Pengaruh Pemberian Mulsa Perak dan Tanaman Tumpang Sari terhadap Dominansi Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada Tanaman Jeruk Keprok Pulung (Citrus reticulata)

  • Elviadian Nadzimatul Umah Universitas Negeri Surabaya
  • Yuni Sri Rahayu Universitas Negeri Surabaya
  • Otto Endarto Balai penelitian Tanaman Jeruk dan Buah subtropika (Balitjestro) Tlekung,Batu
Keywords: jeruk keprok pulung, mulsa, tumpang sari, indeks dominansi

Abstract

Serangan hama pada tanaman jeruk dapat menurunkan produksi jeruk. Salah satu upaya dalam menekan serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yaitu dengan penggunaan plastik mulsa dan tanaman tumpang sari yang diduga dapat berpengaruh terhadap pengurangan serangan OPT pada areal pertanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan OPT yang terdapat pada tanaman jeruk keprok, untuk mendeskripsikan indeks dominansi OPT pada tanaman jeruk keprok pulung, dan mendeskripsikan kemelimpahan OPT pada tanaman jeruk keprok pulung. Penelitian ini dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Malang. Mulsa yang digunakan adalah mulsa perak dan tanaman tumpang sari meliputi tanaman cabai, tanaman terong, dan tanaman kacang tanah. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan 8 perlakuan dan 3 pengulangan, yaitu tumpang sari cabai, tumpang sari terong, tumpang sari kacang tanah, mulsa dengan cabai, mulsa dengan terong, mulsa dengan kacang tanah, tanpa tanaman, tanpa tanaman dan tanpa mulsa. Data yang diperoleh berupa indeks dominansi OPT, dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa OPT yang ditemukan di areal pertanaman jeruk keprok pulung adalah Tungau Merah (Panonychus citri), Kutu Sisik Merah (Aonidiella aurantii), Kutu Hijau (Coccus viridis). Tidak ada OPT yang mendominansi pada tanaman jeruk keprok pulung pada perlakuan berbagai jenis tanaman tumpang sari maupun pemberian mulsa. Kemelimpahan OPT tertinggi pada tanaman jeruk keprok pulung yaitu Tungau Merah (Panonychus citri) dan kemelimpahan terendah yaitu Kutu Sisik Merah (Aonidiella aurantii).
Published
2018-05-31
Abstract View: 89
PDF Download: 170