MATHEdunesa https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa <p>MATHEdunesa merupakan jurnal online ilmiah pendidikan matematika yang diterbitkan oleh Jurusan Matematika Fakultas MIPA Universitas Negeri Surabaya. Jurnal ini terbit tiap empat bulan sekali dan menerbitkan artikel asli hasil penelitian di bidang pendidikan matematika, yaitu meliputi kajian tentang pengembangan model pembelajaran, <em>problem solving</em>, berfikir kreatif, pendidikan matematika realistik, pembelajaran kontekstual, inovasi pembelajaran dan pengembangan media pembelajaran.</p> Jurusan Matematika UNESA en-US MATHEdunesa 2301-9085 Penalaran Proporsional Siswa Bergaya Kognitif Sistematis dan Intuitif Dalam Menyelesaikan Masalah Numerasi https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/46218 <p>Penalaran proporsional ialah segala sesuatu terkait dengan konsep rasio dan proporsi yang dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah. Menyelesaikan masalah numerasi adalah aktivitas mencari penyelesaian soal dalam kehidupan sehari-hari yang melibatkan keterampilan mengaplikasikan konsep matematika. Gaya kognitif memicu proses berpikir siswa sehingga berpengaruh terhadap cara siswa dalam menyelesaikan masalah. Penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan penalaran proporsional siswa bergaya kognitif sistematis dan intutitif dalam menyelesaikan masalah numerasi. Subjek penelitian berjumlah dua orang yaitu siswa yang memenuhi gaya kognitif sistematis dan intuitif. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan tes gaya kognititf (CSI), tes penalaran proporsional, dan wawancara. Analisis data yang dilakukan menggunakan trikotomi tanda Peirce yang mengaitkan tiga komponen utama yaitu tanda, objek, dan interpretasi sehingga menghasilkan sebuah makna. Hasil peneitian menunjukkan dalam memahami kovariasi siswa bergaya kognitif sistematis mengidentifikasi segala informasi sehingga dapat menentukan kuantitas dan jenis perbandingan sedangkan siswa bergaya kognitif intuitif mengidentifikasi sebagian informasi sehingga melewatkan informasi penting yang membuatnya salah dalam menentukan kuantitas dan jenis perbandingan. Keduanya mengenali situasi proporsional dengan menggunakan hubungan multiplikatif bukan aditif serta menggunakan strategi multiplikatif&nbsp; kali silang dalam menyelesaikan masalah. Siswa bergaya kognitif sistematis memiliki strategi multiplikatif lain yaitu faktor perubahan sedangkan siswa bergaya kognitif intuitif tidak. Oleh sebab itu, guru diharapkan dapat membiasakan siswa menggunakan berbagai strategi multiplikatif dalam menyelesaikan masalah numerasi yang megandung situasi proporsional.</p> Dovina Meilisa Nur Fadilla Tatag Yuli Eko Siswono ##submission.copyrightStatement## 2022-06-10 2022-06-10 11 3 630 643 10.26740/mathedunesa.v11n3.p630-643 PROFIL METAKOGNISI SISWA SMA DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA MATERI FUNGSI KOMPOSISI DAN FUNGSI INVERS DITINJAU DARI KEMAMPUAN SISWA https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/46274 <p>Metakognisi adalah kesadaran tentang proses berpikirnya sendiri, dari merencanakan (<em>planning</em>), memantau (<em>monitoring</em>), sampai memeriksa kembali (<em>evaluating</em>) hasil pikirannya sendiri. Dalam proses pembelajaran, kemampuan metakognisi dapat dibangun saat siswa memecahkan masalah. Saat siswa menemui masalah yang membutuhkan proses cukup panjang, di sinilah kemampuan metakognisinya dibutuhkan. Banyak penelitian yang menyebutkan&nbsp; bahwa kemampuan metakognisi berperan penting dalam pemecahan masalah. Kemampuan matematika berperan penting dalam aktivitas pemecahan masalah dan juga dimungkinkan dengan adanya perbedaan kemampuan matematika maka berbeda pula penggunaan metakognisinya dalam memecahkan masalah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan profil metakognisi siswa SMA dalam memecahkan masalah matematika materi fungsi komposisi dan fungsi invers ditinjau dari kemampuan siswa yang dilaksanakan di kelas X MIA 2 di salah satu MAN di kota Kediri dengan satu siswa untuk tiap tingkatan kemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa Tes Pemecahan Masalah (TPM) dan wawancara. Teknik analisis yang digunakan adalah reduksi dan penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan profil metakognisi siswa berkemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah dalam memecahkan masalah matematika materi fungsi komposisi dan fungsi invers menunjukkan bahwa semuanya memiliki kemiripan dalam kemampuan metakognisinya karena mampu memahami permasalahan, sadar dengan langkah yang diambil, dan melakukan peninjauan ulang. Namun pada siswa berkemampuan rendah perbedaannya adalah tidak melakukan peninjauan ulang. Dari hasil penelitian ini, terdapat beberapa implikasi diantaranya adalah penanaman konsep yang matang kepada siswa sangat berpengaruh pada pemahaman siswa dan kemampuan metakognisinya.</p> Prasetyo Kurniawan Pradnyo Wijayanti ##submission.copyrightStatement## 2022-06-16 2022-06-16 11 3 644 656 10.26740/mathedunesa.v11n3.p644-656 STUDENT’S CRITICAL THINKING SKILLS IN SOLVING MINIMUM COMPETENCY ASSESSMENT PROBLEMS ON SOCIAL ARITHMETICS TOPICS https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/46532 <p>The Minimum Competency Assessment is employed as a standard for student graduation since it is more innovative and pushes students to think critically, including social arithmetic problem that involves everyday life and the calculation of ratios and percentages. This study aims to identify students' abilities in solving social arithmetic problems with a critical thinking pattern. The subject of this study was a class of 8th graders who were given a basic mathematics test, and then from their test results, ten samples were taken to take the AKM test. The ten samples were taken from each category of predetermined values, with two students with the highest and lowest scores in each category. Additionally, the author conducted interviews to strengthen the author's data. The interview conducted is a semi-structured interview, where the author prepares questions about why errors occur in student work. Data analysis steps are collecting data, reducing it, presenting it, and drawing conclusions. The results of the study show that students are categorized into three levels, namely, low, medium, and high. The most frequently observed signs of critical thinking skills from these three categories are clarity and overview. While students rarely master focus and reason. The findings of this study can be used as a guide for developing instructional models and strategies for improving students' numeracy skills.<br>Keywords: AKM, critical thinking skills, numerical skills, social arithmetics.