MATHEdunesa https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa <p>MATHEdunesa merupakan jurnal online ilmiah pendidikan matematika yang diterbitkan oleh Jurusan Matematika Fakultas MIPA Universitas Negeri Surabaya. Jurnal ini terbit tiap empat bulan sekali dan menerbitkan artikel asli hasil penelitian di bidang pendidikan matematika, yaitu meliputi kajian tentang pengembangan model pembelajaran, <em>problem solving</em>, berfikir kreatif, pendidikan matematika realistik, pembelajaran kontekstual, inovasi pembelajaran dan pengembangan media pembelajaran.</p> Jurusan Matematika UNESA en-US MATHEdunesa 2301-9085 Eksplorasi Berpikir Kritis Siswa dalam Aktivitas Collaborative Problem Solving Pada Penerapan Barisan dan Deret https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/39301 <p>Berpikir kritis penting dimiliki untuk bersaing di abad ke-21. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi berpikir kritis siswa dalam aktivitas <em>collaborative problem solving</em> pada penerapan barisan dan deret<em>.</em> Pendekatan penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif bersifat eksploratif. Subjek terdiri dari siswa kelas XII MIPA 3 di SMAN 1 Balongpanggang dengan satu kelompok terdiri dari dua siswa dengan kriteria pasangan kolaborasi berpikir kritis tinggi dan rendah, sedang dan rendah, serta berpikir kritis tinggi dan sedang. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu tes berpikir kritis dalam <em>collaborative problem solving</em> dan wawancara yang dianalisis dengan reduksi data, penyajian data dan penyimpulan. Data yang diperoleh akan dianalisis berdasarkan indikator berpikir kritis dalam <em>collaborative problem solving.</em> Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa berpikir kritis siswa dalam <em>C</em><em>ollaborative problem solving </em>&nbsp;terkait penerapan barisan dan deret pada pasangan kolaborasi&nbsp; berpikir kritis tinggi dan rendah dapat melewati indikator identifikasi, analisis dan evaluasi. Sedangkan berpikir kritis siswa dalam <em>C</em><em>ollaborative problem solving </em>&nbsp;terkait penerapan barisan dan deret pada pasangan kolaborasi&nbsp; berpikir kritis sedang dan rendah tidak dapat melewati analisis dan evaluasi.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong><em>berpikir kritis, collaborative problem solving, barisan dan deret</em></p> Siti Munawaroh Tatag Yuli Eko Siswono ##submission.copyrightStatement## 2021-06-08 2021-06-08 10 2 PDF_181 188 10.26740/mathedunesa.v10n2.pPDF_181-188 ANALYSIS OF STUDENT'S MATHEMATICS REPRESENTATION IN SOLVING MATHEMATICS PROBLEMS BASED ON SPATIAL COGNITIVE STYLE https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/39642 <p>Mathematical representation is important to be trained in learning so that students can express ideas in obtaining a solution to a problem. This study aims to describe the mathematics representation of students in solving mathematics problems based on spatial cognitive style. This research is a descriptive research with a qualitative approach. The subjects of this study were three students of class XI MA Miftahul Qulub Pamekasan consisting of female gender students with equal mathematical abilities, namely all hig, and having different levels of spatial cognitive style, namely high, medium, and low. The instruments used in this study were spatial cognitive style tests, math problem solving tests, and interview guides. The results of this study indicate that (1) Students with a high spatial cognitive style understand the problem by presenting the information on the questions with visual representations in the form of tables and mathematical expressions of mathematical inequalities; planning problem solving using representations of words; carry out problem-solving plans using representations of mathematical expressions in calculations and visual representations in graphical form; checking again using representations of mathematical expressions, word representations, and visual representations. (2) Students with medium spatial cognitive style understand the problem by presenting the information on the questions with a visual representation in the form of tables and mathematical expressions of mathematical inequalities; planning problem solving using representations of words; carry out problem-solving plans using representations of mathematical expressions in calculations and visual representations in graphical form; checking again using representations of mathematical expressions and verbal representations but have not been able to provide conclusions. (3) Students with low spatial cognitive style understand the problem by presenting some of the information on the problem with a visual representation in the form of tables and mathematical expressions of mathematical inequalities; planning problem solving using representations of words; carry out problem-solving plans with representations of mathematical expressions; however, unable to checking again. Students with high and medium spatial cognitive styles can solve problem solving problems, but have different representational tendencies, while students with low spatial cognitive styles cannot solve problem solving problems. The results of this study can be a reference for teachers to pay attention to students' spatial cognitive styles in the learning process so that it is easier for students to understand the material.