Jurnal Inovasi Fisika Indonesia (IFI) https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/inovasi-fisika-indonesia <p>Jurnal Online Program Studi S-1 Fisika - Fakultas MIPA UNESA.</p> <p>Jurnal Inovasi Fisika Indonesia(IFI) merupakan jurnal peer-reviewed,&nbsp;<strong>p-ISSN&nbsp;2302-4216, e-ISSN 2830-1765</strong><strong>&nbsp;</strong>&nbsp;yang dikelola dan diterbitkan oleh Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Jurnal ini tersedia gratis untuk seluruh pembaca dan mencakup perkembangan dan penelitian dalam bidang&nbsp;<strong>fisika (Fisika Material, Fisika Kebumian dan Fisika Instrumentasi).</strong></p> en-US kholiq@unesa.ac.id (Abd. Kholiq) kholiq@unesa.ac.id (Abd. Kholiq) Tue, 05 Jul 2022 00:00:00 +0000 OJS 3.1.1.0 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 KARAKTERISTIK ANTIMIKROBA NANOFIBER PVA/GELATIN SEBAGAI PENUTUP LUKA https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/inovasi-fisika-indonesia/article/view/47840 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Mikroorganisme yang terpapar ke permukaan menyebabkan perlu adanya pengembangan berupa agen antimikroba berbasis nanofiber. Nanofiber banyak diaplikasikan pada produk biomedis salah satunya sebagai penutup luka. Nanofiber yang dihasilkan dari larutan <em>polyvinyl alcohol</em> (PVA) dan gelatin dengan proses elektrospinning. Serat tersebut dilakukan variasi tegangan sebesar 17 kV, 20 kV, dan 23 kV. Dikarakterisasi dengan mikroskop optik, SEM, EDX, FTIR, UV-Vis, dan aktivitas antimikroba. Ukuran diameter nanofiber yang diukur dengan mikroskop optik menurun seiring bertambahnya tegangan. Spektroskopi UV-Vis menunjukkan nanofiber berbahan PVA/Gelatin menghasilkan nanofiber yang memiliki absorbansi tinggi seiring penambahan daya radiasi UV yang diberikan. Spektrum FTIR dengan rentang gelombang 400-4000 cm<sup>-1</sup> menunjukkan gugus fungsi yang terlihat yaitu, O-H <em>stretching</em>, C-H<em> stretching</em>, C-O <em>stretching</em>, C=O <em>stretching</em> dan C-H <em>bending</em>. Morfologi dan distribusi PVA/Gelatin ditunjukkan oleh SEM dengan diameter berkisar 140 – 160 nm, dengan unsur yang terdapat pada spektrum EDX yaitu C, O, dan N masing-masing 29,96%, 8,76%, dan 61,28%. Aktivitas antimikroba efektif hingga 47,5% dan efisien sampai dengan 2 jam. Sehingga nanofiber PVA/Gelatin dapat dijadikan acuan biomaterial sebagai penutup luka.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Nanofiber, PVA, Gelatin, antimikroba</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstract</strong></p> <p>Microorganisms exposed to the surface cause the need for the development of nanofiber-based antimicrobial agents. Nanofiber is widely applied to biomedical products, one of which is as a wound dressing. Nanofiber produced from a solution of polyvinyl alcohol (PVA) and gelatin with an electrospinning process. The fiber is subjected to voltage variations of 17 kV, 20 kV, and 23 kV. Characterized by optical microscopy, SEM, EDX, FTIR, UV-Vis, and antimicrobial activity. The size of the nanofiber diameter as measured by optical microscopy decreased with increasing stress. UV-Vis spectroscopy showed that nanofibers made from PVA/Gelatin produced nanofibers with high absorbance as the UV radiation power was added. The FTIR spectrum with a wave range of 400-4000 cm-1 shows visible functional groups, namely, O-H stretching, C-H stretching, C-O stretching, C=O stretching and C-H bending. The morphology and distribution of PVA/Gelatin was shown by SEM with diameters ranging from 140 – 160 nm, with elements contained in the EDX spectrum namely C, O, and N respectively 29.96%, 8.76%, and 61.28%. Effective antimicrobial activity up to 47.5% and efficient up to 2 hours. So that PVA/Gelatin nanofibers can be used as a reference for biomaterials as wound dressings.