibutuhkan manajemen konflik yang baik untuk menghadapi konflik yang timbul untuk mencegah perceraian. Fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui penyebab konflik, bentuk manajemen konflik, serta faktor yang mendorong penerapan manajemen konflik pernikahan pada perempuan yang menikah di usia muda. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Partisipan terdiri dari tiga orang yang memutuskan menikah di usia muda. Adapun karakteristik dari ketiga partisipan tersebut antara lain adalah perempuan yang usia pernikahannya 1-5 tahun, perempuan yang menikah di usia 19-21 tahun, dan perempuan yang menikah pada saat sedang menempuh pendidikan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan proses wawancara semi terstruktur yang mengacu pada pedoman wawancara yang telah disusun sebelumnya. Data akan dianalisis menggunakan teknik tematik dan diuji kredibilitasnya menggunakan teknik triangulasi dan <em>member c</em><em>h</em><em>e</em><em>c</em><em>k</em>. Hasil penelitian menunjukan terdapat tiga tema utama yaitu penyebab konflik, bentuk manajemen konflik, serta faktor yang mempengaruhi penerapan manajemen konflik oleh perempuan yang menikah di usia muda. Adapun penyebab konflik antara lain adalah permasalahan pendidikan dan kematangan emosi, hal ini berakibat pada tidak mendapatkannya restu dari orang tua, stres, dan konflik dengan pasangan. Lebih lanjut lagi, bentuk manajemen konflik yang terbukti efektif untuk diterapkan pada konflik tersebut adalah akomodasi, kolaborasi, dan menghindari konflik. Terakhir, faktor yang mempengaruhi kemampuan penerapan manajemen konflik yaitu introspeksi diri, menjalin komunikasi yang baik, sikap menghargai, dan dukungan dari pasangan.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>manajemen konflik, menikah muda, dan perempuan</p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Emotional maturity in couples who marry young can trigger conflict and potentially lead to divorce. It takes good conflict management to deal with conflicts that arise to prevent divorce. The focus of this study is to determine the causes of conflict, forms of conflict management, and factors that encourage the application of marital conflict management to women who marry at a young age. This study uses a qualitative method with a case study approach. Subjects consisted of three people who decided to get married at a young age. The characteristics of the three subjects include women whose marriage age is 1-5 years, women who marry at the age of 19-21 years, and women who marry while studying. The data collection technique was carried out with a semi-structured interview process that referred to the interview guidelines that had been prepared previously. The data will be analyzed using thematic techniques and tested for credibility using triangulation techniques and member checks. The results showed that there were three main themes, namely the causes of conflict, forms of conflict management, and factors that influence the application of conflict management by women who marry at a young age. The causes of conflict include educational problems and emotional maturity, this results in not getting approval from parents, stress, and conflict with a partner. Furthermore, the forms of conflict management that have proven effective to be applied to the conflict are accommodation, collaboration, and conflict avoidance. Finally, the factors that affect the ability to implement conflict management is self-introspection, establishing good communication, respect, and support from husband.</em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: conflict management, young marriage, and women</em></p> Amirah Hanun Diana Rahmasari ##submission.copyrightStatement## 2022-06-21 2022-06-21 9 6 56 68 HUBUNGAN ANTARA BUDAYA ORGANISASI DENGAN WORK ENGAGEMENT PADA KARYAWAN PT. MITRA MEGAH BANGUNAN ABADI https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/46999 <p>Abstrak<br>Penelitian ini bertujuan untuk mengetauhi hubungan antara budaya organisasi dengan work engagement pada karyawan PT. Mitra Megah Bangunan Abadi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menyebarkan kuisioner secara langsung berdasarkan dengan skala budaya organisasi dan skala work engagement. Sampel pada penelitian ini menggunakan sampling jenuh sejumlah 85 karyawan tetap dengan minimal masa kerja dua tahun, dimana 30 karyawan dijadikan tryout dan 55 lainnya dijadikan sebagai subjek dari penelitian. Metode pengumpulan data pada peneltian ini meggunakan analisis korelasi pearson product moment dibantu dengan IBM SPSS 25 for windows. Hasil dari uji hipotesis penelitian ini, menunjukkan hasil nilai korelasi koefisien sebesar 0,595 dengan nilai p= 0,000 (p&gt;0,05). Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara budaya organisasi dengan work engagement pada karyawan PT. Mitra Megah Bangunan Abadi. Hasil positif menunjukkan bahwa semakin tinggi budaya organisasi maka semakin tinggi pula work engagement pada karyawan PT. Mitra Megah Bangunan Abadi.<br>Kata Kunci: budaya organiasi, work engagement, karyawan<br>Abstract<br>This study aims to determine the relationship between organizational culture and work engagement on employees of PT. Mitra Megah Bangunan Abadi. This study uses a quantitative method by distributing questionnaires directly based on the organizational culture scale and work engagement scale. The sample in this study used a saturated sampling of 85 permanent employees with a minimum of two years of service, of which 30 employees will be used as tryout and 55 others were used as subjects of the study. The data collection method in this research uses pearson product moment correlation analysis assisted by IBM SPSS 25 for windows. The results of the hypothesis test of this study, showed the results of the correlation coefficient value of 0,595 with p= 0,000 (p&gt;0,05). Based on the results of this study, there is a positive and significant relationship between organizational culture and work engagement on employees of PT. Mitra Megah Bangunan Abadi. Positive results indicate that the higher the organizational culture, the higher the work engagement of the employees PT. Mitra Megah Bangunan Abadi.<br>Keywords: organizational culture, work engagement, employees<br>PENDAHULUAN<br>Sebuah organisasi didalamnya harus memiliki SDM, dimana</p> Riza Dyah Puspitasari Meita Santi Budiani ##submission.copyrightStatement## 2022-06-21 2022-06-21 9 6 1 10 HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI DUKUNGAN ORGANISASI DENGAN KOMITMEN ORGANISASI GURU MADRASAH ALIYAH NEGERI (MAN) X https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/47000 <p>Abstrak<br>Keberhasilan dalam pencapaian tujuan instansi merupakan hal yang sangat penting. Guru merupakan SDM yang memiliki pengaruh besar pada instansi sekolah dalam proses pembelajaran dan pencapaian tujuan. Tidak dipungkiri guru harus memiliki komitmen yang tinggi dalam kinerjanya. Persepsi dukungan organisasi yang baik pada guru akan membentuk komitmen organisasi tinggi yang berdampak pada kualitas kinerja guru, sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara persepsi dukungan organisasi dengan komitmen organisasi pada guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) X. Subjek dalam penelitian ini yaitu 93 guru di MAN X dengan teknik pengambilan sampel jenuh. Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan Skala likert dengan instrumen persepsi dukungan organisasi dan komitmen organisasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan product moment correlation dengan bantuan SPSS 24.0 for windows. Hasil analisis menunjukan nilai koefiensi korelasi r sebesar 0,794 (r=0,794) dengan taraf signifikan sebesar 0,000 (p&lt;0,05). Hasil tersebut menunjukan bahwa terdapat hubungan yang tergolong kuat antara persepsi dukungan organisasi dengan komitmen organisasi. Hasil yang positif menunjukan bahwa korelasi sejalan, maka apabila persepsi dukungan organisasi pada guru tinggi maka tinggi pula komitmen organisasi yang dimiliki guru, dan kebalikannya jika persepsi dukungan organisasi rendah maka komitmen organisasi yang dimiliki guru juga ikut rendah.<br>Kata kunci : Komitmen Organisasi, Persepsi Dukungan Organisasi, Guru<br>Abstract<br>Success in achieving agency goals is very important. Teachers are human resources who have a major influence on school institutions in the learning process and achieving goals. It is undeniable that teachers must have a high commitment in their performance. Perceptions of good organizational support for teachers will form high organizational commitment that has an impact on the quality of teacher performance, so the purpose of this study is to determine the relationship between perceived organizational support and organizational commitment to teachers at Madrasah Aliyah Negeri (MAN) X. The subjects in this study are 93 teachers of MAN X with saturated sampling technique. Data collection in this study used a Likert scale with instruments of perceived organizational support and organizational commitment. The data analysis technique in this study used product moment correlation with the help of SPSS 24.0 for windows. The results of the analysis showed that the value of the correlation coefficient r was 0.794 (r=0.794) with a significant level of 0.000 (p&lt;0.05). These results indicate that there is a relatively strong relationship between perceived organizational support and organizational commitment. Positive results indicate that the correlation is in line, so if the perception of organizational support for teachers is high, the teacher's organizational commitment is also high, and vice versa if the perception of organizational support is low, the organizational commitment of teachers is also low.<br>Keywords : Organizational Commitment, Perceptions of Organizational Support, Teacher</p> Ainun Arsiska Ni Wayan Sukmawati Puspitadewi ##submission.copyrightStatement## 2022-06-21 2022-06-21 9 6 21 33 HUBUNGAN ANTARA KUALITAS KEHIDUPAN KERJA DENGAN PSYCHOLOGICAL WELLBEING PADA GURU https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/47001 <p>Abstrak<br>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas kehidupan kerja dengan psychological well-being<br>pada guru. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif korelasional. Pengambilan jumlah<br>sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampel jenuh dengan menggunakan 44 guru. Teknik pengumpulan data<br>dalam penelitian ini menggunakan skala yang terdiri dari skala kualitas kehidupan kerja dan skala psychological wellbeing.<br>Data penelitian yang diperoleh dianalisis menggunakan uji korelasi product moment dengan menggunakan<br>software SPSS 25.0 for windows. Hasil analisis data yang diperoleh menunjukkan terdapat hubungan antara kualitas<br>kehidupan kerja dengan psychological well-being pada guru. Hasil ini dibuktikan dari taraf signifikansi sebesar 0.000<br>(p&lt;0.05) dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,813. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat<br>hubungan yang signifikan dan positif antara kualitas kehidupan kerja dengan psychological well-being pada guru. Hal ini<br>menunjukkan jika semakin tinggi kualitas kehidupan kerja, maka akan semakin tinggi juga psychological well-being pada<br>sekolah tersebut. Begitupun sebaliknya, jika semakin rendah kualitas kehidupan kerja makan semakin rendah juga<br>psychological well-being.<br>Kata Kunci: kualitas kehidupan kerja, psychological well-being, guru<br>Abstract<br>This study aims to determine the relationship between the quality of work life with psychological well-being of teachers.<br>The method in this study uses correlational quantitative research methods. Taking the number of samples in this study<br>using a saturated sample technique using 44 teachers. The data collection technique in this study used a scale consisting<br>of a quality of work life scale and a scale of psychological well-being. The research data obtained were analyzed using the<br>product moment correlation test using SPSS 25.0 software for windows. The results of the analysis of the data obtained<br>show that there is a relationship between the quality of work life and the psychological well-being of teachers. This result<br>is evidenced by the significance level of 0.000 (p &lt;0.05) with a correlation coefficient of 0.813. Based on these results, it<br>can be concluded that there is a significant and positive relationship between the quality of work life and the psychological<br>well-being of teachers. This shows that the higher the quality of work life, the higher the psychological well-being at the<br>school. On the other hand, the lower the quality of work life, the lower the psychological well-being.<br>Keyword: quality of work life, psychological well-being, teachers</p> Gery Desrama Briankusuma Umi Anugerah Izzati ##submission.copyrightStatement## 2022-06-21 2022-06-21 9 6 11 20 HUBUNGAN KEPERCAYAAN DIRI DENGAN REGULASI EMOSI PADA ATLET PENCAK SILAT PUSLATDA JAWA TIMUR https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/47002 <p>Abstrak<br>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepercayaan diri dengan regulasi emosi<br>pada atlet pencak silat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan subyek terdiri<br>dari 20 atlet pencak silat di Puslatda Jawa Timur. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala<br>kepercayaan diri dan skala regulasi emosi. Analisis data menggunakan teknik korelasi product<br>moment. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan nilai koefisien korelasi r=0,585 dengan taraf<br>signifikansi 0,000 (p&lt;0,05), artinya ada hubungan antara kepercayaan diri dengan regulasi emosi pada<br>atlet pencak silat Puslatda jawa Timur.<br>Kata kunci: atlet, pencak silat, kepercayaan diri, regulasi emosi.<br>Abstract<br>This study aims to determine the relationship between self-confidence and emotional regulation in<br>pencak silat athletes. This study used quantitative research methods with a subject consisting of 20<br>pencak silat athletes at East Java’s Puslatda. The research instrument used was a scale of selfconfidence<br>and a scale of emotional regulation, in analyzing the collected data using the product<br>moment correlation technique. The results of the research conducted showed the value of the<br>correlation coefficient r = 0.585 with a significance level of 0.000 (p &lt;0.05). Based on the results of<br>this analysis, it can be concluded that there is a relationship between self-confidence and emotional<br>regulation in pencak silat athletes of East Java’s Puslatda<br>Keywords: athletes, pencak silat, self-confidence, emotional regulation.