</p> Majidatul Himmah Endah Budi Rahaju ##submission.copyrightStatement## 2021-06-08 2021-06-08 10 2 PDF_189 199 10.26740/mathedunesa.v10n2.pPDF_189-199 Development of Interactive Module Based on Realistic Mathematics Education for the Material of Numbers https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/39631 <p>During the Covid 19 pandemic, which required distance or online learning makes learning material difficult for students to understand, especially number material in junior high schools. One of the ways that teachers can use to facilitate students in learning is by taking approaches, one of which is the Realistic Mathematics Education (RME) approach. To support online learning where students can study independently with teacher guidance so that learning media is very important. One of the learning media developed is an interactive module based RME. The purpose of this research is to describe how the process of developing interactive modules based on realistic mathematics education on numbers and how the results of developing interactive modules are measured from the aspects of validity, practicality, and effectiveness as an alternative learning media. This study used research and development methods, the model used in this research was ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation). The subjects of this study were 15 students in grade 7 junior high school. The test results showed that the module is valid with a percentage of 76,13% valid, from teachers 92,49% practical, from students 86,33% practical, and 88,66% effectiveness. The uniqueness of this interactive module is that it has interactive features such as videos, practice questions, and related learning media.&nbsp; Based on the research conducted, the interactive modules can be said to be a good mathematics learning medium.</p> Haqqi Hidayatullah Rooselyna Ekawati ##submission.copyrightStatement## 2021-06-11 2021-06-11 10 2 200 205 10.26740/mathedunesa.v10n2.p200-205 Kemampuan Berpikir Lateral Siswa SMP Dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Ditinjau dari Perbedaan Jenis Kelamin https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/39767 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir lateral siswa SMP dalam menyelesaikan masalah matematika ditinjau dari perbedaan jenis kelamin. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Untuk itu peneliti memilih siswa kelas VIII-1 SMPN 4 Waru sebagai subjek penelitian. Dua subjek terpilih yaitu satu subjek laki – laki dan satu subjek perempuan melalui tes kemampuan matematika yang memiliki kemampuan matematika tinggi dan komunikasi yang baik berdasarkan hasil konsultasi dengan guru pengajar. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes kemampuan matematika, tes pemecahan masalah, dan wawancara. Kemampuan berpikir lateral diperoleh melalui analisis hasil tes pemecahan masalah dan wawancara terhadap dua orang subjek terpilih mengenai tes pemecahan masalah yang telah diselesaikan. Hasilnya adalah terdapat perbedaan antara kemampuan berpikir lateral siswa laki – laki dengan perempuan. Perbedaan keduanya yaitu tampak ketika mereka melakukan penyelesaian terhadap masalah dan cara mereka berpikir menyelesaikan masalah. Kemampuan berpikir lateral siswa laki – laki yaitu mampu memodelkan soal, menuliskan permasalahan dengan 3 penyelesaian berbeda, dan lebih cepat menemukan ide atau langkah penyelesaian suatu permasalahan, serta banyak ide untuk mencari solusi penyelesaian. Sedangkan kemampuan berpikir lateral siswa perempuan yaitu mampu memodelkan soal, mengerti variabel, menuliskan permasalahan dengan 2 penyelesaian berbeda, dan membaca berulang kali untuk bisa menyelesaikan permasalahan atau menemukan ide penyelesaian suatu permasalahan, serta lebih teliti dalam proses penyelesaian. Pada penelitian ini siswa laki – laki cenderung lebih unggul dalam menyelesaikan masalah matematika dibandingkan siswa perempuan. Sedangkan siswa perempuan lebih teliti dalam proses penyelesaian dan perhitungan. Berdasarkan hasil penelitian, guru dalam melakukan pembelajaran di kelas perlu melatihkan pemecahan masalah dengan memperhatikan perbedaan kemampuan berpikir lateral siswanya terutama dalam kelas yang heterogen jenis kelaminnya<br>Kata Kunci: Berpikir lateral, menyelesaikan masalah, perbedaan jenis kelamin.