</p> <p><strong>Keywords</strong>: Nanofiber, PVA, Gelatin, antimicrobial</p> Musyarofah Dwi Nur Laily, Diah Hari Kusumawati ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/inovasi-fisika-indonesia/article/view/47840 Wed, 06 Jul 2022 04:56:10 +0000 Nanofiber PVA/Kitosan Sebagai Wound Dressing https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/inovasi-fisika-indonesia/article/view/48087 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Nanoteknologi adalah ilmu pengetahuan yang mengalami perkembangan pesat, salah satunya dibidang <em>nanofiber</em>. Dalam bidang kesehatan <em>nanofiber </em>dapat diaplikasikan sebagai <em>wound dressing</em>. PVA dapat diaplikasikan sebagai <em>wound dressing </em>karena sifatnya yang tidak beracun, namun PVA memiliki kelemahan yakni hidrofisilitas yang tinggi sehingga mempengaruhi sifat mekanik dari PVA. Oleh sebab itu PVA perlu dikompositkan dengan polimer lain yaitu kitosan. Kitosan digunakan untuk meningkatkan viskositas dan memiliki karakteristik yakni sifat biokompatibel dan antimikroba. Pembuatan komposit <em>nanofiber </em>PVA/Kitosan dilakukan dengan menggunakan metode elektrospinning. Kemudian <em>nanofiber </em>&nbsp;dikarakterisasi menggunakan <em>Fourier Transform Infrared Spectroscopy </em>(FTIR), <em>UV</em> <em>Vis Spectroscopy, Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive X-Ray </em>(SEM), <em>Energy Dispersive X-Ray </em>(EDX), <em>Antibacterial </em>Assay. Nanofiber yang dihasilkan dari proses elektrospinning menunjukkan komposit <em>nanofiber </em>PVA/Kitosan pada tegangan 21 kV memiiliki nilai absorbansi yang tinggi dengan rentang panjang gelombang 200-300 nm. Komposit <em>nanofiber </em>menunjukkan bahwa terdapat kandungan gugus fungsi dari PVA dan komposit <em>nanofiber </em>PVA/Kitosan. <em>Nanofiber </em>PVA/Kitosan pada tegangan 21 kV dapat digunakan sebagai <em>wound dressing</em>, hal ini dikarenakan ukuran diameter dari <em>fibers </em>yaitu sebesar 130,1 nm, homogen, rapat, serta permukaan halus tanpa <em>beads </em>berdasarkan karakterisasi SEM. Komposit <em>nanofiber </em>PVA/Kitosan efektif digunakan sebagai <em>wound dressing</em> yakni pada waktu inkubasi jam ke-3 dengan efisiensi 78,8% berdasarkan uji antibakteri yang telah dilakukan.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>PVA, kitosan, <em>nanofiber</em>, elektrospinning, <em>wound dressing</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstract</strong></p> <p>Nanotechnology is a science that is experiencing rapid development, one of which is in the field of nanofibers. In the health sector, nanofiber can be applied as a wound dressing. PVA can be applied as a wound dressing because it is non-toxic, but PVA has the disadvantage of high hydrophilicity, whic affects the mechanical properties of PVA. Therefore, PVA needs to be composed with other polymers, namely chitosan. Chitosan is used to increase viscosity and has the characteristics of being biocompatible and antimicrobial. The manufacture of PVA/Chitosan nanofiber composites was carried out using the electrospinning method. Then the nanofibers were characterized using Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), Uv Vis Spectroscopy, Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive X-Ray (SEM), Energy Dispersive X-Ray (EDX). voltage 21 kV has a high absorbance value with a wavelength range of 200-300 nm. The nanofiber composites showed that there was a functional group content of PVA and PVA/Chitosan nanofiber composites. PVA/chitosan nanofibers at a voltage of 21 kV can be used as wound dressings, this is because the diameter of the fibers is 130.1 nm, homogeneous, tight, and has a smooth surface without beads based on SEM characterization. PVA/Chitosan nanofiber composites was effeectively used as a wound dressing, namely at the incubation time of 3 hours with an efficiency of 78,8% based on the antibacterial test that had been carried out.