</p> Rama Dina Rooselyna Ekawati ##submission.copyrightStatement## 2022-06-23 2022-06-23 11 3 657 667 10.26740/mathedunesa.v11n3.p657-667 DEVELOPMENT OF STUDENT WORKSHEETS BASED ON REACT ON QUADRILATERAL MATERIAL https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/46693 <p>&nbsp;</p> <p>Some studies have showed that students still struggle to solve problems involving quadrilaterals, particularly kites and rhombuses. One of learning strategy that can be used is REACT strategy, which emphasizes teaching and learning of constructivist principles, performs one of the suitable learning strategies. This research aims to describe the process of developing and producing REACT-based student worksheets which satisfy the following criteria: valid, practical, and effective. This study used the 4D model (Define, Design, Develop and Disseminte) and utilizing a <em>One-Shot&nbsp;Case Study</em> research design. The study involves 32 students of the grade VII of SMPN 1 Mojosari during the even semester of the academic year 2019-2020. Test, interview, questionnaire are utilized to obtain the data of this study. The results emphasize that the LKS is valid with the average total validity criteria for the LKS with respect to circumference and area formulas, as well as for rhombus and kite are 3.25; 3.71; and 3.57 respectively. The LKS satisfies the practical criteria with a few minor with the average score on the learning observation analysis is 3.13. Finally, The LKS fulfills also as the effective criteria with the student’s questionnaire responses indicate that the student response is positive with an average percentage of 89.4% and the percentage of classical learning completeness or student learning test is 78%. So that this LKS can be used as a source and medium of learning by junior high school mathematics teachers in learning quadrilateral material, especially rhombuses and kites.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Student worksheet, quadrilateral ,<em>REAC</em><em>T</em></p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> Andyah Agustin Yusuf Fuad ##submission.copyrightStatement## 2022-06-25 2022-06-25 11 3 668 676 10.26740/mathedunesa.v11n3.p668-676 PENGGUNAAN MODEL CIPP (CONTEXT, INPUT, PROCESS, DAN PRODUCT) DALAM EVALUASI PROGRAM ASISTENSI MENGAJAR DI TK MIFTAKHUL JANNAH https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/46902 <p>Evaluasi program asistensi mengajar di TK Miftakhul Jannah dilakukan untuk melihat pencapaian dan memberikan saran perbaikan mengenai program tersebut. Pada artikel ini dibahas mengenai penggunaan model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, dan Product) dalam program asistensi mengajar. Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi, dengan pendekatan kuantitatif deskriptif yang melibatkan 31 peserta program asistensi mengajar dan 2 guru kelas TK Miftakhul Jannah sebagai subjek penelitian. Teknik pengumpulan data menggunakan tes dan angket sebagai instrumen utama, dengan pedoman observasi dan wawancara sebagai instrumen pendukung. Analisis data dilakukan dengan membandingkan skor yang diperoleh dengan skor maksimum dan dikalikan 100%. Hasil perhitungan tersebut dikelompokkan ke dalam sejumlah kriteria yang telah ditetapkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi konteks (context) yang terdiri dari tujuan program dan asesmen kebutuhan program memperoleh skor PE (Persentase Efektivitas) sebesar 91,66% dengan kriteria “Sangat Baik”. Pada dimensi input yang terdiri dari jumlah peserta, sumber daya manusia, perencanaan kegiatan, media pembelajaran, kesesuaian dana dan anggaran, serta LKPD dengan skor PE sebesar 81,75% yang termasuk dalam kriteria “Baik”. Pada dimensi proses yang terdiri dari keterlaksanaan program, keaktifan peserta didik, evaluasi dan tindak lanjut hasil belajar, nilai PE yang diperoleh adalah 79,44% yang termasuk dalam kriteria “Cukup”. Terakhir pada dimensi produk, yang terdiri aspek pengetahuan, aspek sikap, aspek keterampilan, dan output berupa media pembelajaran memperoleh nilai PE sebesar 81,69% dengan kriteria “Baik”. Berdasarkan hasil evaluasi dari 4 dimensi yakni konteks, input, proses, dan produk diperoleh total nilai PE sebesar 83,64% atau secara keseluruhan dalam kriteria “Baik”. Dapat disimpulkan bahwa secara umum pelaksanaan program asistensi mengajar ini berhasil, sehingga direkomendasikan agar program serupa dilakukan kembali dengan beberapa perbaikan.</p> Muhammad Taufiqurrahman Dimas Bagus Setiawan Robiatul Adawiyah Fitriah Dayat Hidayat ##submission.copyrightStatement## 2022-06-27 2022-06-27 11 3 677 683 10.26740/mathedunesa.v11n3.p677-683 PROFIL BERPIKIR RELASIONAL SISWA SMA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH SPLTV DITINJAU DARI SELF EFFICACY https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/46824 <p>Aktivitas mental seseorang di mana ia harus dapat mengaitkan pengetahuan yang dimilikinya dengan informasi baru yang diberikan untuk menyelesaiakan suatu masalah matematika disebut sebagai berpikir relasional yang dapat dipengaruhi oleh keyakinan diri seseorang (<em>self efficacy</em>). Mendeskripsikan profil berpikir relasional siswa SMA dalam menyelesaikan masalah SPLTV ditinjau dari <em>self efficacy</em> merupakan tujuan penelitian ini, serta masing-masing satu siswa <em>self efficacy </em>tinggi dan <em>self efficacy </em>rendah sebagai subjek penelitian. Deskriptif kualitatif adalah jenis penelitian ini, serta instrumen penelitiannya yaitu angket <em>self efficacy</em>, tes penyelesaian masalah SPLTV, dan pedoman wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa SMA dengan <em>self efficacy </em>tinggi telah melaksanakan aktivitas berpikir relasional dalam menyelesaikan masalah SPLTV dengan mengidentifikasi pernyataan yang diketahui dan pertanyaan yang ditanyakan dalam permasalahan, kemudian menghubungkannya dengan pengetahuan yang dimilikinya pada tahap memahami masalah, siswa dapat mengaitkan pengetahuan yang dimilikinya dengan informasi yang diperolehnya dari permasalahan pada tahap membuat rencana dan melaksanakan rencana penyelesaian. siswa dapat membangun keterkaitan antara hasil jawaban dengan informasi pada permasalahan pada tahap memeriksa kembali. Sedangkan siswa SMA dengan <em>self efficacy </em>rendah telah melaksanakan aktivitas berpikir relasional pada tahap memahami masalah dengan menentukan pernyataan yang diketahui dan pertanyaan yang ditanyakan dalam permasalahan dan membentuk relasi antara pengetahuan yang dimilikinya dengan informasi yang diperolehnya dari permasalahan, pada tahap membuat rencana dan melaksanakan rencana penyelesaian siswa dapat menghubungkan informasi dalam permasalahan dengan pengetahuan yang dimilikinya, pada tahap memeriksa kembali siswa belum dapat menghubungkan hasil penyelesaian yang diperoleh dengan informasi yang terdapat pada permaasalahan. Oleh karena itu, diharapkan guru dapat memberikan soal nonrutin dengan gabungan antar konsep matematika sehingga dapat melatih berpikir relasional dan kemampuan penyelesaian masalah siswa.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Berpikir Relasional, Penyelesaian Masalah, <em>Self Efficacy</em></p> Nia Nur Fauziyah Ismail Ismail ##submission.copyrightStatement## 2022-06-30 2022-06-30 11 3 699 709 Eksplorasi Etnomatematika Budaya Kampung Kemasan Gresik https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/46844 <p>Etnomatematika merupakan salah satu faktor untuk meningkatkan kemampuan literasi matematis siswa guna mencapai keberhasilan dalam belajar matematika. Unsur budaya berupa sistem peralatan hidup dan teknologi serta kesenian masih dilestarikan di kampung Kemasan Gresik. Penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi ini bertujuan mendeskripsikan bentuk etnomatematika pada bangunan tua, alat musik dan gerakan tari Pencak Macan Gresik, serta literasi matematis budaya di Kampung Kemasan Gresik dalam perspektif etnomatematika. Pengumpulan data terdiri dari observasi, wawancara, dokumentasi, dan <em>study literatur</em>. Instrumen penelitian yaitu pedoman wawancara dan alat rekaman. Teknik analisis data menggunakan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sistem peralatan hidup dan teknologi bangunan rumah di kampung Kemasan Gresik terdapat konsep matematika yaitu bangun datar (segitiga siku-siku, lingkaran, persegi, segitiga sama kaki, trapesium sama kaki, segi enam beraturan, belah ketupat, dan persegi panjang),&nbsp; bangun ruang (prisma, tabung, limas terpancung, balok, dan kubus), kekongruenan , dan transformasi geometri (refleksi dan translasi). Pada sistem kesenian alat musik dan gerakan tari Pencak Macan Gresik terdapat konsep matematika yaitu sudut (sudut siku-siku, tumpul, dan lancip), bangun datar (lingkaran, persegi, segitiga sama kaki, trapesium, persegi panjang, dan gabungan dua bangun datar), bangun ruang (kerucut terpancung, tabung, bola, dan gabungan dua bangun ruang), kedudukan dua garis (dua garis sejajar, dan berpotongan), kedudukan dua lingkaran (L1 dan L2 bersinggungan di luar, dan L2 terletak di dalam L1 (konsetris)), garis lengkung, dan transformasi geometri. Dengan demikian budaya kampung Kemasan Gresik dapat meningkatkan kemampuan literasi matematis siswa.