<br>PENDAHULUAN<br>Undang-Undang Republik Indonesia nomor 11<br>tahun 2022 tentang Keolahragaan, membagi ruang<br>lingkup olahraga menjadi tiga jenis: olahraga<br>pendidikan, olahraga masyarakat, dan olahraga<br>prestasi. Penelitian ini difokuskan kepada olahraga<br>prestasi, dalam hal ini adalah pencak silat. Olahraga<br>prestasi dilakukan oleh setiap orang yang memiliki<br>bakat, kemampuan, dan potensi untuk mencapai<br>prestasi. Olaharaga prestasi dilaksanakan melalui<br>pembinaan dan pengembangan secara terencana,<br>sistematis, terpadu, berjenjang, dan berkelanjutan<br>dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi<br>keolahragaan. Perkumpulan olahraga pencak silat di<br>Indonesia diwadahi oleh IPSI (Ikatan Pencak Silat<br>Indonesia).<br>Pencak Silat adalah salah satu jenis olahraga<br>prestasi asli</p> Wahyu Octavianingrum Siti Ina Savira ##submission.copyrightStatement## 2022-06-21 2022-06-21 9 6 50 55 GAMBARAN REGULASI EMOSI PADA IBU DENGAN ANAK DISLEKSIA https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/47023 <p><strong>A</strong><strong>b</strong><strong>strak</strong></p> <p>Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengkaji proses dan faktor regulasi emosi seorang ibu yang memiliki seorang anak disleksia. Ketertarikan untuk meninjau persoalan ini didasari pada seorang ibu dengan anak disleksia &nbsp;yang&nbsp; mengalami &nbsp;gangguan &nbsp;kesehatan &nbsp;mental &nbsp;akibat &nbsp;kesulitan &nbsp;untuk &nbsp;melakukan &nbsp;regulasi emosinya. Seorang ibu memiliki peranan yang sangat penting dalam mengasuh, mendidik, dan merawat anak. Hal ini tidak mudah ditambah kondisi anak yang memiliki kebutuhan khusus salah satunya disleksia. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai referensi cara regulasi emosi pada ibu yang memiliki anak disleksia. Penelitian ini berupa penelitian kualitatif bermetodekan studi kasus dengan tiga partisipan. Studi kasus dipilih untuk dapat mendalami peneliti memilih pendekatan studi kasus dikarenakan memiliki potensi untuk membantu memberikan pemahaman secara mendalam mengenai gambaran regulasi emosi pada &nbsp;ibu &nbsp;dengan &nbsp;anak &nbsp;disleksia &nbsp;serta &nbsp;faktor &nbsp;yang&nbsp; mempengaruhinya. &nbsp;Berdasarkan &nbsp;latar &nbsp;belakang, wawancara, dan&nbsp; observasi maka diperoleh hasil analisis bahwasanya regulasi emosi ibu dengan anak disleksia melalui proses yang tidak mudah. Ketiga partisipan melewati tiga proses regulasi emosi yaitu <em>emotion monitoring, emotion evaluating</em>, dan <em>e</em><em>motion modification</em>. Regulasi emosi ibu dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu waktu dan usia, attachment ibu dengan anak, dan hubungan interpersonal ibu dengan keluarga inti atau orang lain.</p> <p>&nbsp;<strong>Kata Kunci: </strong>regulasi emosi, ibu, anak disleksia</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>A</strong><strong>b</strong><strong>stract</strong></p> <p><em>This study aims to examine the process and factors of emotional regulation of a mother who has a dyslexic child. Interest in reviewing this issue is based on a mother with a dyslexic child who has a mental health disorder due to difficulty in regulating her emotions. A mother has a very important role in nurturing, educating, and caring for children. This is not easy plus the condition of children who have special needs, one of which is dyslexia. This research is expected to be useful as a reference for how to regulate emotions in mothers who have dyslexic children.&nbsp; This research is in the form of qualitative research coded case studies with three participants. Case studies are chosen to be able to explore researchers choosing a case study approach because it has the potential to help provide an in- depth understanding of the picture of emotion regulation in mothers with dyslexic children and the factors that influence&nbsp; it. Based on the background, interviews, &nbsp;and obeservation the results of the analysis obtained that the regulation of the emotions of mothers with dyslexic children through a process that is not easy. The three participants went through three emotional regulation processes, namely emotion monitoring, emotion evaluating,&nbsp; and emotion modification. Maternal emotion regulation is influenced by several factors, namely time and age, maternal attachment to the child, and the mother's interpersonal relationship with the nuclear family or others.</em></p> <p>&nbsp;<strong><em>Keywords: </em></strong><em>emotion regulation, mother, dyslexic child</em></p> Zahrotin Nisail Islamiyah Riza Noviana Khoirunnisa ##submission.copyrightStatement## 2022-06-21 2022-06-21 9 6 34 58 POLA ASUH ORANGTUA SISWA BERPRESTASI NON-AKADEMIK https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/47433 <p>Abstrak<br>Siswa ialah individu yang terdaftar dalam lembaga pendidikan yang ingin mengembangkan suatu potensi akademik dan non akademik. Prestasi non akademik yang dilakukan oleh siswa adalah untuk melengkapi kebutuhan siswa dalam mengembangkan hobi, bakat, dan minat siswa. Orang tua berperan sebagai pendidik pertama bagi seorang anak. Pola asuh yang diberikan oleh orang tua kepada anak akan memberikan suatu proses dalam segala kegiatan anak termasuk prestasi anak. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pola asuh seperti apa yang diberikan kepada anak yang memiliki prestasi di bidang non akademik. Metode pengumpulan data ada penelitian ini ialah metode kualitatif fenomenologi melalui wawancara semi struktur. Menggunakan metode fenomenologi, sehingga analisisnya berupa Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Penelitian ini dapat diuji dengan keabsahan kredibilitas dengan menggunakan teknik member check. Subyek pada penelitian ini berjumlah 3 orang partisipan dengan masing-masing partisipan memiliki prestasi non akademik dibilang olahraga. Dalam penelitian ini menemukan tiga tema induk yakni penerapan pola asuh, bentuk dukungan orang tua, dan perilaku dan sikap anak terhadap pola asuh yang diterapkan. Dari ciri-ciri keempat pola asuh yang ada, orang tua ketiga subjek siswa berprestasi non akademik menerapkan pola asuh demokratis. Orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis membuat anak yang memiliki segudang prestasi non-akademik dapat mengendalikan diri dan stress dengan baik selama latihan dan selama pertandingan, serta ceria dan memiliki hubungan erat dengan orang tua.