</p> <p><strong>Keywords</strong>: PVA, chitosan, nanofiber, electrospinning, wound dressing</p> <p>&nbsp;</p> Indah Yuliani, Diah Hari Kusumawati ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/inovasi-fisika-indonesia/article/view/48087 Fri, 08 Jul 2022 05:32:10 +0000 FABRIKASI DAN KARAKTERISASI NANOFIBER PVA/PVP/KITOSAN SEBAGAI BAHAN DASAR WOUND DRESSING https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/inovasi-fisika-indonesia/article/view/48235 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Elektrospinning adalah metode yang digunakan untuk menghasilkan serat dengan ukuran diameter dari nanometer hingga mikrometer. Nanofiber yang dihasilkan dapat diaplikasikan sebagai rekayasa jaringan, penghantaran obat pada antikanker, kosmetik, dan sebagai <em>wound dressing</em>. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fabrikasi nanofiber PVA/PVP/Kitosan dapat dijadikan sebagai bahan dasar <em>wound dressing</em>. Fabrikasi nanofiber tersebut dilakukan dengan menggunakan metode elektrospinning. Parameter proses elektrospinning menggunakan laju alir 1 ml/jam, jarak jarum antar kolektor sejauh 15 cm, serta variasi tegangan sebesar 15 kV, 18 kV, dan 21 kV. Hasil yang didapatkan akan dikarakterisasi menggunakan MO, UV-Vis, FT-IR, SEM-EDX, dan antibakteri. Berdasarkan hasil karakterisasi MO menunjukkan bahwa semakin tinggi tegangan yang disuplai antara drum kolektor dan jarum, maka ukuran diameter nanofiber tersebut semakin kecil. Hasil Uv-Vis menunjukkan bahwa fabrikasi ini mampu menyerap cairan yang berasal dari cairan pada luka dan cairan disekitar luka. &nbsp;Hasil FTIR diperoleh gugus fungsi O-H <em>stretch</em> pada puncak serapan PVA, gugus fungsi N-H <em>bend</em> pada puncak serapan kitosan dan gugus fungsi C-O <em>stretch</em> pada puncak serapan PVP. Karakterisasi SEM menunjukkan bentuk morfologi permukaan yang halus dan ukuran diameter serat pada PVA 10% sekitar 210-225 nm mengalami penurunan pada PVA/PVP/Kitosan 18 kV sekitar 170-195 nm. Hasil EDX menunjukkan bahwa material pembentuk polimer PVA, PVP, dan kitosan terdapat pada fabrikasi nanofiber ini. Hasil antibakteri pada sampel PVA/PVP/Kitosan tegangan 18 kV menggunakan bakteri <em>S.aereus</em> dengan konsentrasi 100 µl/ml menghasilkan efisiensi antibakteri tertinggi sebesar 56,8% dalam waktu inkubasi 3 jam.</p> <p>&nbsp;<strong>Kata Kunci: </strong>Elektrospinning, Nanofiber, <em>Wound Dressing</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstract</strong></p> <p>Electrospinning is a method used to produce fibers with diameters from nanometers to micrometers. The resulting nanofibers can be applied as tissue engineering, drug delivery in anticancer, cosmetics, and as wound dressings. This study aims to determine the fabrication of PVA/PVP/Chitosan nanofibers that can be used as a basic material for wound dressings. The nanofiber fabrication was carried out using the electrospinning method. The electrospinning process parameters used a flow rate of 1 ml/hour, a needle distance between collectors of 15 cm, and a voltage variation of 15 kV, 18 kV, and 21 kV. The results obtained will be characterized using MO, UV-Vis, FT-IR, SEM-EDX, and antibacterial. Based on the results of MO characterization, it shows that the higher the voltage supplied between the collector drum and the needle, the smaller the diameter of the nanofiber. Uv-Vis results show that this fabrication is able to absorb fluids from the fluid in the wound and the fluid around the wound. FTIR results obtained O-H stretch functional group at the peak of PVA absorption, N-H bend functional group at the peak of chitosan absorption and C-O stretch functional group at the peak of PVP absorption. SEM characterization showed a smooth surface morphology and fiber diameter at 10% PVA around 210-225 nm decreased at 18 kV PVA/PVP/Chitosan around 170-195 nm. The EDX results show that the polymer-forming materials of PVA, PVP, and chitosan are present in this nanofiber fabrication. Antibacterial results on 18 kV PVA/PVP/Chitosan samples using <em>S.aereus</em> bacteria with a concentration of 100 l/ml resulted in the highest antibacterial efficiency of 56,8% within 3 hours of incubation.