MATHEdunesa https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa <p>MATHEdunesa merupakan jurnal online ilmiah pendidikan matematika yang diterbitkan oleh Jurusan Matematika Fakultas MIPA Universitas Negeri Surabaya. Jurnal ini terbit tiap empat bulan sekali dan menerbitkan artikel asli hasil penelitian di bidang pendidikan matematika, yaitu meliputi kajian tentang pengembangan model pembelajaran, <em>problem solving</em>, berfikir kreatif, pendidikan matematika realistik, pembelajaran kontekstual, inovasi pembelajaran dan pengembangan media pembelajaran.</p> Jurusan Matematika UNESA en-US MATHEdunesa 2301-9085 PROFILE OF STUDENTS’ MATHEMATICAL CONNECTION ABILITY IN SOLVING MATHEMATICS PROBLEMS BASED ON VISUALIZER AND VERBALIZER COGNITIVE STYLE https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/45277 <p>Mathematical connection ability is the ability of students to connect mathematical ideas and concepts <br>in a structured way to solve various problems both inside and outside mathematics. Mathematical connection <br>ability plays an important role in the process of solving mathematical problems. Cognitive style is one of the <br>factors that effect mathematical connection abilities. This research is a qualitative descriptive study that aims to <br>describe the students' mathematical connection skills with visualizer and verbalizer cognitive styles in solving <br>mathematics problems. The research subjects consisted of two grade IX students who each had visualizer and <br>verbalizer cognitive styles. The instrument used was the researcher herself, VVQ (visualizer verbalizer <br>questionnaire), a mathematical connection ability test, and interview guidelines. In this study, the material of <br>plane area and Pythagorean theorem are used for test mathematical connection skills. The results obtained are <br>students with visualizer cognitive style get a good category for their mathematical connection ability in solving <br>mathematics problems because they meet seven good indicators and one sufficient indicator from the <br>mathematical connection ability in solving problems indicator, while students with verbalizer cognitive style get <br>sufficient categories because they meet three good indicators, four sufficient indicators, and one less indicator <br>from mathematical connection ability in solving problems indicator. Therefore, teachers are expected to be able <br>to train students with questions in the context of everyday life that have a higher level of mathematical <br>connection so that they can improve their connection skills and also train with variety exercices presentation so <br>student with each cognitive style can be trained to understand a given problem.</p> Nikmatus Savira Aprilianda Susanah Susanah ##submission.copyrightStatement## 2022-03-21 2022-03-21 11 2 328 340 KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA DITINJAU DARI GAYA BELAJAR GLOBAL – ANALITIK DISERTAI SCAFFOLDINGNYA https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/45404 <p>Guru perlu mengetahui kesalahan siswa guna melihat pemahaman siswa sehingga proses pembelajaran berjalan maksimal. Masalah yang dapat digunakan untuk mengetahui kesalahan siswa yakni soal cerita karena dalam menyelesaikannya&nbsp; kemampuan siswa akan berbeda–beda dipengaruhi oleh gaya belajarnya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kulitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal cerita ditinjau dari gaya belajar global–analitik disertai <em>scaffolding</em> dalam mengatasinya<em>.</em> Subjek dalam penelitian ini berjumlah 4 siswa dengan masing–masing 2 siswa di setiap gaya belajar. Metode pengumpulan data yang digunakan yakni angket, tes dan wawancara. Indikator yang digunakan yakni indikator kesalahan Newman. Hasil penelitian menunjukkan siswa bergaya belajar global dominan memenuhi 2 indikator yakni kesalahan proses penyelesaian dan penulisan kesimpulan. Sedangkan siswa bergaya belajar analitik dominan memenuhi 4 indikator yakni kesalahan memahami, transformasi, proses penyelesaian dan penulisan kesimpulan. <em>Scaffolding</em> yang diberikan di setiap kesalahan yakni, pada kesalahan memahami menggunakan strategi membaca kembali soal yang diberikan. Pada kesalahan transformasi, siswa bergaya belajar global tidak diberikan <em>scaffolding</em> berupa strategi <em>explaining</em> dan <em>developing conceptual thinking</em>. Pada kesalahan proses penyelesaian dan penulisan kesimpulan, menggunakan strategi <em>reviewin</em>g dan strategi <em>restructuring</em>. Guna meminimalisir kesalahan yang dialami siswa, hasil penelitian dapat digunakan sebagai masukan guru agar membiasakan siswa menyelesaikan soal cerita matematika dan memberikan <em>scaffolding </em>di setiap tahap kesalahan.</p> <p><strong>Kata Kunci</strong> : Kesalahan siswa , Soal Cerita Matematika, Gaya Belajar Global–Analitik, <em>Scaffolding</em>.