<br>Kata Kunci : Siswa, prestasi non-akademik, pola asuh orangtua<br>Abstract<br>Children who wants to develop an academic and non-academic potential by registering in educational institutions are also known as students. The non-academic achievements is used for complementing students' needs in order to develop hobbies, talents, and interest. Parents have the biggest role to be the main and first educators for a child. Parenting style will provide a process in children's activities including children's achievement. This research aimed to get a better understanding about parenting style which given to the children who have achivements in non-academic fields. The data collecting method that used in this research is qualitative with phenomenological approach through semi-structured interviews. Using the phenomenological method, with the result that formed interpretative Phenomenological Analysis (IPA). This research used member check as validity of credibility technique. This research contains of 3 participants with different non academic. From the characteristics of the four existing parenting styles, the parents of the three subjects of non-academic achievement students applied democratic parenting. Parents who apply democratic parenting make children who have a myriad of non-academic achievements able to control themselves and stress well during practice and during matches, as well as cheerful and have a close relationship with their parents.<br>Keyword : Students, non-academic achievement, parenting style</p> Erlina Batari Siti Ina Savira ##submission.copyrightStatement## 2022-06-21 2022-06-21 9 6 133 146 HUBUNGAN ANTARA PERCEIVED RISK DENGAN KEPUTUSAN PEMBELIAN PENGGUNA PRODUK NATURAL SKINCARE X https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/47309 <p>Abstrak<br>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perceived risk dan keputusan pembelian pengguna produk natural skincare X. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain analisis korelasional. Sampel penelitian yang digunakan sebanyak 90 subjek berdasarkan teknik purposive-sampling dengan kriteria subjek yakni mahasiswa Universitas Negeri Surabaya pengguna produk natural skincare X dan pernah melakukan pembelian produk minimal 1 kali. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang berisikan skala perceived risk dan skala keputusan pembelian. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan metode uji korelasi product moment dengan bantuan SPSS 26 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara perceived risk dengan keputusan pembelian pada pengguna natural skincare X dengan nilai signifikansi sebesar 0.000 dan nilai koefisien korelasi sebesar -0.562. Nilai tersebut menunjukkan bahwa dua variabel memiliki arah hubungan yang negatif sehingga semakin tinggi perceived risk yang dirasakan konsumen maka semakin rendah keputusan pembelian pada produk natural skincare X.<br>Kata Kunci: perceived risk, keputusan pembelian, natural skincare.<br>Abstract<br>This research aims to determine the relationship between perceived risk and consumers purchasing decision of natural skincare x product. This research method is quantitative with correlational design. The research sample used was 90 subjects based on the purposive-sampling technique with subject criteria, namely Surabaya State University students who used natural skincare X products and had purchased the product at least 1 time. Data collection using a perceived risk scale and the purchased decision scale. The data analysis technique used product moment correlational test method with the help of SPSS 26 for windows. The result of this study indicates that there is a significant relationship between perceived risk and purchasing decision on natural skincare users with a significant score of 0.000 and correlation score of -0.562. The results of data correlation analysis showed a negative correlation between the two variables, the higher the perceived risk perceived by consumers, the lower the purchase decision on the product natural skincare X.<br>Keywords: perceived risk, purchasing decision, natural skincare.</p> Aprilia Brilianti Putri Meita Santi Budiani ##submission.copyrightStatement## 2022-06-21 2022-06-21 9 6 109 121 HUBUNGAN ANTARA FEAR OF COVID-19 DENGAN KEPUASAN KERJA PEGAWAI DIVISI TRANSMISI DISTRIBUSI PERUSAHAAN X https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/47312 <p>Abstrak<br>Kepuasan kerja merupakan salah satu hal penting yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan produktivitas dan kinerja pegawai, sehingga pegawai dapat memberikan hasil kerja yang maksimal bagi perusahaan. Terutama di masa pandemi, pegawai yang melaksanakan work from office merasa takut untuk bekerja dan bertemu banyak orang, sehingga pelayanan yang diberikan kurang maksimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara Fear of Covid-19 dengan kepuasan kerja pegawai Divisi Transmisi Distribusi Perusahaan X. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh pegawai Divisi Transmisi Distribusi Perusahaan X dan Teknik penentuan sampel menggunakan sampling jenuh. Teknik pengumpulan data yaitu menggunakan kuisioner dengan skala Indonesian Version of the Fear of Covid-19 dan skala kepuasan kerja disusun berdasarkan aspek kepuasan kerja yang dikembangkan oleh Jewell dan Siegall. Uji Analisis dalam penelitian ini menggunakan korelasi pearson product moment dengan bantuan SPSS 25.0. Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar (r=-0,831) dengan taraf signifikansi 0,000 (p&lt;0,05) yang dapat diartikan bahwa terdapat hubungan negatif antara Fear of Covid-19 dengan kepuasan kerja pegawai divisi transmisi distribusi perusahaan X, sehingga apabila Fear of Covid-19 yang dirasakan pegawai divisi transmisi distribusi perusahaan X meningkat, dapat menurunkan kepuasan kerja pegawai. Sebaliknya, apabila Fear of Covid-19 yang dirasakan pegawai divisi transmisi distribusi perusahaan X menurun, dapat meningkatkan kepuasan kerja karyawan.<br>Kata Kunci: Fear of Covid-19, Kepuasan Kerja, Pegawai.<br>Abstract<br>Job satisfaction is one of the important things that need to be considered to increase employee productivity and performance, so that employees can provide maximum work results for the company. especially in a pandemic situation, employees who carry out work from office have a feeling of fear of meeting many people, so the services provided are not optimal. The purpose of this study was to determine the effect of Fear of Covid-19 on job satisfaction of distribution transmission division employees of company X. The population in this study were all employees of distribution transmission division of company X and The sampling technique uses saturated sampling. The data collection technique used a questionnaire with the Indonesian version of the Fear of Covid-19 scale and the job satisfaction scale based on job satisfaction aspects developed by Jewell and Siegall. Test Analysis in this study using Pearson product-moment correlation with the help of SPSS 25.0. The results of the hypothesis test show a correlation coefficient (r=-0.831) with a significance level of 0.000 (p&lt;0.05), it means that there is a negative relationship between Fear of Covid-19 and job satisfaction of employees of the distribution transmission division of company X, so if fear of Covid-19 felt by employees of the distribution transmission division of company X increased, will decreased employee job satisfaction. On the other hand, if fear of Covid-19 felt by employees of the distribution transmission division of company X decreased, will increased employee job satisfaction.<br>Keywords: Fear of Covid-19, Job Satisfaction, Employee.