</p> <p>&nbsp;<strong>Keywords</strong>: Electrospinning, Nano Fiber, Wound Dressing</p> Arsha Bayu Rahanti, Diah Hari Kusumawati ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/inovasi-fisika-indonesia/article/view/48235 Mon, 11 Jul 2022 02:36:51 +0000 OTOMATISASI PEMBERIAN PAKAN IKAN NILA DAN MONITORING SUHU SECARA TERJADWAL MENGGUNAKAN ARDUINO UNO R3 https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/inovasi-fisika-indonesia/article/view/47715 <p><span class="fontstyle0"><strong>Abstrak</strong><br></span><span class="fontstyle1">Budidaya ikan air tawar memiliki keuntungan yang tinggi di pasaran. Salah satunya adalah budidaya ikan nila. Ikan<br>tersebut banyak diminati oleh konsumen karena mudah dijumpai. Semakin tingginya permintaan konsumen terhadap ikan<br>nila membuat peternak ikan menjadi kewalahan untuk memenuhinya. Untuk membantu meringankan kerja peternak ikan<br>khususnya dalam memberi pakan ikan secara reguler, maka dibutuhkan alat otomatis. Penelitian ini bertujuan untuk<br>membuat alat otomatis penjadwalan pakan ikan sekaligus dapat mengetahui suhu air dari kolam ikan nila. Dalam<br>pengoperasiannya, perangkat alat otomatis ini menggunakan Arduino Uno R3 sebagai mikrokontroler yang berfungsi untuk<br>menjalankan sistem. Selain itu, juga terdapat komponen lain seperti servo SG90, RTC DS3231, sensor suhu DS18B20,<br></span><span class="fontstyle3">buzzer </span><span class="fontstyle1">dan LCD. Dalam pengambilan data, pengujian dilakukan di kolam ikan milik Peneliti yang berukuran 4×2 m</span><span class="fontstyle1">2 </span><span class="fontstyle1">selama<br>10 hari. Pengujian dilakukan dengan menggunakan servo SG90 dan RTC DS3231 untuk penjadwalan pakan ikan yang diatur<br>pada pukul 09:00 dan 16:00 WIB. Saat Arduino Uno R3 dihubungkan dengan sumber tegangan, servo akan aktif membuka<br>tutup wadah pakan sesuai dengan waktu kedua jadwal tersebut menggunakan RTC. Apabila tutup pakan ikan berhasil<br>terbuka, maka </span><span class="fontstyle3">buzzer </span><span class="fontstyle1">akan aktif menyala. Setelah itu, LCD menampilkan nilai suhu air kolam ikan dari sensor suhu<br>DS18B20. Secara keseluruhan, perangkat ini telah berhasil bekerja secara otomatis dan lebih akurat dibandingkan dengan<br>alat otomatis pakan ikan lainnya yang menggunakan RTC DS1307 karena masih memerlukan modul tambahan.<br></span><span class="fontstyle0">Kata Kunci</span><span class="fontstyle1">: Pakan ikan, Arduino Uno, Sensor Suhu DS18B20, RTC DS3231</span></p> <p><span class="fontstyle1"><br></span><span class="fontstyle0"><strong>Abstract</strong><br></span><span class="fontstyle1">Freshwater fish farming has a high profit in the market. One of them is tilapia fish farming. These fish are in great demand<br>by consumers because they are easy to find. The higher consumer demand for tilapia makes it difficult for fish farmers to fulfill<br>it. To help ease the work of fish farmers, especially in feeding fish on a regular basis, an automatic tool is needed. This study<br>aims to create an automatic tool for scheduling fish feed and at the same time knowing the water temperature from a tilapia<br>pond. In operation, this automatic device uses Arduino Uno R3 as a microcontroller that functions to run the system. In addition,<br>there are also other components such as the servo SG90, RTC DS3231, temperature sensor DS18B20, buzzer and LCD. In<br>collecting data, testing was carried out in a fish pond belonging to the researcher measuring 4 × 2 m</span><span class="fontstyle1">2 </span><span class="fontstyle1">for 10 days. Tests were<br>carried out using the servo SG90 and RTC DS3231 for fish feed scheduling which was set at 09:00 and 16.00 WIB. When<br>Arduino Uno R3 is connected to a voltage source, the servo will actively open the feed container lid according to the time of the<br>two schedules using RTC. If the fish feed cover is successfully opened, the buzzer will be active. After that, the LCD displays<br>the fish pond water temperature value from the DS18B20 temperature sensor.