</p> Siti Ulin Nikmah Endah Budi Rahaju ##submission.copyrightStatement## 2021-06-11 2021-06-11 10 2 206 219 10.26740/mathedunesa.v10n2.p206-219 PROFILE OF STUDENTS’ ANALOGICAL REASONING IN SOLVING MATHEMATICS PROBLEMS: A STUDY BASED ON SELF-REGULATED LEARNING https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/39625 <p>Analogical reasoning is an important ability for students related to reasoning activities by thinking carefully about the regularity of patterns found in mathematics. One of the factors that influence analogical reasoning is self-regulated learning, which shows the ability of the student to analyze, take strategies, and the ability to control their learning environment. This research aims to describe students’ analogical reasoning in solving mathematics problems based on self-regulated learning. The subjects were one student with low self-regulated learning and one student with high self-regulated learning. The research method used is descriptive qualitative, and data were obtained through analogical problem-solving tests and interviews. Subjects were chosen based on the questionnaire instruments’ categorization regarding the student's self-regulated learning and the mathematical ability test instruments. The results of this study were (1) Analogical reasoning of a student with low self-regulated learning: passed through the stages of structuring, mapping, and applying. At the structuring, the student identified all the information completely, but did not understand the problem correctly and could found the relationship between the source problem and the target problem. At the mapping stage, the mapping process only appears in the student’s mind. At the applying stage, not completely mentioned all the possible solutions to the given problems. Meanwhile, (2) Analogical reasoning of a student with high self-regulated learning passed all the analogical reasoning stages of structuring, mapping, applying, and verifying. At the structuring, the student identified all the information completely and understand the problem. At the mapping stage, the student built a new mathematical model for the target problem. At the applying, the student mentioned all the possible solutions correctly. And student did the verification.</p> <p><strong>Keywords: analogical reasoning, self-regulated learning, problem-solving</strong></p> Mar'atus Solehah Masriyah Masriyah ##submission.copyrightStatement## 2021-06-16 2021-06-16 10 2 220 229 10.26740/mathedunesa.v10n2.p220-229 Komunikasi Matematika Tulis Siswa dalam Mengajukan Masalah Matematika Konteks Pandemi Covid-19 https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/39818 <p>Komunikasi merupakan hal penting dalam pembelajaran. Salah satu cara untuk mengembangkan komunikasi matematika siswa yaitu melalui pengajuan masalah. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kemampuan komunikasi matematika tulis siswa dalam mengajukan masalah matematika konteks pandemi Covid-19. Konteks Covid-19 dalam penelitian ini diaplikasikan dalam soal yang digunakan untuk tes pengajuan masalah. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan dua subjek yang terpilih yaitu bisa mengajukan masalah dan menyelesikan masalah, bisa mengajukan masalah dan tidak bisa menyelesaikan masalah. Subjek mengerjakan Tes Pengajuan Masalah, kemudian hasil &nbsp;dianalisis berdasarkan indikator komunikasi matematika tulis siswa dalam mengajukan masalah matematika yaitu keakuratan, kelengkapan, dan kelancaran. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa siswa yang bisa mengajukan dan meyelesaikan masalah memenuhi indikator keakuratan, kelengkapan, dan kelancaran karena siswa mampu menuliskan hal yang relevan dengan masalah, menuliskan informasi yang diperoleh secara lengkap, menuliskan langkah-langkah dan hasil dengan tepat, menyebutkan rumus dengan tepat serta tepat waktu dalam mengerjakan. Siswa yang bisa mengajukan dan tidak bisa menyelesaikan masalah memenuhi indikator kelancaran, tetapi tidak akurat dan tidak lengkap karena siswa mampu menuliskan hal yang relevan dengan masalah, tidak dapat menuliskan informasi yang diperoleh, menuliskan langkah-langkah perhitungan, tetapi hasil tidak tepat, tidak mampu menyebutkan rumus dengan tepat, tepat waktu dalam mengerjakan. Saran dari penelitian ini adalah guru mampu menemukan metode yang efektif untuk melatih kemampuan komunikasi tulis siswa.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>komunikasi matematika tulis, pengajuan masalah, pandemic covid-19</p> Setia Putri Ayu Ramadani Tatag Yuli Eko Siswono ##submission.copyrightStatement## 2021-06-16 2021-06-16 10 2 230 237 10.26740/mathedunesa.v10n2.p230-237 Kreativitas Siswa dalam Memecahkan Soal HOTS (High Order Thinking Skills) Berdasarkan Tingkat Kemampuan Matematika https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/39676 <p>Kreativitas adalah suatu kemampuan untuk menciptakan ide baru dengan memodifikasi, mongkombinasikan, atau menggunakan kembali ide yang sudah ada sebelumnya. Komponen dari kreativitas yaitu kefasihan, keluwesan, dan kebaruan. Tujuan dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan kreativitas siswa dengan kemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah dalam menyelesaikan soal matematika HOTS. Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah 32 siswa kelas XI SMAN Bojonegoro yang dipilih 6 siswa sebagai subjek penelitian dengan acuan hasil nilai UTS dipilih 2 siswa dengan nilai tertinggi, 2 siswa dengan nilai sedang, dan 2 siswa dengan nilai terendah. Data penelitian diperoleh dari tugas pemecahan masalah dan wawancara. Hasil dan penelitian ini siswa berkemampuan matematika tinggi dalam menyelesaikan soal matematika HOTS pada komponen kreativitas kefasihan dapat menemukan 5 jawaban dan pada komponen fleksibilitas serta kebaruan dapat menemukan 3 cara yang berbeda dan salah satu cara yang digunakannya tidak digunakan oleh siswa yang lainnya. Tetapi komponen kebaruan tidak dicapai oleh salah satu siswa. Siswa berkemampuan matematika sedang pada komponen kefasihan dan fleksibilitas dapat menyelesaikan dengan satu cara tetapi menggunakan metode yang berbeda. Komponen fleksibilitas tidak dicapai oleh salah satu siswa berkemampuan sedang karena hanya dapat memberikan satu jawaban dengan satu cara. Pada komponen kebaruan siswa tidak dapat memberikan cara yang berbeda dan unik. Siswa berkemampuan matematika rendah pada komponen kefasihan dapat menemukan satu jawaban dengan satu cara serta&nbsp; lancar dalam menyampaikan idenya, pada komponen fleksibilitas tidak ada siswa yang dapat memberikan cara yang berbeda. Pada komponen kebaruan tidak terdapat keunikan pada jawaban kedua siswa berkemampuan rendah.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Kreativitas, HOTS, Tingkat kemampuan matematika</p> Chyntia Dewi Puspita Rini Pradnyo Wijayanti ##submission.copyrightStatement## 2021-06-24 2021-06-24 10 2 238 253 10.26740/mathedunesa.v10n2.p238-253 ABSTRAKSI REFLEKTIF SISWA BERKEMAMPUAN MATEMATIKA TINGKAT TINGGI DALAM PEMECAHAN MASALAH LINGKARAN https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/40093 <p>Abstraksi reflektif dikenal sebagai karakteristik yang paling relevan dalam hal aspek kognitif yakni membantu siswa mengkonstruksi konsep baru dari banyak konsep yang telah ia pelajari. Dengan mengusung tema abstraksi refelektif, artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan abstraksi reflektif siswa berkemampuan matematika tingkat tinggi dalam menyelesaikan permasalahan lingkaran. Subjek pada penelitian ini adalah 2 siswa kelas XI SMAN 1 Manyar tahun pelajaran 2020/2021 yang merepresentasikan kemampuan matematika tingkat tinggi. Instrumen yang digunakan adalah tugas abstraksi reflektif dan pedoman wawancara. Teknik analisis data yang dilakukan untuk menganalisis hasil tes pemecahan masalah adalah dengan menggunakan indikator abstraksi reflektif penelitian sedangkan data hasil wawancara dianalisis secara kualitatif dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan abstraksi reflektif siswa berkemampuan matematika tingkat tinggi dalam menyelesaikan masalah lingkaran telah melalui empat level abstraksi reflektif yaitu Level Recognition, Level Representation, Level Structural Abstraction, dan Level Structural Awareness. Pada level Recognition siswa berkemampuan matematika tingkat tinggi menjabarkan informasi dan konsep yang dia pahami dari permasalahan lingkaran. Pada level Representation siswa berkemampuan matematika tingkat tinggi mengubah permasalahan lingkaran kedalam bentuk simbol atau grafik. Pada level Structural Abstraction, siswa berkemampuan matematika tingkat tinggi menyelesaikan masalah dengan mengunkan informasi dan konsep pada permasalahan lingkaran tersebut. Pada level Structural Awareness, siswa berkemampuan matematika tingkat tinggi dapat menyebutkan alternatif strategi, kesulitan metode yang digunakan, dan menyelesaikan masalah lain yang sejenis tanpa kesusahan pada permasalahan lingkaran tersebut.</p> Fahilan Nur Bachtiar Susanah Susanah ##submission.copyrightStatement## 2021-06-27 2021-06-27 10 2 266 278 10.26740/mathedunesa.v10n2.p266-278 PROFIL PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA SMP DITINJAU DARI TIPE POLA ASUH ORANG TUA https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/39846 <p>Abstrak</p> <p>Pemecahan masalah merupakan inti dan tujuan dalam kurikulum matematika. Susanti (2018) menyebutkan bahwa pemecahan masalah dipengaruhi oleh perkembangan kognitif seseorang. Berkaitan dengan itu, Vygotsky dan Bandura (dalam Santrock, 2012) menyebutkan bahwa perkembangan kognitif dipengaruhi oleh pola asuh yang diterapkan oleh orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil pemecahan masalah matematika siswa SMP ditinjau dari pola asuh orang tua. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian terdiri dari tiga siswa SMP yang memiliki pola asuh otoriter, demokratis, dan permisif. Instrumen penelitian terdiri dari angket, tes, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada tahap memahami masalah, ketiga siswa menuliskan informasi yang terdapat dalam soal dan memodelkan kedalam kalimat matematika. Pada tahap membuat rencana, subjek dengan pola asuh otoriter berusaha mengaitkan konsep matematika dengan permasalahan yang ada namun masih terdapat kesalahan. Sementara itu, subjek dengan pola asuh demokratis dan permisif mengaitkan konsep yang dia pahami dengan permasalahan dan menjelaskan langkah yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan. Pada tahap melaksanakan rencana subjek dengan pola asuh otoriter menggunakan informasi pada soal untuk disubstitusikan ke dalam strategi yang telah dibuat namun masih terdapat kesalahan. Sementara itu, siswa dengan pola asuh demokratis dan permisif menggunakan informasi pada soal untuk disubstitusikan ke dalam strategi yang telah dibuat dengan tepat. Pada tahap memeriksa siswa dengan pola asuh otoriter menuliskan kesimpulan dan pengecekan pada jawaban yang dia peroleh namun masih terdapat kesalahan. Sementara itu siswa dengan pola asuh demokratis dan permisif menyebutkan kesimpulan dan melakukan pengecekan jawaban.