PENGARUH PROSES KEKUATAN TARIK DAN KEKAKUAN KOMPOSIT HIBRIDA SERAT DAUN NANAS–SERAT ECENG GONDOK
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsentrasi natrium hidroksida (NaOH), lama perendaman, rasio hibrida serat daun nanas (Pineapple Leaf Fiber/PALF) dan serat eceng gondok (Water Hyacinth Fiber/WHF), serta suhu post-curing terhadap kekuatan tarik dan modulus elastisitas komposit hibrida bermatriks Polylactic Acid (PLA). Serat diberi perlakuan alkali dengan variasi konsentrasi NaOH 30%, 50%, dan 70%, serta waktu perendaman 1, 3, dan 5 jam. Komposit difabrikasi menggunakan metode compression moulding dengan variasi rasio hibrida serat 3:7, 1:1, dan 7:3 serta suhu post-curing 80°C, 90°C, dan 100°C. Pengujian tarik dilakukan menggunakan Universal Testing Machine (UTM) untuk memperoleh nilai tegangan tarik, regangan, dan modulus elastisitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi perlakuan alkali, rasio hibrida serat, dan suhu post-curing memengaruhi sifat mekanik komposit. Nilai kekuatan tarik tertinggi yang diperoleh sebesar 14,46 MPa dengan modulus elastisitas 1.537,43 MPa, sedangkan nilai terendah sebesar 6,07 MPa dengan modulus elastisitas 832,90 MPa. Peningkatan sifat mekanik dipengaruhi oleh meningkatnya kualitas ikatan antarmuka antara serat dan matriks, distribusi serat yang lebih merata, serta proses post-curing yang menghasilkan struktur komposit lebih padat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengendalian parameter proses fabrikasi berperan penting dalam meningkatkan performa mekanik komposit hibrida berbasis serat alam bermatriks PLA sehingga berpotensi dikembangkan sebagai material ramah lingkungan untuk aplikasi teknik.
Kata kunci: komposit hibrida, serat daun nanas, serat eceng gondok, PLA, uji tarik.
Downloads
Downloads
Published
Issue
Section
Abstract views: 6
,
PDF Downloads: 3