</span><span class="fontstyle1"><br></span><span class="fontstyle0">Keywords: </span><span class="fontstyle1">Fish Feed, Arduino Uno, Temperature sensor DS18B20, RTC DS3231</span> </p> Dzulkiflih Dzulkiflih, Silvie Puspa Anggraini ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/inovasi-fisika-indonesia/article/view/47715 Tue, 05 Jul 2022 00:00:00 +0000 RANCANG BANGUN SOUND LEVEL METER BERBASIS ARDUINO UNO UNTUK MENGUKUR KEBISINGAN INTERMITEN AKIBAT KERETA API MELINTAS https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/inovasi-fisika-indonesia/article/view/47831 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Sa1ah satu kawasan di Jl. Ketegan Barat merupakan pemukiman padat penduduk yang berdekatan 1angsung dengan re1 kereta api karena hanya berjarak sekitar ± 3,5 m dari 1intasan. Berbagai dampak yang diakibatkan o1eh kereta api yang me1intas dapat mengancam kese1amatan penduduk sekitar. Tujuan dari pene1itian yang di1akukan yaitu mengukur dan mengidentifikasi kebisingan yang diakibatkan saat kereta api me1intas, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. KEP-48/MENLH/11/1996 dengan menggunakan <em>Sound Level Meter</em> rancangan pene1iti yang te1ah di uji keakuratannya. Pengujian menggunakan metode pengukuran secara 1angsung dengan pendekatan kuantitatif&nbsp; serta metode <em>purposive sampling</em> dan te1ah di1akukan pada 9 Mei – 15 Mei 2022 pada waktu pagi, siang, dan ma1am. Dari pene1itian tersebut menghasi1kan ni1ai rata-rata intensitas kebisingan intermiten di J1. Ketegan Barat sebesar 89,5 dB – 98,9 dB atau 1ebih besar 62,73% - 79,81% dari batas ambang kebisingan untuk pemukiman yakni sebesar 55 dB. Berdasarkan hasi1 pengujian <em>Sound Level Meter</em> rancangan pene1iti menunjukkan tidak hanya efektif untuk mengukur kebisingan akibat kereta api me1intas namun juga perancangan a1at yang mudah dan murah, serta f1eksibe1 dibawa kemana saja.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Kereta api, Kebisingan, <em>Sound Level Meter&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstract</strong></p> <p>One of the areas on J1. West Ketegan is a dense1y popu1ated residentia1 area that is direct1y adjacent to the rai1way because it’s on1y about ± 3.5 m from the track. Various impacts caused by passing trains can threaten the safety of 1oca1 residents. The purpose of this research is to measure and identify the noise caused when the train passes, based on the Decree of the Minister of the Environment No. KEP-48/MENLH/11/1996 by using Sound Leve1 Meter designed by researchers that has been tested for accuracy. The test uses a direct measurement method with a quantitative approach and purposive samp1ing method and has been carried out on May 9 – May 15, 2022 in the morning, afternoon, and evening. From this research, the average va1ue of intermittent noise intensity on Jl. West tension is 89.5 dB – 98.9 dB or 62.73% - 79.81% of the noise thresho1d for residential areas, which is 55 dB. Based on the resu1ts of the Sound Leve1 Meter test, the researcher's design shows is not on1y effective for measuring noise due to passing trains, but a1so the design of a too1 that is easy, inexpensive, and f1exib1e to carry anywhere.