</p> <p><strong>Kata kunci</strong>: pemecahan masalah matematika, pola asuh orang tua.</p> Muhammad Ulinnuha Siti Khabibah ##submission.copyrightStatement## 2021-06-27 2021-06-27 10 2 279 288 10.26740/mathedunesa.v10n2.p279-288 Profil Berpikir Divergen Siswa SMP dalam Pemecahan Masalah Open-ended ditinjau dari Gaya Belajar Global-Analitik https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/40152 <p>Berpikir divergen adalah kemampuan berpikir terbuka dalam menemukan berbagai macam ide/solusi atas suatu masalah sehingga menghasilkan jawaban yang benar dan penyelesaian yang logis. Pemecahan masalah yang sesuai dengan prinsip berpikir divergen yaitu pemecahan masalah <em>open-ended</em>. Perbedaan gaya belajar global dan analitik dapat mempengaruhi siswa dalam mencari ide penyelesaian dari suatu masalah. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan profil berpikir divergen siswa dalam pemecahan masalah matematika <em>open-ended</em> ditinjau dari gaya belajar global-analitik. Pengumpulan data penelitian menggunakan Angket Gaya Belajar (AGB), Tugas Pemecahan Masalah <em>Open-ended</em> (TPMO) dan pedoman wawancara. Subjek dalam penelitian yakni satu siswa dengan gaya belajar global dan satu siswa dengan gaya belajar analitik. Dari hasil analisis dan pembahasan siswa bergaya belajar global pada aspek <em>fluency </em>dapat memberikan dua jawaban berbeda dan relevan dengan masalah. Pada aspek <em>flexibility </em>siswa membuat dua cara/metode penyelesaian yang relevan dengan masalah yang tidak jauh berbeda cara penyelesaiannya. Pada aspek <em>originalitiy </em>siswa memberikan cara/metode penyelesaian yang berbeda namun tidak relevan dengan masalah. Pada aspek <em>elaboration </em>siswa kurang memperhatikan hal-hal detail seperti satuan panjang dan cara memperoleh jawaban. Siswa bergaya belajar analitik pada aspek <em>fluency </em>siswa memberikan dua jawaban berbeda yang tertulis dan satu jawaban secara lisan saat wawancara yang relevan dengan masalah. Pada aspek <em>flexibility </em>siswa memberikan dua cara/metode penyelesaian yang relevan dengan masalah. Pada aspek <em>originality</em> siswa memberikan cara/metode penyelesaian yang berbeda dan unik yang relevan dengan masalah. Pada aspek <em>elaboration</em> siswa menuliskan jawaban dengan detail dalam penyelesaian masalah.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Berpikir Divergen, Pemecahan Masalah <em>Open-Ended</em>, Gaya Belajar Global, Gaya Belajar Analitik</p> Intanalisa Hariyono Susanah Susanah ##submission.copyrightStatement## 2021-06-28 2021-06-28 10 2 289 300 10.26740/mathedunesa.v10n2.p289-300 Profil Komunikasi Matematika Siswa dalam Menyelesaikan Soal PISA Ditinjau dari Kemampuan Matematika https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/40196 <p>Komunikasi matematika ialah sesuatu wujud keahlian yang begitu berarti dalam matematika. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mempelajari profil komunikasi matematika siswa dalam menuntaskan soal PISA ditinjau dari kemampuan matematika. Penelitian ini ialah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain uji kemampuan matematika, tugas komunikasi matematika tulis siswa dalam menuntaskan soal PISA, serta pedoman wawancara. Subjek dalam penelitian ini ialah 3 siswa kelas IX dengan tiap-tiap jenis ialah, satu siswa dengan keahlian matematika tinggi, satu siswa dengan keahlian matematika sedang, serta satu siswa dengan keahlian matematika rendah. Hasil dari penelitian ialah siswa dengan keahlian matematika tinggi a) menuliskan perihal yang dikenal serta ditanyakan b) menuliskan statment dalam soal ke dalam model matematika c) menuliskan ide untuk menuntaskan soal d) menuliskan langkah-langkah penyelesaian serta pemecahan dengan akurat, lengkap serta mudah/lancar. Sebaliknya siswa dengan keahlian matematika rendah dalam a) menuliskan/ melaporkan apa saja yang dikenal serta ditanyakan secara akurat, lengkap, serta mudah/lancar. Berikutnya tidak akurat, tidak lengkap serta tidak lancar dalam b) menuliskan statment dari soal ke dalam model matematika c) menuliskan ide untuk menuntaskan soal d) menuliskan langkah- langkah penyelesaian serta pemecahan. Penelitian ini mencerminkan bahwa keahlian/kemampuan matematika pengaruhi siswa untuk memproses data, salah satunya pada saat mengomunikasikan ide atau gagasan dalam menuntaskan soal PISA.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Komunikasi Matematika, Soal PISA, Kemampuan Matematika.