</p> renova mirojul lail Mega Teguh Budiarto ##submission.copyrightStatement## 2022-07-04 2022-07-04 11 3 710 719 10.26740/mathedunesa.v11n3.p710-719 Kemampuan Pemecahan Masalah Kontekstual Materi Program Linear Siswa SMA Bergaya Kognitif Field Dependent Dan Field Independent https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/47129 <p>Kemampuan pemecahan masalah adalah kesanggupan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika dengan memenuhi proses menemukan jawaban berdasarkan tahap pemecahan masalah. Masalah yang dipecahkan dapat berupa masalah kontekstual. Kemampuan pemecahan masalah kontekstual siswa dapat dipengaruhi oleh gaya kognitif, yaitu field dependent (FD) dan field independent (FI). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah siswa FD dan FI ketika memecahkan masalah matematika kontekstual materi program linear. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Instrumen yang digunakan yaitu GEFT (Group Embeded Figure Test), Tes Pemecahan Masalah, dan pedoman wawancara. Subjek penelitian adalah 2 siswa SMA kelas XI IPS dengan kemampuan setara. Hasil penelitian ini menunjukkan siswa FD dan FI dapat melakukan 4 tahap pemecahan masalah dalam memecahkan masalah matematika kontekstual pada materi program linear. Siswa FD pada saat memahami masalah telah membaca permasalahan dengan cermat dan dibaca sekali, sedangkan siswa FI membaca berulang kali. Siswa FD dapat menentukan apa yang diketahui, tetapi mereka tidak dapat menentukan apa yang ditanyakan. Sedangkan siswa FI tidak menuliskan apa yang diketahui dan yang ditanyakan dalam permasalahan. Siswa FD dan FI dapat merencanakan penyelesaian permasalahan. Siswa FD dan FI menuliskan langkah pemecahan serta hasil akhir. Siswa FD dan FI dalam pembentukan kesimpulan dapat menjawab permasalahan dengan benar. Siswa FD memastikan langkah yang dilakukan sudah benar dengan memeriksa kembali dan melakukan perhitungan ulang, sedangkan siswa FI memeriksa kembali dengan membaca ulang permasalahan dan melakukan perhitungan ulang. Hasil penelitian ini menjadi masukan bagi guru sebaiknya mengingatkan siswa untuk menuliskan informasi yang ada pada suatu permasalahan dan apa yang ditanyakan.<br>Kata Kunci: kemampuan pemecahan masalah, masalah matematika kontekstual, gaya kognitif, field dependent, field independent.</p> Nicki Fabasti Asmah Endah Budi Rahaju ##submission.copyrightStatement## 2022-07-04 2022-07-04 11 3 PDF_720 731 10.26740/mathedunesa.v11n3.pPDF_720-731 Students' Mathematical Literacy Processes on PISA-Like Tasks with The Domain of Space and Shape https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/47389 <p>Mathematical literacy is defined as the ability possessed by an individual in formulating, employing, and interpreting mathematics in a variety of contexts. This research aims to describe the mathematical literacy processes of Junior High School students in solving PISA-like problems on space and shape content. The method in this research used qualitative descriptive. The research subject was students of the ninth grade in SMP Negeri 2 Krembung on Sidoarjo, which consisted of twenty-nine students. The instruments used were test and interview. The results showed that the students’ mathematical literacy was classified as less for the process of formulating. Some students still find many difficulties, such as difficulty in determining the strategy used in solving the problem as well as errors in calculation and drawing conclusion. The students’ mathematical literacy was classified as quite good for the process of employing. Students understand the intent of the problem and know what strategy used, although there were some minor errors in calculation or drawing a conclusion. The students’ mathematical literacy was classified as very lacking in the process of interpreting. Students only guess because students were still unable to understand the meaning of the questions and what strategies were used to solve the given problems to answer questions.</p> Pradnya Paramitha Solikhah Endah Budi Rahaju Nina Rinda Prihartiwi ##submission.copyrightStatement## 2022-07-06 2022-07-06 11 3 732 743 10.26740/mathedunesa.v11n3.p732-743 KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMA DALAM MENYELESAIKAN SOAL MATEMATIKA HIGHER ORDER THINKING SKILLS (HOTS) DITINJAU DARI JENIS KELAMIN https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/46822 <p>Berpikir kritis sebagai salah satu keterampilan berpikir yang perlu dimiliki oleh setiap siswa. Pemberian soal matematika <em>higher order thinking skills (HOTS)</em> pada siswa dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa.&nbsp; Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis siswa SMA dalam menyelesaikan soal matematika <em>higher order thinking skills</em> (<em>HOTS)</em> ditinjau dari jenis kelamin. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini terdiri dari dua siswa SMA, satu siswa laki-laki dan satu siswa perempuan dengan kategori kemampuan yang tinggi.&nbsp; Instrumen yang digunakan meliputi tes soal matematika <em>higher order thinking skills</em> (<em>HOTS)</em> beserta pedoman wawancara. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data yakni metode tes dan wawancara. Teknik analisis data pada penelitian ini diantaranya analisis soal matematika <em>higher order thinking skills</em> (<em>HOTS)</em> dan analisis wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa <em>interpretation</em> siswa laki-laki mampu menuliskan permasalahan yang terdapat pada soal, <em>analysis</em> siswa laki-laki mampu menuliskan setiap langkah yang digunakan dalam menyelesaikan permasalahan pada soal, <em>evaluation</em> siswa laki-laki mampu menuliskan penyelesaian soal, <em>inference</em> siswa laki-laki mampu menarik kesimpulan pada setiap langkah yang digunakan, <em>explanation</em> siswa laki-laki mampu menuliskan hasil akhir dari penyelesaian soal, <em>self-regulation</em> siswa laki-laki mampu me<em>review</em> ulang jawaban hasil pekerjaanya. <em>Interpretation</em> siswa perempuan mampu menuliskan permasalahan yang terdapat pada soal, <em>analysis</em> siswa perempuan mampu menuliskan setiap langkah yang digunakan dalam menyelesaikan permasalahan pada soal, <em>evaluation</em> siswa perempuan mampu menuliskan penyelesaian soal, <em>inference</em> siswa perempuan mampu menarik kesimpulan dari setiap langkah yang digunakan, <em>explanation</em> siswa perempuan mampu menuliskan hasil akhir dari penyelesaian soal, <em>self-regulation</em> siswa perempuan mampu me<em>review</em> ulang jawaban hasil pekerjaanya. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi guru agar lebih memahami serta mengetahui kemampuan berpikir kritis yang dimiliki siswa jika ditinjau dari jenis kelamin untuk memperbaiki mutu pengajaran serta membiasakan siswa untuk menyelesaikan soal matematika <em>HOTS</em> guna untuk melatih kemampuan berpikir kritisnya.