</p> Putri Nur Indah Dini Kinati Fardah ##submission.copyrightStatement## 2022-03-28 2022-03-28 11 2 341 356 Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Cerita SPLTV Ditinjau dari Gaya Kognitif Reflektif-Impulsif https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/45426 <p>Kemampuan pemecahan masalah merupakan kesanggupan seseorang dalam melaksanakan proses pemecahan masalah yang menjadi salah satu kemampuan yang harus dikuasai siswa setelah belajar matematika. Sedangkan pemecahan masalah merupakan proses seseorang dalam menggunakan pengetahuan, keterampilan, dan pemahamannya untuk mengatasi masalah tertentu yang belum jelas penyelesaiannya. Masalah yang dipecahkan dapat disajikan dalam bentuk cerita. Faktor yang memengaruhi pemecahan masalah ialah gaya kognitif reflektif dan impulsif. Dalam memecahkan masalah, salah satu faktor yang memengaruhinya ialah gaya kognitif reflektif dan impulsif. Salah satu materi yang membutuhkan pemecahan masalah ialah SPLTV sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah siswa dalam menyelesaikan soal cerita ditinjau dari gaya kognitif reflektif dan impulsif pada materi SPLTV. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan teknik tes dan wawancara. Instrumen dalam penelitian ini yaitu tes gaya kognitif MFFT(<em>Matching Familiar Figure Test</em>), tes kemampuan matematika, tes pemecahan masalah berbentuk soal cerita, dan pedoman wawancara.&nbsp; Subjek penelitian ini adalah masing-masing satu siswa dengan gaya kognitif reflektif dan satu siswa dengan gaya kognitif impulsif berdasarkan hasil MFFT. Pemilihan subjek dengan menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Teknik analisis data berdasarkan indikator pemecahan masalah Polya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa bergaya kognitif reflektif mampu memenuhi semua indikator tahapan pemecahan masalah diantaranya ialah mampu memahami masalah, merencanakan pemecahan masalah, melaksankaan rencana pemecahan masalah dengan benar, dan memeriksa kembali jawaban. Sebaliknya, siswa dengan gaya kognitif impulsif belum memenuhi semua indikator tahapan pemecahan masalah. Siswa impulsif menyelesaikannya sampai akhir namun tidak semua benar. Siswa impulsif melakukan kesalahan dalam menyusun model matematika dan perhitungan sehingga jawaban akhir kurang tepat.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Pemecahan Masalah, Soal Cerita, Gaya Kognitif Reflektif-Impulsif.</p> <p>&nbsp;</p> Siti Mashfufatul Khoiriyah Masriyah Masriyah ##submission.copyrightStatement## 2022-04-08 2022-04-08 11 2 357 367 10.26740/mathedunesa.v11n2.p357-367 KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA SMP DALAM MENYELESAIKAN SOAL MATEMATIKA OPEN-ENDED DITINJAU DARI SELF-CONCEPT MATEMATIS SISWA https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/45403 <p>Kemampuan berpikir kreatif merupakan salah satu kemampuan berpikir yang harus dimiliki siswa, untuk mengetahui kemampuan berpikir kreatif siswa dapat dilakukan dengan &nbsp;memberikan soal matematika <em>open-ended </em><em>&nbsp;</em>kepada siswa. &nbsp;Adapun tujuan dari penelitian ini yakni untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kreatif siswa dalam menyelesaikan soal matematika <em>open-ended </em>ditinjau dari <em>self-concept </em>matematis siswa. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pemilihan subjek yang digunakan pada penelitian ini yakni teknik <em>purposive sampling</em>. Subjek penelitian ini terdiri dari satu siswa dengan kategori <em>self-concept </em>matematis tinggi, satu siswa dengan <em>self-concept </em>matematis sedang, dan satu siswa dengan <em>self-concept </em>matematis rendah. Instrumen yang digunakan meliputi angket <em>self-concept </em>matematis, soal matematika <em>open-ended</em>, dan pedoman wawancara. Metode pengumpulan data pada penelitian ini diantaranya metode angket, tes, dan wawancara. Serta teknik analisis data yang digunakan meliputi&nbsp; analisis angket <em>self-concept </em>matematis, analisis soal matematika <em>open-ended, </em>dan analisis wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kefasihan siswa <em>self-concept </em>matematis tinggi dapat menuliskan tiga jawaban untuk ukuran panjang, dan lebar kolam renang, serta dua jawaban untuk luas kolam renang dengan benar, fleksibilitas siswa <em>self-concept </em>matematis tinggi dapat menggunakan tiga metode penyelesaian yang benar, dan kebaruan siswa <em>self-concept </em>matematis tinggi dapat menggunakan metode matriks yang belum diajarkan di sekolahnya. Kefasihan siswa <em>self-concept </em>matematis sedang dapat menuliskan tiga jawaban untuk ukuran panjang, lebar, dan luas kolam renang dengan benar, fleksibilitas siswa <em>self-concept </em>matematis sedang dapat menggunakan dua macam metode penyelesaian yang benar<em>. </em>Kefasihan siswa <em>self-concept </em>matematis rendah dapat menuliskan dua jawaban untuk ukuran panjang dan lebar kolam renang dengan benar. Hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi guru agar melatih kemampuan berpikir kreatif siswa dengan memberikan soal matematika tipe <em>open- ended</em><em>.