</p> <p>&nbsp;<strong>Keywords</strong>: Train, Noise, Sound Leve1 Meter</p> Firly Maulidya Anggrayni, Dzulkiflih Dzulkiflih ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/inovasi-fisika-indonesia/article/view/47831 Wed, 06 Jul 2022 04:07:28 +0000 IoT MONITORING KUALITAS AIR DENGAN MENGGUNAKAN SENSOR SUHU, pH, DAN TOTAL DISSOLVED SOLIDS (TDS) https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/inovasi-fisika-indonesia/article/view/48240 <p>Abstrak</p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Air dapat dikatakan berkualitas untuk keperluan higiene sanitasi jika memenuhi beberapa syarat, termasuk diantaranya adalah suhu (±3 °C dari suhu udara dimana tempat air berada), pH (6,5-9,5), dan TDS (&lt;1000 ppm). Untuk memudahkan pengukuran suhu, pH, dan TDS air, maka dalam penelitian ini dikembangkan alat dengan teknologi IoT untuk memonitor ketiga parameter tersebut. Sampel air uji diambil dari salah satu sumur warga di Desa Wedi, Kapas, Bojonegoro, Sumber Mata Air Grogolan Desa Ngunut, Dander, Bojonegoro, Sendang Tirta Arum di Desa Sumberarum, Dander, Bojonegoro, Pantai Sowan di Kabupaten Tuban, dan salah satu Sumur Warga di Desa Sambiroto, Kapas, Bojonegoro. Sensor input yang digunakan pada penelitian ini adalah sensor suhu DS18B20, sensor pH dengan pH modul DIY 4502-C, dan Gravity TDS sensor DFRobot. Kemudian input dari sensor diproses oleh mikrokontroler ESP32 dan hasilnya akan ditampilkan pada LCD dan di smartphone dengan aplikasi <em>Blynk</em>. Hasil dari pengukuran alat yang dikembangkan kemudian dibandingkan dengan alat ukur SNI, untuk termometer (Seri 06-6989.23-2005), pH meter (Seri 06-6989.11-2004), dan TDS meter (Seri 06-6989.27:2004). Akurasi pengukuran yang didapatkan dari alat yang dikembangkan ini sangat baik, yaitu berkisar antara 98,28-100%. Kemudian, hasil pengukuran dari kelima tempat yang diambil sampelnya memiliki kualitas suhu yang baik (29-31 °C) dan TDS yang baik (318-551 ppm). Namun, air dari Sendang Tirta Arum di Desa Sumberarum dan sumber mata air Grogolan di Desa Ngunut memiliki kualitas pH air yang kurang baik, dengan nilai pH masing-masing adalah 9,8&nbsp; dan 8,7.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>&nbsp;Kualitas Air, IoT, Sensor Suhu, Sensor pH, Sensor TDS, Higiene sanitasi</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Water can be said to be of good quality for sanitation hygiene purposes if it meets several requirements, including temperature (±3 °C from the air temperature where the water is located), pH (6.5-9.5), and TDS (&lt;1000ppm). To facilitate the measurement of water temperature, pH, and TDS, in this study a tool with IoT technology was developed to monitor these three parameters. Water samples were taken from one of the residents' wells in Wedi Village, Kapas, Bojonegoro, Grogolan Springs, Ngunut Village, Dander, Bojonegoro, Sendang Tirta Arum in Sumberarum Village, Dander, Bojonegoro, Sowan Beach in Tuban Regency, and one of the Residents' Wells. in Sambiroto Village, Kapas, Bojonegoro. The input sensors used in this research are the DS18B20 temperature sensor, the pH sensor with the DIY module pH 4502-C, and the Gravity TDS sensor DFRobot. Then the input from the sensor is processed by the ESP32 microcontroller and the results will be displayed on the LCD and on the smartphone with the Blynk application. The results of the measurement tools developed were then compared with SNI measuring instruments, for thermometers (Series 06-6989.23-2005), pH meters (Series 06-6989.11-2004), and TDS meters (Series 06-6989.27:2004). The measurement accuracy obtained from this developed tool is very good, ranging from 98.28-100%. Then, the measurement results from the five samples taken had good temperature quality (29-31 °C) and good TDS (318-551 ppm). However, water from Sendang Tirta Arum in Sumberarum Village and Grogolan spring in Ngunut Village has poor water pH quality, with pH values ​​of 9.8 and 8.7, respectively.