</p> Nur Izzatul Isslamiyah Pradnyo Wijayanti ##submission.copyrightStatement## 2022-07-08 2022-07-08 11 3 754 764 10.26740/mathedunesa.v11n3.p754-764 ANALISIS KEGAGALAN SISWA SMA DALAM PEMECAHAN MASALAH KONTEKSTUAL MATERI KESEBANGUNAN https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/47514 <p class="abstrak"><span lang="EN-US">Pemecahan masalah merupakan aktivitas penting dalam pembelajaran matematika. Masih terdapat siswa yang mengalami kegagalan dalam pemecahan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kegagalan siswa dalam pemecahan masalah kontekstual materi kesebangunan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan subjek 4 siswa dari SMA Negeri di Bojonegoro. Subjek penelitian dipilih dari siswa yang mengalami kegagalan di tahapan pemecahan masalah Polya yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan pada tahap memahami masalah siswa gagal dalam menentukan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan soal, siswa gagal dalam menentukan informasi yang cukup untuk mencari yang ditanyakan, gagal memvisualisasikan masalah dengan tepat, dan memberikan argumen pemahamannya yang tidak sesuai dengan soal. Pada tahap merencanakan masalah, siswa gagal dalam mengkaitkan masalah dengan materi matematika, kurang tepat dalam menyebutkan teorema atau definisi yang terkait dengan masalah. Pada tahap menyelesaikan pemecahan masalah siswa menjalankan penyelesaian tidak sesuai dengan rencana yang sudah disusun, menyelesaikan masalah dengan langkah yang kurang tepat, dan gagal membuktikan penyelesaiannya adalah benar. Pada tahap melihat kembali pemecahan masalah siswa gagal menemukan alternatif penyelesaian lain. <a name="_Hlk105940631"></a>Ketidakmampuan siswa menemukan konsep atau teorema yang relevan menjadi indikasi bahwa ada masalah dalam menerapkan konsep matematika di kehidupan sehari-hari.</span></p> Dewi Isarotur Rohmahh Abdul Haris Rosyidi ##submission.copyrightStatement## 2022-07-08 2022-07-08 11 3 765 778 10.26740/mathedunesa.v11n3.p765-778 PROFIL BERPIKIR RELASIONAL SISWA SMA DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA DITINJAU DARI GAYA BELAJAR AUDITORI https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/47518 <p>Abstrak</p> <p>Berpikir relasional dalam memecahkan masalah matematika merupakan kemampuan berpikir untuk memahami potongan-potongan informasi yang tampak berbeda namun sebenarnya memiliki keterkaitan objek dari informasi yang diketahui pada soal menjadi bentuk simbol dan angka dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya untuk memecahkan masalah matematika. Dalam memecahkan masalah dapat dipengaruhi oleh beberapa hal salah satunya adalah gaya belajar siswa. Dalam penelitian ini gaya belajar yang digunakan berdasarkan cara individu memecahkan masalah berfokus pada subjek penelitian dengan gaya belajar auditori. Gaya belajar auditori yaitu gaya belajar yang mengandalkan indra pendengaran dalam proses mengingat dan menganalisis sebuah informasi yang didapatkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menjelaskan profil berpikir relasional dalam memecahkan masalah matematika pada siswa SMA dengan gaya belajar auditori. Subjek dari penelitian ini adalah 3 siswa SMA kelas XI yang memiliki gaya belajar auditori dan tuntas dalam menyelesaikan masalah matematika yang diberikan. Berdasarkan hasil analisis data ketiga siswa dengan gaya belajar auditori mampu melaksanakan aktivitas berpikir relasional dalam memecahkan masalah matematika pada tahapan memahami masalah dengan mengidentifikasi unsur penting dalam masalah dan membangun relasi dalam setiap unsur dan antar unsur yang diketahui siswa. Pada tahap membuat rencana dalam pemecahan masalah siswa auditori mampu membangun relasi dalam memilih strategi penyelesaian. Pada tahap melaksanakan strategi yang telah dipilih dalam memecahkan masalah siswa auditori mampu menggunakan aturan untuk memecahkan masalah serta menjelaskan keterkaitan hubungan operasi hitung bilangan, meskipun masih terdapat kesalahan dalam pengerjaan karena kurangnya ketelitian siswa. Pada tahap terakhir siswa auditori belum mampu dalam memeriksa kembali hasil dan tidak melakukan aktivitas berpikir relasional<em>.</em></p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Berpikir Relasional, Masalah Matematika, Gaya Belajar Auditori</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Relational thinking in solving mathematical problems is the ability to think to understand pieces of information that look different but actually have object relations from the information known in the problem into the form of symbols and numbers with previous knowledge to solve mathematical problems. In solving problems, it can be influenced by several things, one of which is student learning styles. In this study, the learning style used is based on the way individuals solve problems focusing on research subjects with auditory learning styles. Auditory learning style is a learning style that relies on the sense of hearing in the process of remembering and analyzing the information obtained. This study uses a qualitative descriptive approach that aims to explain the profile of relational thinking in solving mathematical problems in high school students with auditory learning styles. The subjects of this study were 3 high school students in class XI who have an auditory learning style and are thorough in solving the given math problems. Based on the results of data analysis, the three students with auditory learning styles are able to carry out relational thinking activities in solving mathematical problems at the stage of understanding the problem by identifying important elements in the problem and building relationships within each element and between elements. At the stage of making plans in solving problems, auditory students are able to build relationships in choosing resolution strategies. At the stage of implementing the strategies that have been chosen in solving problems, auditory students are able to use rules to solve problems and explain the relationship between numbers, although there are still errors in the work due to the lack of student accuracy. At the last stage, auditory students have not been able to re-examine the results and do not carry out relational thinking activities.</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Relational Thinking, Math Problems, Auditory Learning Style</em></p> Ana Agustini Endah Budi Rahaju ##submission.copyrightStatement## 2022-07-08 2022-07-08 11 3 794 811 10.26740/mathedunesa.v11n3.p794-811 Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMA dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Ditinjau dari Self-Confidence https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/47536 <p>Kemampuan komunikasi matematis adalah kemampuan siswa dalam menyampaikan ide matematika baik dalam tulisan maupun secara lisan. Kemampuan komunikasi matematis perlu ditumbuhkan dalam diri siswa agar dapat menyampaikan ide dan pemikirannya terhadap suatu konsep tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan komunikasi matematis siswa SMA dalam menyelesaikan masalah matematika pada materi program linear ditinjau dari <em>self-confidence</em>. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 3 orang siswa dimana subjek diperoleh dari penyebaran angket <em>self-confidence</em> kepada 32 orang siswa kelas XI IPA 5 pada salah satu SMA di Sidoarjo yang dipilih masing-masing satu siswa dengan <em>self-confidence</em> tinggi, sedang, dan rendah. Teknik pengumpulan data menggunakan&nbsp; 2 butir soal tes esai materi program linear, angket <em>self-confidence</em>, dan wawancara. Data yang diperoleh kemudian dianalisis berdasarkan indikator kemampuan komunikasi matematis melalui tiga tahapan yaitu kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan <em>self-confidence</em> tinggi mempunyai kemampuan komunikasi matematis yang tinggi dan mampu memenuhi semua indikator kemampuan komunikasi matematis, sedangkan siswa dengan <em>self-confidence</em> sedang dan rendah memiliki kemampuan komunikasi matematis sedang dan hanya mampu memenuhi dua indikator kemampuan komunikasi matematis dari tiga indikator yang ada. Oleh karena itu, guru diharapkan dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa dengan memperbanyak kegiatan diskusi bersama, presentasi, sesi tanya jawab antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa serta memberikan banyak latihan soal kepada siswa agar <em>self-confidence</em> yang dimiliki siswa juga meningkat.</p> Anisa Nur Aini Rini Setianingsih ##submission.copyrightStatement## 2022-07-08 2022-07-08 11 3 812 825 10.26740/mathedunesa.v11n3.p812-825 Kemampuan Representasi Matematis Siswa dalam Menyelesaikan Soal Open-Ended Ditinjau dari Self-Concept https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/47736 <p>Penelitian ini merupakan analisis deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menguraikan kemampuan representasi matematis siswa dalam menyelesaikan soal <em>open-ended</em> ditinjau dari <em>self-concept</em> siswa. Tiga siswa kelas XI sebagai subjek pada penelitian dipilih dengan metode pemilihan subjek secara <em>purposive sampling</em>. Tes <em>self-concept</em> berbentuk kuesioner, tes kemampuan representasi matematis berupa soal <em>open-ended</em>, serta pedoman wawancara digunakan sebagai instrumen pada penelitian ini. Subjek dipilih pada awal penelitian menggunakan tes <em>self-concept</em>, berikutnya subjek diberikan tes soal <em>open-ended</em> dan selanjutnya dilakukan wawancara. Perolehan data dianalisis melalui metode analisis data dengan langkah pengumpulan informasi, penyajian informasi, serta pengambilan kesimpulan dan verifikasi. Hasil analisis memperlihatkan bahwa subjek dengan kategori <em>self-concept</em> tinggi, yang memiliki pandangan sangat positif terhadap kemampuan yang dimilikinya, mampu memunculkan tiga bentuk representasi pada langkah menyusun rencana penyelesaian yaitu representasi visual, representasi simbolik, dan representasi verbal ketika diberikan soal berbentuk <em>open-ended</em>. Kemudian subjek dengan kategori <em>self-concept</em> sedang yang memiliki pandangan cukup positif terhadap kemampuan yang dimilikinya, mampu memunculkan dua bentuk representasi pada langkah menyusun rencana penyelesaian yaitu representasi visual dan representasi simbolik serta pada langkah melaksanakan rencana penyelesaian yaitu representasi simbolik dan representasi verbal ketika diberikan soal berbentuk <em>open-ended</em>. Sedangkan subjek dengan kategori <em>self-concept</em> rendah yang memiliki pandangan negatif terhadap kemampuan yang dimilikinya, mampu menunjukkan dua bentuk representasi pada langkah menyusun rencana penyelesaian yaitu representasi visual dan representasi simbolik ketika diberikan soal berbentuk <em>open-ended</em>.</p> Putri Hidayah Yonicha Sari janet Trineke Manoy ##submission.copyrightStatement## 2022-07-08 2022-07-08 11 3 826 836 10.26740/mathedunesa.v11n3.p826-836 Analisis Kemampuan Numerasi Siswa SMA dalam Menyelesaikan Soal Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/47800 <p>AKM berfungsi untuk mengukur kompetensi siswa maka soal AKM terdiri dari berbagai konten atau topik, beragam konteks serta beberapa tingkat proses kognitif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk mendeskripsikan kemampuan numerasi siswa SMA dalam meyelesaikan soal AKM. Subjek penelitian ini adalah tiga orang siswa dari kelas X dengan diberikan soal tes AKM dan melakukan wawancara. Hasil penelitian ini yaitu berdasarkan hasil tes soal AKM dari 15 siswa terdapat 11 siswa dengan kemampuan numerasi rendah, tiga siswa dengan kemampuan numerasi sedang, dan satu orang siswa dengan kemampuan numerasi tinggi. Berdasarkan hasil wawancara, siswa dengan kemampuan numerasi rendah pada level pemahaman menentukan informasi dari bacaan dengan tepat, pada level penerapan siswa belum mampu memberikan solusi penyelesaian dari soal, dan pada level penalaran siswa belum mampu menganalisis dan menyelesaikan soal. Siswa dengan kemampuan numerasi sedang pada level pemahaman mendapatkan informasi dari bacaan dengan tepat, pada level penerapan siswa memberikan solusi penyelesaian dari soal, dan pada level penalaran siswa cukup mampu dalam menganalisis dan menyelesaikan soal dan disertai alasan yang tepat. Sedangkan siswa dengan kemampuan numerasi tinggi pada level pemahaman mendapatkan informasi dari bacaan dengan tepat sehingga siswa memahami soal, pada level penerapan siswa memberikan solusi penyelesaian dari soal, dan pada level penalaran siswa mampu menganalisis dan menyelesaikan soal disertai alasan yang tepat. Peneliti menyarankan agar guru dan siswa memperbanyak latihan soal AKM untuk melatih kemampuan numerasi siswa dalam pemahaman, penerapan, dan penalaran siswa agar siswa menjadi terbiasa dalam proses kognitifnya serta mempersiapkan siswa menghadapi soal AKM.</p> katherina estherika anggraini Rini Setianingsih ##submission.copyrightStatement## 2022-07-08 2022-07-08 11 3 837 849 10.26740/mathedunesa.v11n3.p837-849 Low Vision Student Errors in Solving Area and Circumference of Plane Figures Problems and Its Alternative Solutions https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/46731 <p>Mathematics uses a lot of visual representations, one of which is geometry. In capturing mathematical information, visual sensing plays a very important role. This has an impact on low vision students in understanding and mastering the material. This study is interested to describe errors experienced by a low vision student in solving the problem of determining the area and circumference of plane figures and its alternative solutions. This research is an intrinsic case study research with a qualitative approach. The research subject was one low vision student with normal cognitive development. Data analysis to determine student errors is described using Newman's Error Analysis. The results showed that students did not have difficulty in reading, but experienced major errors in determining the completion steps for a problem (Transformation Errors). Errors in understanding the context (Comprehension Errors) problems often occur when students are faced with complex problems. Other errors occur in the calculation (Process Skill Errors) and writing the final result (Encoding Errors). This research can be an evaluation for teachers in planning mathematics learning activities using appropriate and varied learning methods and media.</p> Firstian Angger Aprilio Rooselyna Ekawati ##submission.copyrightStatement## 2022-07-09 2022-07-09 11 3 850 858 10.26740/mathedunesa.v11n3.p850-858 DEVELOPMENT OF ANDROID-BASED EDUTAINMENT MATHEMATICS LEARNING MEDIA ON ELLIPSE MATERIAL https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/46910 <p>Learning media is a learning aid that act as an intermediary in conveying instructional information which are one of the instruments that determine the success of learning process. The research aim is to produce an edutainment mathematics learning media based android on ellipse materials that is good and decent that can be used in the learning process. The media was developed to attract students' interest in ellipse which is considered difficult by some students The qualification of the media cover three aspects of validity, practical, and effective. This research is developed using ADDIE model which consists of analysis, design, development, implementation, and evaluation. The developed media was conducted with limited trials with the research subjects are grade XI students of SMAN 1 Kedungwaru. The instrument used on this research are validation sheets, questionnaires test of practicality, and students test. Based on the data obtained the result of validity test from the experts stated that the media was categorized as valid, from the questionnaires test of practicality from students the media was categorized as practical, and from the student test result showed that 80% of the students met the completeness limit so the media categorized as effective. The result concluded that the developed media categorized as decent and can be used in learning process.