</em></p> <p><strong>Kata Kunci </strong>: berpikir kreatif, soal matematika <em>open-ended </em>, <em>self-concept </em>matematis</p> Anisa'a Faradilla Pradnyo Wijayanti ##submission.copyrightStatement## 2022-04-13 2022-04-13 11 2 368 377 PENGEMBANGAN E-BOOK MATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI PERSAMAAN GARIS LURUS https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/45416 <p>Semakin berkembangnya zaman bentuk buku tidak lagi berbentuk cetak, tetapi bentuk buku dapat dibuat <em>elektronik</em>. Buku <em>elektronik</em> mudah diakses dan dapat dibaca kapan saja dan dimana saja. Dari hal tersebut, peneliti tertarik untuk mengembangkan <em>e-book</em>. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar berupa <em>e-book</em> matematika pada materi &nbsp;persamaan garis lurus yang dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Penelitian ini menggunakan model pengembangan <em>ADDIE </em>(<em>Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation</em>). Penelitian menggunakan aplikasi <em>Flip PDF Profesional versi 2.4.9.32.</em> Penelitian ini bertujuan menguji kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan dari <em>e-book</em> sehingga dapat digunakan sebagai alternatif bahan ajar yang dapat melatih keterampilan berpikir kritis siswa pada materi persamaan garis lurus.</p> <p>Hasil uji validitas <em>e-book </em>matematika memperoleh persentase 97,85% dari validator praktisi dan 90% dari validator ahli. Hasil uji kepraktisan <em>e-</em>book memperoleh persentase 78,88% dengan kategori baik yang dilakukan oleh 12 siswa. Kemudian uji keefektifan dari 12 siswa kelas IX SMP swasta di Sidoarjo yang sudah mempelajari materi persamaan garis lurus sebelumnya. Dari <em>e-book</em> yang dikembangkan diperoleh nilai <em>postest </em>lebih besar dari nilai <em>pretest</em> untuk semua siswa . Setelah diuji cobakan kepada siswa didapatkan bahwa kelebihan dari <em>e-book</em> yang dikembangkan ialah terdapat animasi yang menarik yang dapat membantu siswa lebih memahami materi persamaan garis, selain itu terdapat unsur interaktif dengan adanya animasi yang mendampingi sehingga belajar pada <em>e-book</em> tidak terkesan sendirian. Selain itu, hasil akhir <em>e-book</em> yang dikembangkan berupa link dan tidak perlu mengunduh aplikasi tertentu sehingga lebih praktis. Kekurangan dari <em>e-book</em> yang dikembangkan ialah soal-soal untuk melatih berpikir kritis dapat lebih dikembangkan, selain itu tampilan dari <em>e-book</em> juga masih cenderung monoton.</p> AKHMAD LABIB AN NAUFAL ##submission.copyrightStatement## 2022-05-10 2022-05-10 11 2 378 389 10.26740/mathedunesa.v11n2.p378-389 ANALISIS LITERASI MATEMATIKA SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL HIGHER ORDER THINKING SKILLS (HOTS) PROPORSI https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/45401 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan literasi matematika siswa kelas IX SMP di Sidoarjo dalam menyelesaikan soal <em>Higher Order Thinking Skills </em>(HOTS) pada topik proporsi. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode tes tulis terkait soal HOTS proporsi dan wawancara. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan indikator literasi matematika sesuai pada Kerangka Kerja PISA 2021 pada tahap merumuskan (<em>formulate</em>), menerapkan (<em>employ</em>), serta menafsirkan dan mengevaluasi <em>(interpret and evaluate).</em> Subjek penelitian dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling.</em> Dari 12 siswa dengan kemampuan matematis tinggi, tiga siswa dengan literasi matematika yang berbeda dipilih sebagai subjek pada penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menyelesaikan soal HOTS proporsi, pada tahap merumuskan (<em>formulate</em>), siswa kurang mampu merepresentasikan situasi matematis menggunakan model matematika yang sesuai dengan topik proporsi. Pada tahap menerapkan (<em>employ</em>), siswa mampu menggunakan konsep dan prosedur matematis untuk menyelesaikan soal HOTS proporsi. Sedangkan, pada tahap menafsirkan dan mengevaluasi (<em>interpret and evaluate</em>), siswa kurang mampu menafsirkan hasil matematis kembali ke konteks dunia nyata. Sehingga, diperlukan pembelajaran yang bukan hanya melatih siswa untuk menerapkan konsep dan prosedur matematis untuk menyelesaikan soal, namun juga dapat melatih siswa untuk merepresentasikan situasi matematis dalam konteks dunia nyata menjadi model matematika dan menafsirkan solusi matematis yang telah diperoleh kembali ke konteks dunia nyata.</p> <p><strong>Kata Kunci : </strong>Literasi matematika, Soal HOTS, Proporsi</p> Bintari Tri Ambarwati Rooselyna Ekawati ##submission.copyrightStatement## 2022-05-10 2022-05-10 11 2 390 403 10.26740/mathedunesa.v11n2.p390-403 Kemampuan Berpikir Analitis Siswa SMA Pada Pemecahan Masalah Matematika Ditinjau Dari Gaya Kognitif Visualizer dan Verbalizer https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/45607 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir analitis siswa SMA pada pemecahan masalah matematika ditinjau dari gaya kognitif visualizer dan verbalizer, sehingga jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Instrumen dalam penelitian ini yaitu angket (<em>Visualizer and Verbalizer Questionnaire </em>(VVQ)), tes kemampuan matematika, tes berpikir analitis, dan pedoman wawancara. Subjeknya adalah satu siswa bergaya kognitif visualizer dan satu siswa bergaya kognitif verbalizer. Tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah tes kemampuan matematika, tes berpikir analitis, dan wawancara. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis dengan metode reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa visualizer dan verbalizer pada tahap memahami masalah melakukan aktivitas kognitif berupa membedakan dan mengorganisasi, pada tahap membuat dan melaksanakan rencana, kedua siswa melakukan aktivitas kognitif berupa mengorganisasi dan memberikan atribut, langkah penyelesaian yang dilakukan kedua siswa sesuai dengan rencana yang disusun, siswa visualizer mengilustrasikan ide penyelesaian dengan panah dan menulisnya secara ringkas, siswa verbalizer menuliskan ide tersebut secara terstruktur dan jelas, pada tahap melihat kembali, siswa visualizer melakukan aktivitas kognitif berupa mengorganisasi dan memberikan atribut, sedangkan siswa verbalizer melakukan aktivitas kognitif berupa memberikan atribut.</p> <p><strong>Kata kunci: </strong>Kemampuan, berpikir analitis, pemecahan masalah, <em>visualizer </em>dan<em> verbalizer</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstract</strong></p> <p>This study aims to describe the analytical thinking skills of high school students in solving mathematical problems in terms of visualizer and verbalizer cognitive styles, so the type of research used is descriptive qualitative. Instruments in this research are questionnaire (Visualizer and Verbalizer Questionnaire (VVQ)), mathematical ability test, analytical thinking test, and interview guide. The subject is one student with cognitive visualizer style and one student with cognitive verbalizer style. The data collection techniques used were mathematical ability tests, analytical thinking tests, and interviews. The collected data was analyzed with data reduction, data presentation, and conclusion. The results showed visualizer and verbalizer students at the stage of understanding the problem perform cognitive activities namely distinguishing and organizing, at the stage of making and implementing plans, both students perform cognitive activities namely organizing and assigning attributes, the completion steps were perform by both students according to the plans drawn up, students visualizer illustrates the idea of ​​completion with arrows and writes it briefly, verbalizer students write down the idea in a structured and clear manner, at the stage of looking back, visualizer students perform cognitive activities namely organizing and assigning attributes, while verbalizer students perform cognitive activities namely of giving attributes.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Ability, analytical thinking, problem-solving, <em>visualizer</em> and <em>verbalizer</em></p> Nabilla Dihni Amilia Endah Budi Rahaju ##submission.copyrightStatement## 2022-05-10 2022-05-10 11 2 404 418 10.26740/mathedunesa.v11n2.p404-418 MAPPING ON ANALOGICAL REASONING TOPIC LIMIT FUNCTION: WITH AND WITHOUT INTERMEDIATE PROBLEMS https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/45571 <p>Abstrak</p> <p><em>Mapping</em> adalah tahapan penting pada penalaran analogi, namun banyak ditemukan kesalahan pada prosesnya. <em>Mapping</em> merupakan proses menemukan sebuah kesimpulan dari hubungan yang ada pada masalah sumber dan masalah target. Salah satu materi matematika SMA yang sering terjadi kesalahan pada proses pengerjaannya adalah limit fungsi trigometri. Penilitian ini bertujuan untuk menganalisis <em>mapping</em> siswa SMA pada penalaran analogi dengan dan tanpa masalah antara pada materi limit fungsi trigonometri. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Subjek penelitian ini adalah 4 siswa kelas XII MIA SMA swasta di Gresik, dengan rincian 2 siswa menyelesaikan soal <em>mapping</em> penalaran analogi dengan masalah antara, dan 2 siswa menyelesaikan soal <em>mapping</em> penalaran analogi tanpa masalah antara. Data dianalisis menggunakan tahapan <em>mapping</em> yaitu mengidentifikasi hubungan masalah sumber dan masalah target, mengidentifikasi suatu struktur masalah sumber yang sesuai dengan masalah target dan menggunakan masalah sumber ke masalah target. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pada <em>mapping</em>, siswa kesulitan pada tahapan mengidentifikasi hubungan masalah sumber dengan masalah target. Siswa yang berhasil mengidentifikasi hubungan masalah sumber dan masalah target dapat mengidentifikasi kesamaan struktur dan mengetahui cara menggunakan masalah sumber ke masalah target, sedangkan siswa yang tidak berhasil mengidentifikasi hubungan masalah sumber dan masalah target tidak dapat melanjutkan ke tahapan selanjutnya. Pemberian masalah antara dapat membantu siswa dalam mengidentifikasi hubungan masalah sumber dan masalah target, sehingga masalah antara dapat digunakan sebagai jembatan masalah sumber ke masalah target.