</p> amelia suryaningsih Susanah Susanah ##submission.copyrightStatement## 2021-06-30 2021-06-30 10 2 301 319 10.26740/mathedunesa.v10n2.p301-319 Argumentasi Analogis Siswa SMP Dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Ditinjau Dari Perbedaan Jenis Kelamin https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/40251 <p>Analogical argumentation is a part of analogical reasoning which has an important role in mathematics. Analogical argumentation can help one to demonstrate that a statement is reasonable. Someone's argument can be seen when solving a problem because argumentation functions to generate and support a solution to a problem. In solving problems, gender influences the process. This qualitative research aims to describe students' analogical argumentation in solving math problems in terms of gender differences. The subjects of this study were two students from class VIII-K SMP Negeri 2 Surabaya, one male and one female with the same math ability. The research was conducted online via <em>googleform</em> for the analogical argumentation test and <em>whatsapp</em> as a platform for interviews. The research instruments were the analogical argumentation test and the latest interviews. The data obtained were then analyzed using analogical argumentation components, namely classification and conclusions. The results showed that there were complaints on the classification component, namely that the two students were able to identify the characteristics or structure of the source problem and the target problem so that the comments component was able to make a statement of the solution. The difference is in the classification component, namely students who are able to identify the problem between the problem and the target problem, not quite right in the understanding of the structure. Both female students were able to use analogical argumentation to conclude both problems logically, while male students were less logical.</p> Lieska Maulita Shamimi Abdul Haris Rosyidi ##submission.copyrightStatement## 2021-06-30 2021-06-30 10 2 320 329 10.26740/mathedunesa.v10n2.p320-329 Penalaran Analogi Siswa SMA Dalam Menyelesaikan Soal Persamaan Logaritma Ditinjau Dari Kemampuan Matematika https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/40242 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan mendeskripsikan penalaran analogi siswa SMA dalam menyelesaikan persamaan logaritma berdasarkan kemampuan matematika. Subjek penelitian ini adalah tiga siswa dari kelas X MIPA di salah satu SMA Negeri di Sidoarjo yang memiliki kemampuan matematika tinggi, kemampuan matematika sedang, dan kemampuan matematika rendah, berjenis kelamin perempuan, serta komunikatif. lnstrumen penelitian ini yaitu soal tes kemampuan matematika, soal tes kemampuan penalaran analogi matematika dan pedoman wawancara. Hasil dari penelitian ini yaitu pada tahap <em>encoding </em>siswa berkemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah dapat menjelaskan dengan benar mengenai informasi dan apa yang ditanyakan pada soal sumber dan soal target. Pada tahap <em>inferring </em>siswa berkemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah mampu menentukan dan menjelaskan konsep yang dipakai dalam mengerjakan soal sumber dan soal target tetapi saat mengidentifikasi keterkaitan informasi antara soal sumber dan soal target hanya siswa dengan kemampuan matematika tinggi dan sedang yang bisa menemukan sedangkan siswa dengan kemampuan matematika rendah tidak bisa menemukan keterkaitannya. Pada tahap <em>mapping </em>siswa berkemampuan matematika tinggi dan sedang dapat menentukan keterkaitan dan menjelaskan kesamaan konsep antara soal sumber dengan soal target, sedangkan siswa dengan kemampuan matematika rendah tidak mampu menjelaskan keterkaitan dan kesamaan konsep antara soal sumber dan soal target. Pada tahap <em>applying </em>siswa berkemampuan matematika tinggi dapat mengerjakan soal target dengan tepat, siswa berkemampuan matematika sedang kurang tepat mengerjakan soal target karena tidak mengubah permisalan yang telah dibuat ke dalam bentuk logaritma, sedangkan siswa berkemampuan rendah meskipun tidak dapat menyebutkan keterkaitan antara soal sumber dan soal target ia bisa menjawab soal target dengan tepat,&nbsp; ini dikarenakan siswa hanya mengikuti prosedur-prosedur yang sudah ia pelajari sebelumnya.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>penalaran analogi, kemampuan matematika, persamaan logaritma</p> <p>&nbsp;&nbsp;</p> <p><strong>Abstract</strong></p> <p>This research is a qualitative descriptive study which aims to describe the analogical reasoning of high school students in solving logarithmic equations based on mathematical abilities. The subjects of this study were three students from class X Mathematics and Natural Sciences at a high school in Sidoarjo who have high math ability, medium math ability, and low math ability, are female, and communicative. The instruments of this study were mathematics ability test questions, mathematical analogy reasoning test questions and interview guides. The result of this research is that at the encoding stage, students with high, medium, and low math abilities can correctly explain the information and what is being asked in the source questions and the target questions. At the inferring stage, students with high, medium, and low mathematical abilities are able to determine and explain the concepts used in working on the source and target questions, but when identifying the linkage of information between the source question and the target question only students with high and moderate mathematical abilities are able to find it, while students with low math abilities are unable to find the relationship. At the mapping stage students with high and moderate mathematical abilities can determine linkages and explain the similarity of concepts between the source questions and the target questions, while students with low math abilities are unable to explain the linkages and similarities of concepts between the source questions and the target questions. At the application stage, students with high mathematical abilities can work on the target problem correctly, students with mathematical ability are not doing the target question correctly because they do not change the example that has been made into logarithmic form, while low-ability students even though they cannot mention the relationship between the source question and the target question she can answer the target questions correctly, this is because the student only follows the procedures she has learned before.