</p> <p><strong>Keywords:</strong> ADDIE, android, edutainment, ellips, development, learning media</p> Tuwuh Dwi Putra Wardana Rooselyna Ekawati ##submission.copyrightStatement## 2022-07-10 2022-07-10 11 3 859 867 10.26740/mathedunesa.v11n3.p859-867 PROFIL BERPIKIR KRITIS SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL HIGHER ORDER THINKING SKILLS DITINJAU DARI TINGKAT KECEMASAN MATEMATIKA https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/47367 <p>Berpikir kritis adalah aktivitas mental individu untuk mengembangkan pengetahuan yang dimiliki dengan mempertimbangkan, mengevaluasi, dan menghubungkan informasi dengan fakta atau informasi lain dari berbagai sumber untuk tujuan membuat keputusan yang rasional. Ada beberapa faktor yang memengaruhi proses berpikir kritis matematis seseorang, salah satunya adalah adanya perbedaan kecemasan matematika. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan profil berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal High Order thinking Skills (HOTS) ditinjau dari tingkat kecemasan matematika. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini dari 2 siswa kelas VIII dengan tingkat kemampuan matematika dan jenis kelamin sama antara lain siswa dengan kecemasan matematika rendah dan siswa dengan kecemasan matematika tinggi. Pengambilan data dilakukan dengan memberikan tes kemampuan matematika, angket kecemasan matematika (AKM), tes pemecahan masalah (TPM), dan wawancara. Selanjutnya data pemecahan masalah yang diperoleh dianalis menggunakan kriteria berpikir kritis menurut Enis yang disingkat dengan FRISCO yaitu <em>Focus </em>(Fokus)<em>, Reason </em>(Alasan)<em>, Inference </em>(Kesimpulan)<em>,</em> <em>Situation </em>(Situasi)<em>, Clarity </em>(Kejelasan)<em>, </em>dan<em> Overview </em>(Meninjau Kembali). Pada hasil penelitian didapat bahwa siswa yang berkecemasan matematika rendah menunjukkan semua kriteria berpikir kritis <em>Fokus, Reason, Inference, Situation, Clarity, Overview</em> dalam menyelesaikan soal HOTS level menganalisis(C4), level mengevaluasi (C5), sekaligus level mencipta(C6). Namun siswa berkecemasan matematika tinggi menjukkan semua kriteria berpikir kritis <em>Fokus, Reason, Inference, Situation, Clarity, Overview</em> dalam menyelesaikan soal HOTS level menganalisis(C4), menunjukkan kriteria berpikir kritis kritis <em>Focus, Reason, Overview</em> dalam menyelesaikan soal HOTS level mengevaluasi (C5), dan menunjukkan kriteria berpikir kritis kritis <em>Reason</em> saja dalam menyelesaikan soal HOTS level mencipta (C6). Hal ini menunjukkan bahwa siswa berkecemasan matematika rendah memiliki proses berpikir kritis lebih baik dibandingkan siswa berkecemasan matematka tinggi.</p> <p><strong>Kata Kunci : </strong>Berpikir Kritis, <em>High Order thinking Skills</em>, Kecemasan Matematika</p> SITI MAKRUFAH ##submission.copyrightStatement## 2022-07-11 2022-07-11 11 3 868 883 10.26740/mathedunesa.v11n3.p868-883 Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika Siswa Tunarungu pada Aljabar: Unsur dan Bentuk Operasi Aljabar https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/48332 <p>Siswa berkebutuhan khusus adalah siswa yang memiliki keterbatasan fisik, emosi dan sosial. Salah satu siswa berkebutuhan adalah siswa tunarungu. Konsep unsur dan operasi bentuk aljabar wajib dikuasai oleh siswa karena merupakan materi dasar aljabar dan menjadi prasyarat untuk materi-materi berikutnya. Kemampuan pemahaman konsep matematika menjadi salah satu tujuan pembelajaran matematika di sekolah yang harus dicapai oleh siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk emberikan gambaran bagaimana kemampuan siswa tunarungu memahami konsep matematika pada topik aljabar dalam materi unsur dan operasi bentuk aljabar menurut teori APOS. Subjek penelitian ini adalah seorang siswa tunarungu kelas X. Subjek penelitian yang dipilih adalah siswa tunarungu kurang dengar dengan tujuan memungkinkan interaksi yang baik antara peneliti dan subjek. Instrumen penelitian menggunakan tes dan wawancara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif eksploratif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Siswa tunarungu belum mampu menjelaskan unsur-unsur dan operasi bentuk aljabar secara langsung dengan benar; 2) Siswa tunarungu dapat menyelesaikan sebagian masalah aljabar menggunakan sifat-sifat operasi aljabar dari tes yang diberikan, tetapi siswa tidak memberikan respon ketika diminta menjelaskan hasil kerja siswa dalam menyelesaikan permasalahan mengenai sifat-sifat operasi aljabar; 3) Siswa tunarungu tidak memperhatikan nilai negatif pada suatu suku dalam memilah dan mengelompokkan unsur-unsur aljabar. Dalam menghadapi masalah pengelompokkan unsur-unsur aljabar, siswa tunarungu tidak menyederhanakan bentuk aljabar terlebih dahulu untuk kemudian memilah dan mengelompokkan unsur-unsur aljabar; 4) Siswa belum mampu mengaplikasikan operasi bentuk aljabar. Siswa tunarungu juga hanya menyebutkan dan tidak dapat menjelaskan contoh masalah kehidupan sehari-hari yang dapat diselesaikan dengan memanfaatkan konsep unsur dan operasi bentuk aljabar.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Pemahaman Konsep, Siswa Tunarungu, Aljabar</p> Candra Ainur Rofiq Pradnyo Wijayanti ##submission.copyrightStatement## 2022-07-21 2022-07-21 11 3 884 893 10.26740/mathedunesa.v11n3.p884-893 DEVELOPMENT OF ELECTRONIC MODULE WITH AUGMENTED REALITY ON PYRAMID FOR VIII GRADE https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/48354 <p>In order to create a joyful learning environment, especially during a pandemic that requires learning to be carried out online, an innovation is needed such as the use of interactive learning media for mutual learning which can be accessed online. Electronic modules with Augmented Reality are packaged in the form of learning media that can be used independently everytime and everywhere. This study aims to develop an electronic module with android-based Augmented Reality named "AR LIMAS" as a media to improve students' abilities on pyramid geometry problem. The selection of pyramid material in the electronic module was based on several previous studies regarding the misconceptions experienced by students on pyramid. The development of this electronic module used the ADDIE research method by taking into account the scores ​​of validity, practicality, and effectiveness for the creation of good learning media. This electronic module was tested on 3 students of VII grade who have low, medium, and high mathematical ability. The categorization of students' mathematical ability was based on the final examination scores in the previous semester. Based on the assessment of experts, this electronic module was declared to have a good category with a validity percentage of 86.59%. Then the results of the questionnaire using the electronic module obtained a practicality percentage value of 98.35% with a very good category. The results of pretest with an average score of 15 increased in posttest with an average score of 82.5, so the module was considered effective in improving students' understanding on pyramid.