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Limit fungsi, <em>Mapping</em>, Masalah Antara &nbsp;Penalaran Analogi</p> <p>&nbsp;</p> <p><em>Abstract</em></p> <p><em>Mapping is an important step in analogical reasoning, but many errors are found in the process. Mapping is the process of building conclusions from the relationship between the source problem and the target problem. One of the high school mathematics materials that often makes mistakes in the process is the limit of trigometric functions. This study aims to analyze the mapping of high school students on analogical reasoning with and without intermediate problems on the limit material of trigonometric functions. The research method used is qualitative by using 4 subjects who are class XII students of MIA private high school in Gresik, with details of 2 students solving analogy reasoning mapping problems with intermediate problems, and 2 students completing analogue reasoning mapping problems without intermediate problems. The data were analyzed using the mapping stage, namely identifying the relationship between the source problem and the target problem, identifying a source problem structure that is in accordance with the target problem and using the source problem to the target problem. The results of the study concluded that in mapping, students had difficulty at the stage of identifying the relationship between the source problem and the target problem. Students who succeed in identifying the relationship between the source problem and the target problem can identify structural similarities and know how to apply the source problem to the target problem, while students who fail to identify the relationship between the source problem and the target problem cannot proceed to the next stage. Giving intermediate problems can help students identify the relationship between the source problem and the target problem, so that the intermediate problem can be used as a bridge between the source problem and the target problem.</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Analogical Reasoning, Fungsion Limit,&nbsp; Intermediate Problems, Mapping</em></p> Radja Nauval Arie Salim Abdul Haris Rosyidi ##submission.copyrightStatement## 2022-05-14 2022-05-14 11 2 419 431 10.26740/mathedunesa.v11n2.p419-431 PROSES BERPIKIR SISWA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH MATEMATIKA KONTEKSTUAL DITINJAU DARI MYER BRIGSS TYPE INDICATOR https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/45647 <p>Perbedaan proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah dapat dipengaruhi oleh tipe kepribadian yaitu <em>Extrovert</em> dan <em>Introvert</em>.&nbsp; Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan proses berpikir siswa <em>extrovert</em> dan <em>introvert </em>dalam menyelesaikan masalah matematika kontekstual. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Instrumen yang digunakan yaitu angket tipe kepribadian, Tes Kemampuan Matematika (TKM), Tes Pemecahan Masalah (TPM), dan pedoman wawancara. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas XI SMA dengan kemampuan setara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa <em>exstrovert </em>maupun <em>introvert</em> mampu melakukan semua tahapan proses berpikir dalam menyelesaikan masalah matematika. Siswa <em>exstrovert </em>dan <em>introvert</em> pada saat penerimaan informasi membaca soal dengan cermat. Siswa <em>extrovert</em> membaca cukup sekali, sedangkan siswa <em>introvert </em>membaca berulang kali. Namun pada tahap pengolahan informasi siswa <em>extrovert </em>mengalami kesalahan dalam pemilihan nilai optimum hasil penyelesaian. Siswa <em>introvert </em>dapat melaksanakan rencana dengan merubah permasalahan ke model matematika, mencari titik yang dilalui, menggambar grafik, uji titik, menentukan daerah penyelesaian, metode uji titik pojok dan menemukan hasil penyelesaian dengan benar. Siswa <em>extrovert </em>dapat membuat kesimpulan dari permasalahan yang diberikan meskipun pada lembar jawaban tidak dituliskan, siswa <em>extrovert</em> memeriksa kembali hasil yang dikerjakan dengan membaca dari awal tanpa menghitung kembali. Sedangkan siswa <em>introvert</em> dapat menuliskan kesimpulan yang diperoleh dan memeriksa kembali hasil yang dikerjakan dengan membaca dan menghitung ulang. Hasil penelitian ini menjadi masukan bagi guru agar memperhatikan proses berpikir siswa dengan memberikan soal masalah matematika kontekstual.