</em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: Water Quality, IoT, Temperature sensor, pH sensor, TDS sensor, Sanitary hygiene</em></p> <p><strong><br> </strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> Fanharis Chuzaini, Dzulkiflih Dzulkiflih ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/inovasi-fisika-indonesia/article/view/48240 Mon, 11 Jul 2022 03:03:23 +0000 RANCANG BANGUN ALAT PENGONTROL SUHU DAN KELEMBAPAN PADA TEMPAT PENETASAN TELUR MENGGUNAKAN SENSOR DHT22 DAN MOTOR SWING BERBASIS IoT https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/inovasi-fisika-indonesia/article/view/48241 <p><span class="fontstyle0"><strong>Abstrak</strong><br></span><span class="fontstyle1">Penetasan telur selama 21 hari menggunakan mesin tetasini memiliki beberapa keuntungan, serta penggunaanya<br>menjadi lebih mudah apabila dibandingkan cara penetasan konvensional. Penelitian ini dimaksudkan untuk<br>mengembangkan dan mengaplikasikan pemanfaatan sensor DHT22 sebagai mesin penetas telur otomatis berbasis IoT.<br>Tujuannya adalah dapat mempermudah pekerjaan para peternak dalam melakukan pemantauan kondisi telur di dalam<br>ruang penetas dari jarak maksimal 10 m. Kelebihan mesin ini yaitu biaya perakitan lebih murah serta sudah menggunakan<br>sensor terbaru yaitu DHT22 untuk sensor suhu dan kelembapan, motor swing untuk penggerak telur otomatis. Metode<br>penelitian yang dilakukan yaitu menggunakan 1 buah lampu pijar/bohlam 220V/AC, digunakan 6 butir telur untuk uji<br>coba pada mesin tetas berukuran 30x30 cm yang terbuat dari bahan triplek dengan tebal 5 cm. Dan pengaturan suhu antara<br>36-40 </span><span class="fontstyle1">o</span><span class="fontstyle1">C dengan kelembapan 45-68%. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini kemudian dianalisis dan diperoleh nilai<br>korelasi antara suhu dan kelembapan yaitu -0,9903 yang berarti bahwa suhu dan kelembapan memiliki hubungan yang<br>berlawanan. Nilai standart error yang kurang dari 0,1 pada variabel suhu dan nilai kurang dari 1 untuk kelembapan, hal<br>tersebut berarti bahwa pengaturan suhu pada mesin tetas telur otomatis ini sudah cukup akurat.</span></p> <p><span class="fontstyle1"><br></span><span class="fontstyle0">Kata Kunci: </span><span class="fontstyle1">Penetas Telur, Suhu, DHT22, IoT</span></p> <p><span class="fontstyle1"><br></span><span class="fontstyle0"><strong>Abstract</strong><br></span><span class="fontstyle1">Hatching eggs for 21 days using a hatching machine has several advantages, and its use is easier when compared to<br>conventional hatching methods. This research is intended to develop and apply the use of the DHT22 sensor as an IoTbased automatic egg incubator. The aim is to facilitate the work of farmers in monitoring the condition of eggs in the<br>hatchery from a maximum distance of 10 m. The advantages of this machine are that the assembly cost is cheaper and<br>has used the latest sensors, namely DHT22 for temperature and humidity sensors, swing motors for automatic egg<br>propulsion. The research method used was 1 incandescent lamp/bulb 220V/AC, 6 eggs were used for testing on a 30x30<br>cm incubator made of plywood with a thickness of 5 cm. And the temperature setting is between 36-40 </span><span class="fontstyle1">o</span><span class="fontstyle1">C with 45-68%<br>humidity. The results obtained from this study were then analyzed and the correlation value between temperature and<br>humidity was -0.9903, which means that temperature and humidity had an opposite relationship. The standard error value<br>is less than 0.1 for the temperature variable and the value is less than 1 for humidity, which means that the temperature<br>setting on this automatic egg incubator is quite accurate.