</p> Annisa Fadilla Izmi Ni Wayan Sukmawati Puspitadewi ##submission.copyrightStatement## 2022-06-21 2022-06-21 9 6 87 108 HUBUNGAN ANTARA PAPARAN MEDIA DENGAN BODY IMAGE PADA REMAJA PEREMPUAN https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/47316 <p>Abstrak<br>Masa remaja adalah masa yang krusial dalam proses pertumbuhan manusia. Di masa ini,&nbsp;individu mulai membentuk konsep dirinya. Salah satu aspek dari konsep diri tersebut adalah&nbsp;citra tubuh, yaitu representasi kognitif yang dimiliki seseorang mengenai tubuhnya. Ada banyak&nbsp;faktor yang dapat memengaruhi citra tubuh, salah satunya adalah paparan media. Tujuan dari&nbsp;penelitian ini adalah untuk meneliti korelasi antara paparan media dengan citra tubuh pada remaja perempuan. Dalam penelitian ini digunakan metode kuantitatif dengan desain korelasi.&nbsp;Subjek dari penelitian ini adalah remaja perempuan usia 13 hingga 17 tahun yang tinggal di&nbsp;DKI Jakarta. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner berisi skala paparan media&nbsp;dan body image yang disebarkan melalui google form. Skala paparan media disusun&nbsp;berdasarkan aspek yang dipaparkan Kevin dan Sari (2019) sedangkan skala body image disusun&nbsp;sesuai aspek dari Cash (2020). Korelasi antara kedua variabel diketahui dengan uji korelasi&nbsp;pearson product moment. Uji korelasi menunjukkan nilai signifikansi 0,138 yang berarti tidak&nbsp;ada hubungan antara paparan media dengan citra tubuh remaja perempuan. Tidak ditemukannya&nbsp;hubungan antara paparan media dengan body image pada penelitian ini disebabkan karena tidak&nbsp;adanya batasan pada jenis media dan konten yang dikonsumsi subjek, serta pengaruh perbedaan&nbsp;minat subjek.<br>Kata Kunci: paparan media, citra tubuh, remaja perempuan.</p> <p><br>Abstract<br>Adolescence is a crucial period in humans’ process of growth. At that period, the individual&nbsp;begins to form their self-concept. One aspect of the self-concept is body image, which is the&nbsp;cognitive representation that a person has about his or her body. There are many factors that&nbsp;affects body image, media exposure being one of them. The purpose of this study was to&nbsp;investigate the correlation between media exposure and body image in adolescent girls. This&nbsp;study used quantitative research methods. The subjects of this research were female adolescents&nbsp;aged 13 to 17 years old who lives in DKI Jakarta. Data were collected using a questionnaire&nbsp;containing scales of media exposure and body image that were spread through google form. The&nbsp;media exposure scale was constructed based on the aspects constructed by Kevin and Sari&nbsp;(2019), while the body image scale was constructed based on the aspects constructed by Cash&nbsp;(2020). The correlation between the variables was tested using the Pearson product moment and&nbsp;showed a significance value of 0.138, meaning that there is no relationship between media&nbsp;exposure and body image of female adolescents. No relationship was found between media&nbsp;exposure and body image in this study, because there were no restrictions on the type of media&nbsp;and content consumed by the subjects, as well as the effect of differences in subjects’ interests.&nbsp;<br>Keywords: media exposure, body image, female adolescents.</p> Maria Yori Edita Pamirma Yohana Wuri Satwika ##submission.copyrightStatement## 2022-06-21 2022-06-21 9 6 HUBUNGAN ANTARA SELF EFFICACY DENGAN STRES AKADEMIK PADA MAHASISWA YANG MENJALANI PERKULIAHAN HYBRID SAAT PANDEMI COVID-19 https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/47327 <p>Abstrak<br>Menurunnya kasus Covid-19 di Indonesia, membuah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia membuat kebijakan baru tentang pendidikan di Indonesia yaitu adanya hybrid learning. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara self efficacy dan stres akademik pada mahasiswa yang menjalani perkuliahan hybrid saat pandemi Covid-19. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa jurusan psikologi yang menjalanakan perkuliahan hybrid sejumlah 365 mahasiswa, dimana 61 mahasiswa digunakan untuk tryout dan 304 mahasiswa digunakan untuk pengambilan data penelitian. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis spearman rho dengan bantuan SPSS 26.0 for windows. Penelitian ini menunjukkan hasil korelasi sebesar -0.313. Hasil ini menunjukkan korelasi negatif yang berarti bahwa semakin rendah self efficacy maka semakin tinggi stres akademik mahasiswa. Hasil korelasi tersebut juga menunjukkan bahwa variabel self efficacy dan variabel stres akademik memiliki korelasi yang rendah.<br>Kata Kunci : self efficacy, stres akademi, hybrid.<br>Abstract<br>The decline in Covid-19 cases in Indonesia has prompted the Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia to formulate a new policy regarding education in Indonesia, namely the existence of hybrid learning. The purpose of this study was to determine the relationship between self-efficacy and academic stres in students undergoing hybrid lectures during the Covid-19 pandemi. This research was conducted on 365 students majoring in psychology who ran hybrid lectures, of which 61 students were used for tryouts and 304 students were used for research data collection. The analytical technique used in this research is spearman rho analysis with the help of SPSS 26.0 for Windows. This study shows a correlation of -0.313. This result shows a negative correlation, which means that the lower the self-efficacy, the higher the student's academic stres. The correlation results also show that the self-efficacy variable and the academic stres variable have a low correlation.<br>Keywords : self-efficacy, academic stres, hybrid</p> Elisa Noviana Riza Noviana Khoirunnisa ##submission.copyrightStatement## 2022-06-21 2022-06-21 9 6 199 208 HUBUNGAN ANTARA SELF-ESTEEM DENGAN KECENDERUNGAN BODY DYSMORPHIC DISORDER (BDD) PADA MAHASISWA https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/47317 <p>Abstrak<br>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan self-esteem dengan kecenderungan body dysmorphic disorder (BDD) pada mahasiswa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian kolerasional. Populasi dari penelitian ini adalah mahasiswa dengan status mahasiswa aktif dengan rentang usia 18 tahun sampai 22 tahun. Sampel diperoleh dari menggunakan metode accidental sampling, dengan partisipan penelitian yang berjumlah 214 orang mahasiswa yang berdomisili di Surabaya, Jawa Timur. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala self-esteem yang disusun berdasarkan Coopersmith (1967) dengan nilai reliabilitas sebesar 0,902. Skala self-esteem digunakan untuk mengungkapkan data self-esteem. Skala kecenderungan body dysmorphic disorder (BDD) yang disusun berdasarkan Phillips (2009) dengan nilai reliabilitas sebesar 0,904. Skala kecenderungan BDD digunakan untuk mengungkapkan data kecenderungan BDD. Hasil yang diperoleh dari analisis data menggunakan teknik pearson product moment dengan bantuan SPSS 22.0 for windows didapatkan nilai signifikasi sebesar 0,000 (Sig &lt;0,05). Nilai tersebut menunjukkan bahwa variabel self-esteem dengan kecenderungan body dysmorphic disorder (BDD) memiliki hubungan yang signifikan. Hasil koefisien kolerasi sebesar r=-0,586 (r hitung &gt; r tabel) yang dapat disimpulkan bahwa memiliki hubungan signifikan yang sedang dengan tanda negatif yang memiliki arti bahwa saat self-esteem tinggi maka kecenderungan body dysmorphic disorder (BDD) yang dimiliki pada mahasiswa rendah, sebaliknya apabila self-esteem yang dimiliki mahasiswa rendah maka kecenderungan mahasiswa untuk mempunyai kecenderungan body dysmorphic disorder (BDD) akan meningkat/tinggi.