</p> <p><strong>Kata kunci</strong> : proses berpikir, masalah matematika kontekstual, <em>myer brigss type indicator, extrovert </em>dan <em>introvert</em>&nbsp;&nbsp;</p> Novi Ayu Anggraeni Endah Budi Rahadju ##submission.copyrightStatement## 2022-05-14 2022-05-14 11 2 432 445 10.26740/mathedunesa.v11n2.p432-445 ANALISIS KESALAHAN SISWA SMA DALAM MENYELESAIKAN SOAL EKSPONEN https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/45785 <p class="abstrak">Salah satu materi matematika yang diajarkan di SMA ialah Eksponen. Materi eksponen penting dipelajari karena dibutuhkan sebagai prasyarat materi matematika lainnya, konsep dasar materi ini diberikan pada bangku SMP meski demikian tidak menutup kemungkinan ditemukannya kesalahan pada siswa SMA. Kesalahan yang terjadi diduga karena adanya kesulitan. Untuk perbaikan pembelajaran, kesalahan yang teridentifikasi perlu dianalisis untuk dicari tahu penyebabnya agar dapat diberi tindakan yang sesuai dan meminimalisir ditemukan kesalahan serupa di masa mendatang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan tujuan menganalisis jenis kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal eksponen berdasarkan prosedur Newman serta faktor yang menyebabkan siswa melakukan kesalahan tersebut. Teknik pengambilan data menggunakan metode tes tulis dan wawancara. Tes tulis yang digunakan berupa tes diagnostik materi eksponen. Subjek penelitian 3 siswa dari 31 siswa kelas X IPA 3 SMA Hang Tuah 2 Sidoarjo yang dipilih berdasarkan banyaknya kesalahan yang dilakukan saat tes. Hasil penelitian menunjukkan kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal eksponen yaitu (1) kesalahan membaca soal; (2) kesalahan memahami soal; (3) kesalahan transformasi soal; (4) kesalahan keterampilan proses; (5) kesalahan menuliskan jawaban. Adapun faktor penyebab kesalahan yang ditemukan yakni siswa kurang memahami konsep eksponen, kurang memahami syarat penggunaan sifat eksponen, kesulitan menghadapi soal berbentuk soal cerita, sulit untuk menentukan rumus, siswa jarang menyiapkan bahan belajar di kelas, tidak mengulangi kembali materi yang diperoleh, kurangnya latihan soal, mudah bosan apabila tidak paham materi, dan enggan bertanya saat menemukan kesulitan.</p> Annisa Faradina Rahma Siti Khabibah ##submission.copyrightStatement## 2022-05-14 2022-05-14 11 2 446 457 10.26740/mathedunesa.v11n2.p446-457 PROFIL KEMAMPUAN ABSTRAKSI REFLEKTIF SISWA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH GEOMETRI DITINJAU DARI GAYA BELAJAR https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/45662 <p>Abstraksi reflektif ialah kegiatan penataan kembali secara vertikal konsep matematika yang baru dari konsep matematika yang telah tuntas dipelajari sebelumnya saat kegiatan pembelajaran. Kemampuan abstraksi sangat diperlukan dalam proses pemecahan masalah. Cara siswa untuk menerima informasi yang baru dan proses yang digunakan untuk belajar disebut dengan gaya belajar. Gaya belajar seorang siswa memiliki keterkaitan terhadap kemampuan abstraksinya sementara terdapat tiga tingkatan abstraksi yang salah satunya merupakan abstraksi reflektif, maka dari itu gaya belajar juga mempengaruhi asbtraksi reflektif siswa. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan tentang kemampuan abstraksi reflektif siswa dengan gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik dalam menyelesaikan suatu&nbsp; masalah geometri. Subjek dari penelitian ini merupakan tiga siswa kelas IX yang masing-masing memenuhi gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti, dan instruman pendukung dalam penelitian ini adalah angket gaya belajar, tes kemampuan abstraksi reflektif dalam menyelesaikan masalah geometri, dan pedoman wawancara. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah materi luas tembereng dan juring lingkaran. Hasil yang didapatkan adalah siswa dengan gaya belajar visual dan kinestetik mampu memenuhi semua level kemampuan abstraksi reflektif. Siswa dengan gaya belajar auditori memenuhi semua level kemampuan abstraksi reflektif, namun terdapat kekurangan pada salah satu indikator yaitu menemukan alternatif strategi yang lain untuk menyelesaikan permasalahan. Oleh karena itu, guru diharapkan dapat melatih siswa dengan soal-soal pemecahan masalah yang memiliki tingkat abstraksi reflektif lebih tinggi sehingga dapat meningkatkan kemampuan abstraksi reflektif siswa, serta guru diharapkan dapat membiasakan mengajar dengan model pembelajaran yang beragam karena siswa memiliki gaya belajar yang berbeda-beda.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Abstraksi Reflektif, Pemecahan Masalah, Gaya Belajar.</p> nahdliyah fajriyah Susanah Susanah ##submission.copyrightStatement## 2022-05-16 2022-05-16 11 2 458 473 10.26740/mathedunesa.v11n2.p458-473 DIFFICULTIES OF ELEMENTARY SCHOOL GRADE VI SOLVING NARRATIVE TEST IN NUMBER MATERIAL https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/45924 <p>Mathematics is one of the sciences closely related to human life in helping to solve a problem. Narrative tests are a type of question that is suitable for use in presenting a mathematical problem. When solving narrative testss, difficulties are often found. This study aims to describe the difficulties experienced by students in solving narrative tests. The type of this research is qualitative research, with the research subjects being 12 sixth grade students who have the various mathematical abilities in one of the elementary schools in Gresik. Data collection through written tests, interviews, and documentation. The results showed that students experienced difficulties in three aspects, namely: 1) language aspects. Broadly speaking, students' difficulties in language aspects were caused by a lack of understanding of narrative testss, 2) schematic knowledge aspects, this difficulty was triggered because students were unable to remember and use mathematical concepts well, and 3) the algorithm aspect, this difficulty is caused by students doing the calculation process in a hurry. Narrative tests with simple context and language regularly can be done as an alternative to minimize the level of difficulty of students and help students build a more structured way of thinking.