</span></p> <p><span class="fontstyle1"><br></span><span class="fontstyle0">Keywords</span><span class="fontstyle1">:Hatching egg, Temperature, DHT22, IoT</span> </p> Ika Wahyu Kinnasih, Dzulkiflih Dzulkiflih ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/inovasi-fisika-indonesia/article/view/48241 Mon, 11 Jul 2022 03:12:00 +0000 Pencitraan Rupture Gempa Bumi Sumatra 10 Januari 2012 Mw 7.2 Menggunakan Metode Multiple Signal Classification Back Projection (MUSICBP) https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/inovasi-fisika-indonesia/article/view/48446 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Gempa bumi Sumatra 10 Januari 2012 dengan kekuatan Mw 7.2 merupakan salah satu dari rangkaian gempa bumi Sumatra 2012 yang berlokasi di dekat antarmuka zona subduksi atau ~400 km dari barat laut Sumatra Utara di sisi laut Sunda <em>Megathrust </em>di dalam Cekungan Wharton, dimana terdapat zona patahan lama yang kembali aktif akibat dari aktivitas subduksi pada area tersebut sehingga sering kali terjadi gempa bumi dengan kekuatan yang besar seperti rangkaian gempa bumi Sumatra 2012, untuk itu dilakukan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik <em>rupture </em>dari gempa bumi Sumatra 10 Januari 2012 Mw 7.2, dengan diketahuinya karakteristik <em>rupture </em>tersebut dapat digunakan untuk mengetahui gempa susulan yang mungkin terjadi setelah peristiwa gempa bumi tersebut sehingga dapat dimanfaatkan sebagai upaya mitigasi bencana gempa bumi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan menggunakan data sinyal yang terekam oleh stasiun seismik pada AU <em>array</em> dengan jumlah stasiun sebanyak 106 stasiun dan difilter menggunakan frekuensi tinggi sebesar 0.5-1.0 Hz pada tahap <em>cross corelation</em> diolah menggunakan metode <em>Multiple Signal Clasification Back Projection</em> (MUSICBP) didapatkan hasil karakteristik <em>rupture</em> berupa arah rambat <em>rupture </em>yang merambat secara unilateral ke arah barat laut dengan durasi <em>rupture</em> selama ~40s, dengan begitu dapat diketahui kecepatan <em>rupture </em>dari grafik regresi linear hubungan jarak dari radiator frekuensi tinggi ke episenter terhadap waktu selama 40s yaitu sebesar 1.9 km/s, kecepatan <em>rupture </em>tersebut termasuk ke dalam kategori lambat untuk sebuah gempa besar dengan kedalaman dangkal.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Gempa bumi, Sumatra, <em>rupture</em>, <em>back projection</em>, MUSICBP</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstract</strong></p> <p>The 10 January 2012 Sumatra earthquake with a magnitude of Mw 7.2 is one of a series of 2012 Sumatra earthquakes located near the interface of the subduction zone or ~400 km northwest of North Sumatra on the sea side of the Sunda Megathrust within the Wharton Basin, where there is an old fault zone. which is reactivated as a result of subduction activity in the area so that earthquakes with large strength often occur such as the 2012 Sumatra earthquake series, for this reason this study was conducted to determine the rupture characteristics of the Sumatran 10 January 2012 Mw 7.2 earthquake, by knowing the rupture characteristics This data can be used to find out aftershocks that may occur after the earthquake so that it can be used as an effort to mitigate earthquake disasters. Based on research conducted using signal data recorded by seismic stations on the AU array with a total of 106 stations and filtered using a high frequency of 0.5-1.0 Hz at the cross-correlation stage processed using the Multiple Signal Classification Back Projection (MUSICBP) method, the characteristic results obtained rupture in the form of a rupture propagation direction that propagates unilaterally to the northwest with a rupture duration of ~40s, so that the rupture speed can be seen from the linear regression graph of the relationship between the distance from the high-frequency radiator to the epicenter of the time for 40s, which is 1.9 km/s, speed The rupture is included in the slow category for a large earthquake with a shallow depth.</p> <p><strong>Keywords</strong>: Earthquake, Sumatra, rupture<em>, </em>back projection, MUSICBP</p> MADLAZIM MADLAZIM, Daniar Kartika ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/inovasi-fisika-indonesia/article/view/48446 Thu, 14 Jul 2022 06:49:26 +0000