&nbsp;</p> <p><strong>Keywords</strong>: analogical reasoning, math skills, logarithmic equations</p> <p>&nbsp;</p> Nur Mufidah An Nurma Endah Budi Rahaju ##submission.copyrightStatement## 2021-07-05 2021-07-05 10 2 339 349 10.26740/mathedunesa.v10n3.p339-349 ANALISIS KEMAMPUAN DAN DISPOSISI BERPIKIR REFLEKTIF MATEMATIS SISWA DITINJAU DARI PERBEDAAN JENIS KELAMIN https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/40488 <p>Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir reflektif siswa dalam matematika beserta disposisi atau sikap yang muncul, ditinjau dari perbedaan jenis kelaminnya. Subjek dalam penelitian ini yaitu siswa kelas VIII-I SMP Negeri 1 Sukorejo. Subjek dipilih 2 siswa dari masing-masing jenis kelamin dengan syarat nilai tes kemampuan berpikir reflektif matematis yang tertinggi dan jawaban yang lebih lengkap. Instrumen yang digunakan yaitu tes kemampuan berpikir reflektif matematis, skala disposisi berpikir reflektif matematis, dan pedoman wawancara. Penelitian ini diawali dengan siswa mengerjakan tes kemampuan berpikir reflektif matematis dan skala disposisi berpikir reflektif matematis. Kemudian dilakukan wawancara kepada subjek terpilih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa berjenis kelamin laki-laki memenuhi tiga fase berpikir reflektif yaitu <em>reacting, comparing, dan contemplanting</em>. Sedangkan siswa berjenis kelamin perempuan hanya memenuhi fase <em>reacting</em> dan <em>comparing</em>. Sehingga dalam hal ini, kemampuan berpikir reflektif matematis siswa berjenis kelamin laki-laki tergolong sudah mampu sedangkan siswa berjenis kelamin perempuan tergolong kurang mampu. Kemudian, untuk disposisi berpikir reflektif matematisnya sama-sama tergolong cukup. dari hasil tersebut, diperoleh <em>hubungan negatif</em> antara kemampuan berpikir reflektif matematis siswa dengan disposisi atau sikap yang muncul yang ditinjau dari perbedaan jenis kelaminnya. Dimana kemampuan siswa yang baik, tidak menjamin disposisi atau sikap yang muncul juga baik, maupun kebalikannya.</p> Nur Aini Ika Kurniasari ##submission.copyrightStatement## 2021-07-06 2021-07-06 10 2 350 363 10.26740/mathedunesa.v10n2.p350-363 Proses Berpikir Kritis Siswa SMA dalam Mengerjakan Soal Matematika HOT Ditinjau dari Kemampuan Matematika https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/40876 <p>Abstrak</p> <p><br>Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif untuk mendeskripsikan proses berpikir kritis siswa SMA dalam mengerjakan soal matematika HOT ditinjau dari kemampuan matematika tinggi dan sedang. Subjek penelitian terdiri dari dua siswa kelas XI. Instrumen yang digunakan yaitu tes kemampuan matematika, tes berpikir kritis, dan pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan proses berpikir kritis siswa yaitu, (1) terdapat persamaan kedua subjek pada tahap klarifikasi yaitu siswa mengidentifikasi informasi dan perintah yang ada pada soal; (2) terdapat perbedaan kedua subjek pada tahap asesmen yaitu subjek berkemampuan matematika tinggi mengidentifikasi informasi yang dibutuhkan dengan disertai alasan sedangkan subjek berkemampuan matematika sedang tidak disertai alasan; (3) terdapat perbedaan kedua subjek pada tahap inferensi yaitu subjek berkemampuan matematika tinggi menjelaskan hubungan dari setiap informasi dan memberikan kesimpulan lengkap, sedangkan siswa berkemampuan matematika sedang tidak memberikan kesimpulan yang lengkap untuk soal analisis; (4) terdapat perbedaan kedua subjek pada tahap strategi yaitu subjek berkemampuan matematika tinggi mengerjakan soal dengan dua cara serta mengevaluasi hasil pekerjaannya sehingga memperoleh jawaban benar, sedangkan siswa berkemampuan matematika sedang mengerjakan soal dengan satu cara dan tidak mengevaluasi hasil pekerjaanya pada soal analisis.</p> <p><br>Kata Kunci: Proses Berpikir Kritis, Soal HOT, Kemampuan Matematika.