</p> <p><strong>Keywords:</strong> qualitative research, difficulties, narrative tests.</p> Ragil Tri Lestari Siti Khabibah ##submission.copyrightStatement## 2022-05-20 2022-05-20 11 2 474 480 10.26740/mathedunesa.v11n2.p474-480 DEVELOPMENT OF MATHEMATICAL DIGITAL COMICS WITH ETHNOMATEMATICS APPROACH TO CLASS III ELEMENTARY SCHOOL ON WEIGHT UNIT CONVERSION MATERIAL https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/45908 <p>Technological developments have affected most aspects of human life, including education. The role of technology in education can be found in the development of learning media. One of the difficulties faced by students is connecting the mathematics they get in school with real life. Digital comics with an ethnomathematical approach can be one of the potential learning media to connect school mathematics with the real world. The purpose of this research is to develop and produce a mathematical digital comic with an ethnomathematical approach for converting weight units from g to kg and vice versa for grade III SD which is suitable for use. The method used is ADDIE. The criteria for evaluating digital comics used are valid, practical, and effective. The selection of research subjects was carried out using a purposive sampling technique and the subjects obtained were 20 third grade elementary school students and two media expert validators as well as material experts. The results showed that the digital comics developed met the valid criteria with a validity level of 80.35%, practical with a practicality percentage of 81.87%, and effective because 100% of students passed the KKM. So it can be concluded that the digital comics developed are suitable for use in mathematics learning activities because they meet the criteria of validity, practicality, and effectiveness and are expected to be used by educators as learning media to increase enthusiasm and improve student learning outcomes.</p> Sabilla Putri Arliani Siti Khabibah ##submission.copyrightStatement## 2022-05-20 2022-05-20 11 2 481 487 10.26740/mathedunesa.v11n2.p481-487 DEVELOPMENT OF STUDENT WORKSHEET ON PROBABILITY WITH REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION APPROACH USING PANDEMIC CONTEXT https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/45909 <p>The condition of education during the pandemic experienced several changes that made it difficult for students to understand the material being taught and made them more passive in learning activities.Therefore, this study aim at developing student worksheet on probability material with realistic mathematics education approach with pandemic context to help students learn the material well and increase student activity in distance learning and make learning activities more meaningful for students because it makes students find their own concepts so that students can better understand the material well. This study based on 4 aspects, namely: validity, practicality, effectiveness, and feasibility. This research was developed following the ADDIE principle (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation) and the subject for this study was 8th grade students. Then this student worksheet was validated by 2 experts and supervised for practicality by 1 expert. The results of developing student worksheets have a validity value of 83.78% and considered as few revisions. Then for the practicality test, it gets a score of 85% and categorized as practical. Then for the learning results, in the pre-test most students have not been able to work on the questions given and in the post-test all students can work on the questions given well so that the success of student worksheets is very high to make students understand the concept. The student satisfaction questionnaire in learning, the average value of 4.8 can be rounded up to 5, which means that students are very satisfied with the learning activities that have been carried out. So, the result of this research is the success of developing learning media on the material of probability that is suitable to be given to students during this pandemic because it can improve student’s understanding of material and make students more active in participating in learning activities.