<br>Kata Kunci: self-esteem, kecenderungan body dysmorphic disorder, mahasiswa.<br>Abstract<br>This study aims to determine relationship between self-esteem and tendency of body dysmorphic disorder (BDD) in college students. This study uses quantitative research methods with the type of correlational research. The population of this study were students with active student status and an age range of 18 years to 22 years. The sample was obtained using the accidental sampling method, with research participants totaling 214 students who live in Surabaya, East Java. The instrument used in this study was a self-esteem scale based on Coopersmith (1967) with a reliability value of 0.902. The self-esteem scale is used to disclose of self-esteem data. The body dysmorphic disorder (BDD) tendency scale was compiled based on Phillips (2009) with a reliability value of 0.904. The BDD trend scale is used to disclose the tendency of BDD trend data. The results obtained from data analysis using the Pearson product moment technique with the help of SPSS 22.0 for windows obtained a significance value of 0.000 (Sig &lt;0.05). This value indicates that the self-esteem variable with a tendency to body dysmorphic disorder (BDD) has a significant relationship. The results of the correlation coefficient of r=-0.586 (r count &gt; r table) which can be concluded that having a significant moderate relationship and with a negative sign means that when self-esteem is high, the tendency of body dysmorphic disorder (BDD) in students is low, on the contrary, if student’s self-esteem is low, the tendency to have body dysmorphic disorder (BDD) will increase/higher.<br>Keywords: self-esteem, body dysmorphic disorder tendency, college student.</p> Anggun Zoraya Br Sinaga Yohana Wuri Satwika ##submission.copyrightStatement## 2022-06-21 2022-06-21 9 6 174 185 STUDI FENOMENOLOGI: DAMPAK APLIKASI TIKTOK TERHADAP REMAJA AKHIR SHOPEE AFFILIATES https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/47319 <p>Abstrak<br>Penelitian ini memiliki tujuan untuk melihat dampak dari aplikasi Tiktok pada remaja khususnya yang terdaftar sebagai Shopee affiliates. Terdapat empat orang subjek dalam penelitian ini yang akan diwawancarai dengan pendekatan fenomenologi. Berdasarkan tujuan dan hasil analisis atas wawancara yang telah dilakukan maka simpulan penelitian ini adalah aplikasi Tiktok membawa dampak positif dan negatif kepada remaja yang tergabung dalam Shopee affiliates. Dampak positifnya adalah luasnya jangkauan pengguna maupun konten, isi konten yang mayoritas bermanfaat dalam keseharian, dan dapat menjadi sarana promosi serta sesuai dengan yang sedang viral. Sedangkan untuk dampak negatifnya adalah algoritma Tiktok yang tidak jelas, adanya hate comment, sehingga menimbulkan perasaan-perasaan negatif. Self control dan menjauhi permasalahan adalah mekanisme pertahanan diri yang dilakukan keempat subjek.<br>Kata Kunci: aplikasi Tiktok, remaja akhir, shopee affiliates.<br>Abstract<br>This study aims to see the impact of the Tiktok application on teenagers, especially those who are registered as Shopee affiliates. There are four subjects in this study which will be interviewed using a phenomenological approach. Based on the objectives and results of the analysis of the interviews that have been conducted, this study concludes that the Tiktok application has a positive and negative impact on teenagers who are members of Shopee affiliates. The positive impact is the broad reach of users and content, which is primarily helpful in daily life and can be a means of promotion according to what is currently viral. As for the negative impact, the Tiktok algorithm is not straightforward. There are hate comments, causing negative feelings. Self-control and staying away from problems are self-defense mechanisms that the four subjects do.<br>Keywords: Tiktok application, late teens, shop affiliates.</p> Nadila Trisukma Devi Yohana Wuri Satwika ##submission.copyrightStatement## 2022-06-21 2022-06-21 9 6 209 220 HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI DUKUNGAN ORGANISASI DENGAN PERILAKU INOVATIF PADA GURU https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/47315 <p>Abstrak<br>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi dukungan organisasi dengan perilaku inovatif pada guru. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif korelasional. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampel jenuh dimana seluruh populasi menjadi partisipan penelitian, dengan total 36 guru. Data dalam penelitian dikumpulkan dengan menggunakan skala persepsi dukungan organisasi dan skala perilaku inovatif yang dengan menggunakan skala Likert. Teknik analisis data menggunakan analisis korelasi Pearson product moment untuk mengetahui hubungan antara variabel X dengan variabel Y dengan bantuan program SPSS 25 for windows. Hasil dari analisis data menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi dukungan organisasi dan perilaku inovatif pada guru, dengan nilai signifikansi yaitu 0,000 (p&lt;0,05) dan nilai korelasi pearson yaitu 0,645. Hal ini juga menunjukkan bahwa hubungan antara persepsi dukungan organisasi dan perilaku inovatif pada guru adalah hubungan yang kuat dan positif. Semakin tinggi persepsi dukungan organisasi, maka semakin tinggi perilaku inovatif pada guru.<br>Kata Kunci: persepsi dukungan organisasi, perilaku inovatif, guru<br>Abstract<br>This study aimed to determine the relationship between perceived organizational support and innovative behavior on teachers. This study used correlational quantitative research method. The sampling method in this study used a saturated sampling technique where the entire population became research participants, with a total of 36 teachers. The research data were collected using a perceived organizational support scale and innovative behavior scale which is a Likert scale. The data analysis technique used Pearson product moment correlation analysis to determine the relationship between two variables using SPSS 25 for windows software. The results of the data analysis showed that there was a significant relationship between perceived organizational support and innovative behavior in teachers at educational institute X, with a significance value of 0.000 (p &lt;0.05) and a Pearson correlation value of 0.645. These results also showed that the relationship between perceived organizational support and innovative behavior on teachers of educational institute X is a strong and positive relationship. The higher the perceived organizational support, the higher the innovative behavior on teachers of educational institute X.