</p> <p><strong>Keywords: </strong>electronic module, android, augmented reality, pyramid, development.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p> Evalia Nuryana Atik Wintarti ##submission.copyrightStatement## 2022-07-21 2022-07-21 11 3 894 903 10.26740/mathedunesa.v11n3.p894-903 Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMP dalam Menyelesaikan Soal Aljabar Mengacu pada Watson-Glaser Critical Thinking Appraisal https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/48432 <p>Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu keterampilan 4c harus dimiliki oleh siswa sebagai generasi abad 21. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis siswa SMP dalam menyelesaikan soal aljabar mengacu pada <em>Watson Glaser Critical Thinking Appraisal. </em>Analisis kemampuan berpikir kritis penelitian ini menggunakan kriteria dari Ennis yaitu <em>Focus, Reason, Inference, Situation, Clarity, </em>dan <em>Overview. </em>Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan instrumen utama yaitu peneliti sendiri dan instrumen pendukung berupa tes tertulis kemampuan berpikir kritis dan pedoman wawancara. Subjek yang dipilih adalah siswa kelas VII masing-masing satu siswa pada tiap kategori kemampuan berpikir kritis siswa yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa berkategori tinggi memiliki kemampuan berpikir kritis tertinggi dengan memenuhi 6 kriteria yaitu <em>FRISCO</em> pada tiap soal <em>WGCTA </em>dengan hasil sangat kritis. Siswa berkategori sedang memiliki kemampuan berpikir kritis dengan memenuhi 5 kriteria yaitu <em>FRISC </em>pada soal penarikan kesimpulan dan menafsirkan informasi dengan hasil sangat kritis, 4 kriteria yaitu <em>FISC</em> pada soal asumsi dengan hasil kritis, dan 3 kriteria <em>FRS </em>pada soal deduksi dan menganalisis argumen dengan hasil kritis. Siswa berkategori rendah memiliki kemampuan berpikir kritis terendah dengan memenuhi 2 kriteria yaitu <em>FC </em>pada soal asumsi dengan hasil tidak kritis dan 1 kriteria yaitu <em>F </em>pada soal penarikan kesimpulan, deduksi, menafsirkan informasi, dan menganalisis argumen dengan hasil tidak kritis. Hasil penelitian ini menjadi masukan bagi guru untuk mendorong siswa meningkatkan kemampuan berpikir kritis melalui kegiatan didalam kelas seperti diskusi agar terjadinya interaksi antar siswa dan siswa dengan guru untuk memudahkan siswa mengolah informasi pada soal, serta guru dapat memberikan latihan soal kepada siswa dengan tipe <em>WGCTA </em>seperti penarikan kesimpulan, asumsi, deduksi, menafsirkan informasi, dan menganalisis argumen untuk melatih berpikir kritis siswa.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Kemampuan Berpikir Kritis, Kategori Subjek, <em>FRISCO</em>.</p> Dwi Fatmarani Rini Setianingsih ##submission.copyrightStatement## 2022-07-21 2022-07-21 11 3 904 923 10.26740/mathedunesa.v11n3.p904-923 Miskonsepsi Siswa SMP Pada Materi Grafik Fungsi Kuadrat https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/48579 <p>Miskonsepsi pada siswa dapat terjadi apabila siswa tidak memahami secara baik dan benar mengenai konsep matematika beserta keterkaitan antar konsep. Pengetahuan awal siswa yang tidak dipertimbangkan dan dipersiapkan dengan baik menyebabkan miskonsepsi semakin kompleks, khususnya pada materi grafik fungsi kuadrat. Dalam mengukur sebuah miskonsepsi dapat digunakan metode CRI (<em>Certainty of Response Index</em>), yakni tingkat kepastian atau keyakinan yang dapat diukur melalui soal-soal yang diberikan kepada responden. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui miskonsepsi yang dialami siswa kelas IX di salah satu SMPN di daerah taman dalam menyelesaikan soal grafik fungsi kuadrat dan mengetahui faktor penyebab miskonsepsi yang dialami siswa kelas IX dalam menyelesaikan soal grafik fungsi kuadrat menggunakan tes CRI dan wawancara terhadap subjek miskonsepsi. Pendekatan penelitian digunakan dengan metode kualitatif. Populasi penelitian yaitu siswa kelas IX-F SMPN 3 Taman berjumlah 30 siswa dengan diberikan tes CRI tentang materi grafik fungsi kuadrat. Dari hasil tes CRI, ditemukan 3 siswa yang mengalami miskonsepsi pada materi grafik fungsi kuadrat. Hasil penelitiannya adalah miskonsepsi dalam menentukan konsep prasyarat atau konsep awal persamaan fungsi kuadrat, miskonsepsi terjadi pada penulisan symbol dan atribut yang digunakan dalam rumus persamaan fungsi kuadrat, dan miskonsepsi dalam menerapkan rumus persamaan fungsi kuadrat. Sedangkan faktor penyebab miskonsepsi adalah ketidaksiapan siswa sebelum pembelajaran berlangsung yang berkaitan dengan konsep awal bentuk persamaan fungsi kuadrat. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi wawasan evaluasi bagi pengajar matematika untuk memperhatikan kembali dengan baik kondisi pemahaman siswa, khususnya dalam pemahaman materi grafik fungsi kuadrat agar tidak terjadi miskonsepsi.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p> <p><strong>Kata kunci: </strong>Miskonsepsi, Grafik Fungsi Kuadrat, CRI</p> Sherina Ayu Salsabilah Endah Budi Rahaju ##submission.copyrightStatement## 2022-07-25 2022-07-25 11 3 924 937 10.26740/mathedunesa.v11n3.p924-937 PERBEDAAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA PADA MATERI SPLTV DITINJAU DARI TIPE KEPRIBADIAN EKSTROVERT DAN INTROVERT https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/48456 <p>Perbedaan tipe kepribadian yang dimiliki setap orang dapat menyebabkan perbedaan dalam memecahkan suatu masalah. Tujuan dari penelitian ini ialah mencari perbedaan kemampuan pemecahan masalah antara siswa ekstrovert dan introvert berdasarkan langkah pemecahan masalah menurut Polya. Subjek dalam penelitian ini ialah siswa kelas X IPA-3 yang berjumlah 28 orang di salah satu SMA Negeri yang ada di Bojonegoro. Instrumen yang digunakan ialah angket tipe kepribadian dan tes pemecahan masalah materi SPLTV. Teknik analisis data secara kuantitatif digunakan untuk menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah&nbsp;&nbsp; dilihat dari rata-rata hasil skor sedangkan untuk mengetahui perbedaan lebih jauh mengenai perbedaan tersebut maka dianalisa secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada langkah memahami masalah 58% siswa ekstrovert kurang lengkap dalam menyebutkan informasi yang terdapat pada soal. Sementara , 88% siswa introvert menyebutkan keseluruhan informasi yang terdapat dalam soal, baik yang diketahui maupun yang ditanyakan. Pada langkah merencanakan pemecahan masalah 67% siswa ekstrovert hanya menuliskan satu metode saja yang akan mereka gunakan, yakni metode eliminasi. Sementara itu, 94% siswa introvert menuliskan kedua metode yang akan digunakan, yakni eliminasi dan substitusi. Pada langkah melaksanakan pemecahan masalah, 50% siswa ekstrovert tidak mampu menyelesaikan jawaban sampai akhir. &nbsp;Disisi lain, 81% siswa introvert mampu menyelesaikan masalah sampai akhir secara lengkap dan sistematis. Pada langkah memeriksa kembali, 42% siswa ekstrovert hanya memeriksa sebagian&nbsp; langkah yang telah dilakukan. Hal berbeda ditunjukkan oleh 75% siswa introvert yang teliti memeriksa langkah demi langkah yang telah dilalui dan menyocokkan kembali hasil jawaban dengan perintah dalam soal sehingga menghasilkan jawaban yang tepat.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>kemampuan pemecahan masalah, materi SPLTV, tipe kepribadian ekstrovert dan introvert.