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Student Worksheet; Realistic Mathematics Education (RME); ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, And Evaluation); Probability.&nbsp;&nbsp;</p> Dava Imadul Bilad Rooselyna Ekawati ##submission.copyrightStatement## 2022-05-20 2022-05-20 11 2 488 498 10.26740/mathedunesa.v11n2.p488-498 IDENTIFIKASI MISKONSEPSI SISWA SMP PADA MATERI BANGUN RUANG SISI LENGKUNG MENGGUNAKAN THREE TIER-TEST https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/45561 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Permasalahan yang banyak ditemui siswa SMP yaitu pada mata pelajaran matematika. Siswa SMP mengalami banyak sekali mengalami miskonsepsi terkait materi bangun ruang. Oleh karena itu penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui: (1) adanya miskonsepsi yang dialami siswa SMP dalam mempelajari bangun ruang sisi lengkung, (2) miskonsepsi terbesar pada sub indikator materi bangun ruang sisi lengkung, (3) penyebab miskonsepsi siswa SMP dalam mempelajari bangun ruang sisi lengkung. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa&nbsp; deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek dalam penelitian ini siswa kelas IX sebanyak 23 siswa yang diambil di salah satu SMP yang ada di Bangkalan, dimana siswa sebelumnya pernah memperoleh materi dasar bangun ruang sisi lengkung pada jenjang SD dan juga siswa kelas IX sudah mempelajari bangun ruang sisi datar pada semester ganjil. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan test dan wawancara. Data dianalisis dengan tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Soal tes yang digunakan adalah soal tes berbentuk <em>three tier-test. </em>Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) siswa mengalami miskonsepsi pada materi bangun ruang sisi lengkung dengan rerata miskonsepsi setiap sub indikator sebesar 77,34%;(2) miskonsepsi murni terbesar siswa terletak pada memahami konsep rusuk, dimana pada konsep rusuk bangun ruang sisi lengkung siswa masih saja terpaku pada konsep rusuk pada bangun ruang sisi datar, untuk miskonsepsi false negatif siswa mengalaminya pada konsep luas, sedangkan pada volume siswa banyak mengalami miskonsepsi false positif dimana pada konsep volume siswa belum paham arti dari sebuah volume itu sendiri;(3) penyebab siswa mengalami kesulitan dalam menghadapi masalah yang berhubungan dengan unsur, luas, dan volume&nbsp; ruang bersisi lengkung disebabkan karena guru tidak menggunakan alat bantu visual, media atau alat praga dalam menyampaikan materi bangun ruang pada saat pembelajaran tatap muka.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>isi, format, artikel.</p> <p>&nbsp;&nbsp;</p> <p><strong>Abstract</strong></p> <p>The problems that many junior high school students&nbsp;encounter is&nbsp;in mathematics. Junior high school students experience a lot of misconceptions related to building materials. Therefore, this study supposed to find out: (1) there are misconceptions experienced by junior high school students in studying curved&nbsp;side&nbsp;space build, (2) the biggest misconceptions in the sub-indicators of curved side space build material, (3) the causes of junior high school students' misconceptions in studying curved side space build. The type of research used in this research is descriptive with a qualitative approach. The subjects in this study were 23 students of class IX who were taken in one of the junior high schools in&nbsp;Bangkalan, where students had previously obtained basic material on curved side spaces at the elementary school&nbsp;and also&nbsp;class IX students had studied flat side space in odd semesters. Data collection techniques&nbsp;were carried&nbsp;out using tests and interviews. Data&nbsp;were analyzed&nbsp;in three stages, namely data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The test questions used are test questions in the form of a three-tier-test. The results of this study&nbsp;show&nbsp;that: (1) students have misconceptions in the curved side space material with an average misconception of each sub indicator of 77,34%; (2) the biggest pure misconception of students lies in understanding the concept of ribs, where in the concept of ribs on curved sides students are still fixated on the concept of ribs on flat-sided shapes, for false negative misconceptions students experience it on the broad concept, while in volume many students experience false positive misconceptions where in the concept of volume students do not understand the meaning of a volume itself; (3) the cause of students having difficulty in dealing with problems related to the elements, area, and volume of curved-sided spaces is because the teacher does not use visual aids, media or visual aids in teaching. deliver the material of building space during face-to-face learning.</p> <p><strong>Keywords</strong>: misconception, three tier-test, building curved side space.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> M Dahlan Ika Kurniasari ##submission.copyrightStatement## 2022-05-20 2022-05-20 11 2 499 512 10.26740/mathedunesa.v11n2.p499-512