<br>Keywords: perceived organizational support, innovative behavior, teachers</p> Anastasya Trisnaning Putri Umi Anugerah Izzati ##submission.copyrightStatement## 2022-06-21 2022-06-21 9 6 84 96 BURNOUT AKADEMIK PADA MAHASISWA YANG SEDANG MENEMPUH TUGAS AKHIR https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/47320 <p>Abstrak<br>Menyelesaikan tugas akhir untuk mahasiswa dapat menimbulkan burnout karena berbagai tantangan dan kesulitan yang dihadapi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dinamika faktor-faktor burnout pada mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Surabaya yang menyelesaikan tugas akhir artikel ilmiah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek sebanyak empat orang yang masing -masing berusia 21 hingga 22 tahun. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara semi terstruktur, analisis data menggunakan teknik analisis data model Miles, Huberman, dan Saldana, dengan menganalisis data hasil wawancara yang selanjutnya dilakukan proses interpretasi data. Hasil dari penelitian ini memperoleh tiga tema besar yaitu penyebab terjadinya burnout, akibat dari burnout, dan cara mengatasi burnout. Penyebab terjadi burnout pada keempat subjek antara lain adalah relasi yang kurang baik dengan dosen, kurangnya penghargaan, work overload, dan merasakan ketidakadilan. Dari faktor penyebab tersebut kemudian burnout akademik berdampak pada mental dan keseharian dari setiap mahasiswa. Untuk menghindari dari burnout, subjek melakukan pendekatan baik melalui pendekatan internal maupun eksternal.<br>Kata Kunci: Burnout, Faktor Burnout, Dampak Burnout<br>Abstract<br>Completing final assignments for students can cause burnout due to the various challenges and difficulties they face. The purpose of this study was to determine the dynamics of burnout factors in Psychology students at the State University of Surabaya who completed the final project of a scientific article. This study uses a qualitative method with a case study approach. The subjects were four people, each aged 21 to 22 years. Data collection techniques were carried out by semi-structured interviews, data analysis using data analysis techniques from the Miles, Huberman, and Saldana models, by analyzing the data from interviews which were then carried out by the data interpretation process. The results of this study obtained three major themes, namely the causes of burnout, the consequences of burnout, and how to overcome burnout. The causes of burnout in the four subjects include poor relations with lecturers, lack of appreciation, work overload, and feeling of injustice. From these factors, academic burnout has an impact on the mental and daily life of every student. To avoid burnout, the subject approaches both internally and externally.<br>Keywords: Burnout, Burnout Factor, Burnout Impact</p> Muhamad Sani Rosyad Hasbillah Diana Rahmasari ##submission.copyrightStatement## 2022-06-21 2022-06-21 9 6 122 132 DAMPAK SIBLING RIVALRY PADA REMAJA KEMBAR https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/47432 <p>Abstrak<br>Kehidupan anak kembar merupakan hal yang menarik untuk diteliti, termasuk dalam hal sibling rivalry atau biasa disebut sebagai persaingan antar saudara. Terlebih apabila hal tersebut terjadi pada saudara yang kembar identik, dengan usia yang sama, jenis kelamin yang sama dan memiliki kemiripan pada wajah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dampak sibling rivalry terhadap perkembangan emosi remaja kembar identik. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara semi-terstruktur. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 10 orang atau 5 pasang remaja kembar dengan ketentuan seorang remaja kembar secara identik yang berusia 16 sampai 19 tahun. Teknik analisis data penelitian menggunakan IPA (Interpretative Phenomenological Analysis). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka diperoleh hasil bahwa bentuk sibling rivalry dapat dijelaskan melalui pola asuh orang tua, hubungan dengan saudara kembar, dan lingkungan sosial. Sibling rivalry sesekali muncul diantara anak kembar seperti pada saat ingin bersaing untuk menunjukkan siapa yang lebih unggul, namun hal tersebut tidak berlangsung lama. Dampak dari sibling rivalry yang mengarah pada perkembangan emosional yaitu secara positif dapat ditunjukkan dari rendahnya sibling rivalry seperti pada saudara kembar yang merasa bahwa perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh orang tua telah melimpah dan adil. Selain itu, perkembangan emosi positif juga dimunculkan melalui saling memahami antar saudara kembar.<br>Kata Kunci: remaja kembar, sibling rivalry, perkembangan emosi.<br>Abstract<br>The life of twins is an interesting thing to study, including the competition between siblings. Especially if it happens to an identical sibling, of the same age, the same gender and has a similarity to the face. This study aims to determine how the impact of sibling rivalry on the emotional development of identical twins adolescents. The approach used in this research is a qualitative approach with a phenomenological method. The data collection technique used is semi-structured interview. Participants in this study found 10 people or 5 pairs of teenage twins with the provision of identical twins aged 16 to 19 years. The research data analysis technique uses IPA (Interpretative Phenomenological Analysis). Based on the research that has been done, it is obtained that the form of sibling rivalry can be explained through parenting patterns, relationships with twins, and social environment. Sibling rivalry arose between the twins as when competing to show who was superior, but it didn't last long. The impact of sibling rivalry that leads to emotional development can be positively demonstrated by the low level of sibling rivalry as in twins who feel that the attention and affection given by parents is abundant and fair. In addition, the development of positive emotions is also raised through mutual understanding between twins.<br>Keywords: twins, sibling rivalry, emotional development.</p> Yustika Dwi Rahayu . Satiningsih ##submission.copyrightStatement## 2022-06-21 2022-06-21 9 6 209 221 GAMBARAN RESILIENSI PEREMPUAN DEWASA AWAL YANG MENGALAMI KEGAGALAN MENUJU HUBUNGAN PERNIKAHAN https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/47434 <p>Abstrak<br>Memilih teman hidup dan membentuk sebuah keluarga merupakan salah satu tugas perkembangan bagi dewasa awal yang dapat dilakukan dengan adanya pertunangan, namun kesulitan maupun kegagalan bisa saja dialami oleh setiap individu misalnya Putri yang pernah mengalami kegagalan secara berturut-turut dalam menjalin hubungan menuju pernikahan. Individu dewasa awal diharapkan dapat mengetahui pentingnya memiliki kemampuan resiliensi dengan baik, agar dapat menghadapi peristiwa tidak terduga seperti adanya kegagalan hubungan menuju pernikahan, sehinga tugas perkembangan yang dijalani akan berjalan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran resiliensi pada perempuan dewasa awal yang mengalami kegagalan menuju hubungan pernikahan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus intrinsik yang berfokus pada permasalah kegagalan hubungan yang dialami oleh subjek. Data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur dan observasi. Teknik analisa data dengan melakukan analisis tematik dan triangulasi sebagai uji keabsahan. Hasil penelitian menunjukkan gambaran dan faktor-faktor yang mempengaruhi resiliensi pada subjek, antara lain gambaran resiliensi yang meliputi regulasi emosi, optimisme, kemampuan analisis masalah, empati, efikasi diri, serta pencapaian. Faktor-faktor yang mempengaruhi resiliensi meliputi faktor internal yang berasal dari efikasi diri dan faktor eksternal yang berasal dari dukungan sosial.