</p> Anggi Atika Sari Ika Kurniasari ##submission.copyrightStatement## 2022-07-26 2022-07-26 11 3 938 947 10.26740/mathedunesa.v11n3.p938-947 PROFIL BERPIKIR KRITIS SISWA SMP DALAM MENYELESAIKAN MASALAH SPLDV DITINJAU DARI GAYA BELAJAR https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/48809 <p>Berpikir kritis merupakan proses berpikir seseorang dalam mengolah informasi yang diperoleh hingga mendapatkan simpulan yang valid. Untuk mengidentifikasi proses berpikir kritis siswa salah satunya bisa dengan kegiatan pemecahan masalah. Salah satu faktor yang memberi pengaruh terhadap berpikir kritis ialah gaya belajar yang digunakan oleh siswa. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mendeskripsikan profil berpikir kritis siswa SMP dalam menyelesaikan masalah sistem persamaan linear dua variabel yang ditinjau dari gaya belajar kinestik, auditorial, dan visual. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah tiga siswa yang mempunyai gaya belajar yang berbeda, memiliki jenis kelamin yang sama dan kemampuan matematika yang setara. Penelitian ini juga menggunakan pedoman wawancara, tes berpikir kritis, dan angket gaya belajar sebagai instrumen penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa dengan gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik pada proses pengenalan, siswa menentukan pokok permasalahan dengan tepat. Pada proses analisis, siswa dengan gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik menentukan strategi yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dan membuat kesimpulan. Pada proses evaluasi, siswa dengan gaya belajar visual, audirorial, dan kinestetik mengecek kembali perhitungan dan langkah-langkah yang digunakan dalam menyelesaikan masalah. Pada proses memikirkan alternatif penyelesaian, siswa dengan gaya belajar visual dan kinestetik memikirkan alternatif penyelesaian lain dalam memecahkan permasalahan. Sedangkan siswa dengan gaya belajar auditorial tidak memikirkan alternatif penyelesaian lain.</p> Ni'amatul Aulia Nur Fitri Ismail Ismail ##submission.copyrightStatement## 2022-07-28 2022-07-28 11 3 948 957 10.26740/mathedunesa.v11n3.p948-957 Profil Berpikir Kritis Siswa dalam Menyelesaikan Soal AKM Numerasi Ditinjau dari Gaya Kognitif Visualizer dan Verbalizer https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/46829 <p>Pada saat ini dunia pendidikan telah memasuki era abad ke-21, dimana semua kemampuan yang akan dimiliki siswa semuanya berorientasi pada kemampuan yang bernama “<em>The Four C’s”</em> atau 4C, kemampuan tersebut yaitu <em>critical thinking, creativity, communication, </em>dan <em>collaboration</em>. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana gambaran berpikir kritis siswa yang memiliki gaya kognitif <em>visualizer </em>dan gaya kognitif <em>verbalizer </em>dalam menyelesaikan soal AKM Numerasi. Penelitian ini mengambil dua orang subjek yang memiliki jenis kelamin yang sama, tingkat kemampuan matematika yang setara, dan gaya kognitif yang berbeda. Data berpikir kritis dan data hasil wawancara masing-masing dikumpulkan menggunakan tes tulis dan wawancara. Dari ini peneliti ini menghasilkan bahwa siswa <em>visualizer</em> mampu memenuhi semua kategori berpikir kritis dalam menyelesaikan soal AKM Numerasi, yaitu kategori klarifikasi, asesmen, inferensi, dan strategi, sedangkan siswa <em>verbalizer</em> hanya mampu memenuhi beberapa kategori berpikir kritis saja, yaitu kategori asesmen dan inferensi.</p> Fajar Wahyu Hidayat Ismail Ismail ##submission.copyrightStatement## 2022-06-30 2022-06-30 11 3 684 698 10.26740/mathedunesa.v11n3.p684-698 Kemampuan Numerasi Siswa MA dalam Menyelesaikan Soal Setara Asesmen Kompetensi Minimum pada Konten Aljabar https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/47764 <p>Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) merupakan sebuah penilaian kompetensi mendasar seperti literasi membaca dan numerasi siswa yang diperlukan dalam kehidupan. Pada penelitian ini akan dibahas tentang kemampuan numerasi yang memuat tiga konteks dan tiga proses kognitif pada konten aljabar. Penelitian dengan pendekatan kualitatif deskriptif ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan numerasi siswa dalam menyelesaikan soal yang setara dengan AKM. Subjek penelitian ini yaitu 36 siswa Madrasah Aliyah 1 Pasuruan kelas XI MIA-1 tahun ajaran 2021/2022. Subjek diberikan tes berupa soal setara AKM yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan numerasi yang kemudian diambil sebanyak 3 siswa untuk dilaksanakannya wawancara. Berdasarkan hasil dan wawancara, siswa kemampuan numerasi rendah dapat menentukan prosedur dan fakta dan dapat menyelesaikan permasalahan aljabar yang bersifat rutin dalam konteks personal. Dalam konteks sosial budaya dapat menyebutkan konsep aljabar yang digunakan dan pada konteks saintifik dapat menyebutkan fakta. Siswa kemampuan numerasi sedang dapat memahami fakta dan prosedur pada konteks personal, menyebutkan konsep pada konteks sosial budaya dan dapat meyebutkan fakta pada konteks saintifik, dapat menyelesaikan permasalahan aljabar yang bersifat rutin dalam konteks personal dan sosial budaya serta menyelesaikan masalah aljabar yang bersifat tidak rutin dalam konteks personal. Siswa kemampuan numerasi tinggi dapat menentukan prosedur dan fakta dalam konteks personal, dapat menentukan konsep pada konteks sosial budaya dan dapat menentukan fakta pada konteks saintifik. Dalam masalah yang bersifat rutin, dapat menyelesaikan masalah aljabar dari ketiga konteks sedangkan dalam masalah aljabar yang tidak rutin, siswa dapat menyelesaikan pada konteks personal dan saintifik. Oleh karena itu untuk meningkatkan kesiapan siswa dalam menghadapi AKM disarankan dalam kegiatan belajar mengajar guru memberikan banyak latihan soal yang setara AKM dengan konten aljabar.</p> Afifa Nur Arofa Ismail Ismail ##submission.copyrightStatement## 2022-07-08 2022-07-08 11 3 779 793 10.26740/mathedunesa.v11n3.p779-793 Berpikir Aljabar Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Ditinjau dari Gaya Blajar Visual, Auditori, dan Kinestetik. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/46715 <p>Berpikir aljabar&nbsp; merupakan&nbsp; aktivitas mental&nbsp; seseorang dalam menyelesaikan masalah yang ditentukan dari enam aktivitas berpikir matematis untuk menganalisis, menggunakan simbol-simbol aljabar, menggunakan model matematika untuk mengetahui dan mewakili hubungan situasi matematika dengan aljabar serta perubahan dalam berbagai konteks. Pendekatan yang paling tepat untuk membangun dan mengembangkan berpikir aljabar siswa adalah&nbsp; pemecahan masalah Salah satu karakteristik siswa yang harus dipahami dan diperhatikan oleh seorang guru dalam proses pembelajaran adalah gaya belajar siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan berpikir aljabar siswa SMP dalam menyelesaikan masalah aljabar ditinjau dari gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket gaya belajar, soal tes proses berpikir aljabar siswa, dan pedoman wawancara. Subjek penelitian 3 siswa kelas VIII di SMPN 1 Krian berdasarkan gaya belajar yang diperoleh dari hasil angket gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik dengan kemampuan matematika yang setara yaitu kemampuan matematika sedang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketiga subjek melakukan keenam indikator dari tahap generalisasi, abstraksi, berpikir dinamis, pemodelan, berpikir analitis, dan organisasi. Siswa gaya belajar visual dan kinestetik menentukan aturan umum persamaan yang digunakan dalam memecahkan masalah menggunakan simbol aljabar. Sedangkan siswa gaya belajar auditorial mengungkapkan penjelasan secara verbal (kata-kata).</p> <p>Kata Kunci: Berpikir aljabar, masalah aljabar, gaya belajar.</p> Aghni Mey Azahra Masriyah Masriyah ##submission.copyrightStatement## 2022-07-08 2022-07-08 11 3 744 753 10.26740/mathedunesa.v11n3.p744-753