<br>Kata Kunci: resiliensi, dewasa awal, pernikahan.<br>Abstract<br>Choosing a life partner and forming a family is one of the developmental tasks for early adulthood that can be done with an engagement, but difficulties and failures can be experienced by every individiual, for example Putri who has experienced successive failure in a relationship leading to marriage. Early adult individuals are expected to know the importance of having good resilience skills, in order to be able to deal with unexpected event such as a failed relationship leading to marriage, so that developmental tasks are carried out well. This study aims to determine the description of resilience in early aduls women who experience failure towards marriage relationship. This study uses a qualitative method with an intrinsic case study approach that focuses on the problem of relationship failure experienced by the subject. Data were collected through semi-structured interviews and observation. Data analysis technique by doing thematic analysis and triangulation as a test of validity. The results of the study show an overview and factors that influence resilience in the subject, including a picture of resilience which includes emotion regulation, optimism, problem analysis skills, empathy, self-efficacy, and achievement. Factors that influence resilience include internal factors originating from self-efficacy and external factors originating from social support.<br>Keywords: resilience, early adulthood, marriage.</p> Pipit Yussi Tamiah Widiyawati Damajanti Kusuma Dewi ##submission.copyrightStatement## 2022-06-21 2022-06-21 9 6 161 173 RESILIENSI PADA WANITA DEWASA AWAL SETELAH KEMATIAN PASANGAN https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/47435 <p>Abstrak <br>Resiliensi merupakan kemampuan yang dimiliki oleh individu dalam beradaptasi, bangkit, serta bertahan dari keadaan menderita atau memilik permasalahan, yang mana hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk bangkit. Penelitian ini memiliki tujuan, untuk mengetahui proses tercapainya resiliensi yang dilalui oleh wanita yang ditinggalkan pasangannya dalam menjalani kehidupannya. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus sebagai. Penelitian ini memiliki tiga subjek dengan kriteria wanita diusia dewasa awal berusia 20-40 tahun yang ditinggal meninggal oleh pasangannya karena sakit. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara semi terstruktur dengan teknik analisis data menggunakan data tematik. Uji keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan member checking. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini memunculkan dua tema utama yaitu latar belakang keluarga dan gambaran resiliensi atau proses tercapainya resiliensi yang dilakukan oleh partisipan. Perilaku resilien bisa muncul ketika terdapatnya kemauan, dukungan, serta pendorong dari dalam diri dan lingkungan yang positif. Individu bisa dikatakan resilien ketika ia mampu bertahan dan kembali bangkit dari keadaan terpuruknya. Kata kunci: resiliensi, wanita dewasa awal, kematian pasangan <br>Abstract <br>Resilience is the ability possessed by individuals to adapt, rise, and survive from suffering or having problems, which can only rely on themselves to rise. This study has a purpose, to determine the process of achieving resilience that is passed by women who are abandoned by their partners in living their lives. The type of research used is qualitative research with a case study approach. This study had three subjects with criteria for women in early adulthood aged 20-40 years who were left behind by their partners due to illness. The data collection technique used is semi-structured interviews with data analysis techniques using thematic data. Test the validity of the data in this study using member checking. The results obtained from this study raise two main themes, namely family background and a picture of resilience or the process of achieving resilience carried out by participants. Resilience behavior can emerge when there is a will, support, and encouragement from within and a positive environment. Individuals can be said to be resilient when they are able to survive and bounce back from their slump. <br>Keywords: resilience, early adulthood, spouse death</p> Dyah Reza Aini Yohana Wuri Satwika ##submission.copyrightStatement## 2022-06-21 2022-06-21 9 6 186 198 RESILIENSI PADA REMAJA KORBAN PERCERAIAN ORANG TUA https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/47436 <p>Abstrak<br>Perceraian orang tua memberikan dampak terhadap perkembangan kemampuan resiliensi anak. Kemampuan resiliensi penting dimiliki oleh remaja agar remaja yang mengalami keterpurukan dapat bangkit dan melakukan upaya yang positif dalam penyelesaian masalahnya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran dan faktor yang mempengaruhi kemampuan resiliensi pada remaja korban perceraian orang tua. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek terdiri dari dua orang yang memiliki usia 20-21 yang telah menjadi korban perceraian. Pengambilan data menggunakan teknik wawancara. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan ditemukan hasil bahwa kedua subjek memiliki kemampuan resiliensi yang berbeda. Subjek Budi memiliki kemampuan resiliensi yang lebih baik dikarenakan masih adanya dukungan dari orang terdekat sehingga dapat membantu mengembangkan kemampuan resiliensi yang ada pada dirinya, yaitu subjek menjadi lebih mandiri dan menerima keadaan. Sedangkan subjek Cantik memiliki kemampuan resiliensi yang kurang baik karena subjek masih merasa pesimis, ragu akan masa depan, dan trauma terhadap pernikahan yang menyebabkan dirinya ragu akan keberhasilan suatu pernikahan.<br>Kata Kunci: perceraian orang tua, resiliensi, remaja<br>Abstract<br>Parental divorce has an impact on the development of children's resilience abilities. It is important for adolescents to have resilience abilities so that adolescents who experience adversity can rise up and make positive efforts in solving problems. The purpose of this study was to determine the description and factors that influence the ability of resilience in adolescent victims of parental divorce. The method used in this research is qualitative with a case study approach. The subjects are 20-21 years old who had become victims of divorce. Data were collected using interview techniques. Based on the research that has been done, it was found that the two subjects had different resilience abilities. Budi subjects have better resilience abilities because there is still support from the closest people so that they can help develop the resilience abilities that exist in themselves, namely the subject becomes more independent and accepts the situation. While Cantik has poor resilience because the subject still feels pessimistic, doubts about the future, and is traumatized by marriage which causes him to doubt the success of a marriage.<br>Keywords: Parental divorce, resilience, adolescene.</p> Talenta Adiyanti Putri Riza Noviana Khoirunnisa ##submission.copyrightStatement## 2022-06-21 2022-06-21 9 6 147 160