</p> Airna Perwitasari Ika Kurniasari ##submission.copyrightStatement## 2021-07-15 2021-07-15 10 2 364 373 10.26740/mathedunesa.v10n2.p364-373 PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS POWERPOINT VISUAL BASIC FOR APPLICATION (VBA) UNTUK MENDUKUNG KEMAMPUAN SPASIAL SISWA https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/40890 <p>Kemampuan spasial dibutuhkan siswa dalam mempelajari geometri ruang untuk dapat memvisualisasikan objek-objek geometri. Media pembelajaran mampu membantu memvisualisasikan objek-objek geometri yang sangat diperlukan dalam pembelajaran. Salah satu software yang bisa digunakan yaitu Microsoft Powerpoint dengan menambahkan fitur Visual Basic for Application (VBA). Tujuan dari penelitian ini yaitu mengembangkan serta menghasilkan media pembelajaran berbasis Powerpoint VBA untuk mendukung kemampuan spasial siswa pada materi bangun ruang sisi datar yang berkualitas baik dengan memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif. Model pengembangan yang dipilih yaitu model ADDIE (Analyze, Design, Develop, Implement, Evaluate). Instrumen yang dipakai meliputi angket validasi, angket kepraktisan, serta tes hasil belajar. Media pembelajaran diujicobakan secara terbatas dengan memilih 7 siswa kelas VIII sebagai subjeknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pembelajaran memenuhi kriteria valid dengan perolehan persentase kevalidan mencapai&nbsp; 90% dari ahli materi dan persentase kevalidan mencapai 76,05% dari ahli media. Berdasarkan angket kepraktisan diperoleh persentase kepraktisan media mencapai 82,14% dari penilaian 7 siswa dan 82,05% dari penilain guru matematika, sehingga media pembelajaran memenuhi kriteria praktis. Untuk keefektifan media pembelajaran dapat dilihat dari hasil posttest sebanyak 71,43% siswa telah memenuhi KKM, sehingga media pembelajaran memenuhi kriteria efektif. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa media pembelajaran berbasis Powerpoint VBA yang dikembangkan untuk mendukung kemampuan spasial siswa layak digunakan sebab memenuhi aspek valid, praktis, dan efektif serta dapat digunakan sebagai alternatif media pembelajaran bangun ruang sisi datar.</p> <p><strong>Kata Kunci </strong>: Media Pembelajaran, Powerpoint Visual Basic for Application, Kemampuan Spasial, Bangun Ruang Sisi Datar.</p> Siti Chusnul Chotimah janet Trineke Manoy ##submission.copyrightStatement## 2021-07-15 2021-07-15 10 2 PDF_374 384 10.26740/mathedunesa.v10n2.pPDF_374-384 PROFIL BERPIKIR RELASIONAL SISWA SMP DALAM MENYELESAIKAN MASALAH MATEMATIKA DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF SISTEMATIS-INTUITIF https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/40595 <p>Berpikir relasional merupakan kemampuan berpikir untuk membuat keterkaitan objek dari yang diketahui pada soal menjadi bentuk simbol dan angka dengan memperhatikan hubungan dari informasi pada soal dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya, untuk menyelesaikan masalah dengan konsep matematika. Untuk menyelesaikan masalah dipengaruhi beberapa faktor salah satunya gaya kognitif. Dalam penelitian ini gaya kognitif yang digunakan berdasarkan cara individu mengevaluasi dan menentukan strategi ketika memecahkan masalah yaitu gaya kognitif sistematis-intuitif. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menjelaskan profil berpikir relasional dalam memecahkan masalah siswa SMP dengan gaya kognitif <em>sistematis</em> dan<em>&nbsp; intuitif</em>. Subjek dari penelitian ini adalah siswa bergaya kognitif sistematis dan intuitif masing-masing satu. Dari hasil analisis data siswa bergaya kognitif sistematis telah melaksanakan aktivitas berpikir relasional dalam memecahkan masalah matematika pada tahapan memahami masalah dengan mengidentifikasi unsur yang terdapat dalam masalah, mengaitkan unsur tersebut dengan pengetahuan yang dimiliki siswa sebelumnya. Siswa menghubungkan pengetahuan yang dimilikinya dengan unsur yang terdapat pada soal pada tahap menyusun rencana dan melaksanakan rencana. Pada tahap memeriksa kembali siswa belum menghubungkan hasil jawaban yang dengan informasi pada soal. Siswa dengan gaya kognitif intuitif telah melaksanakan aktivitas berpikir relasional dalam memecahkan masalah pada tahapan memahami masalah dengan mengidentifikasi informasi yang terdapat dalam masalah, menjelaskan hubungan informasi dengan pengetahuan yang diketahui siswa sebelumnya. Siswa menghubungkan informasi pada soal dengan pengetahuan yang telah diketahui siswa pada tahap menyusun rencana dan melaksanakan rencana. Pada tahap memeriksa kembali siswa menghubungkan hasil jawaban yang didapatkan dengan informasi pada soal. Berdasarkan hasil penelitian diketahui siswa dengan gaya kognitif sistematis dan intuitif memiliki cara yang berbeda dalam menyelesaikan masalah saat berpikir relasional. Oleh karena itu, guru diharapkan lebih banyak menggunakan soal nonrutin dengan gabungan antar konsep matematika yang penyelesaiannya dapat ditempuh dengan banyak cara saat pembelajaran, agar melatih siswa dalam berpikir relasional dan mengembangkan kemampuan siswa memecahkan masalah.</p> Ikma Nurul Khoyimah ##submission.copyrightStatement## 2021-07-23 2021-07-23 10 2 396 409 10.26740/mathedunesa.v10n2.p396-409 Eksplorasi Etnomatematika pada Motif Batik di Kampoeng Batik Jetis Sidoarjo https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/41887 <p>Etnomatemtika merupakan studi mengenai ide matematika yang dapat dijumpai pada suatu budaya. Batik Sidoarjo yang berpusat di Kampoeng Batik Jetis merupakan salah satu hasil dari budaya di Indonesia. Batik Sidoarjo merupakan perpaduan batik Sidoarjo asli dengan batik pesisiran yang mempunyai motif yang khas, di antaranya seperti Udeng (udang dan bandeng), Beras Utah, dan Merak yang mana motif tersebut berkaitan dengan kosep-konsep matematika, salah satu di antaranya yaitu konsep geometri, transformasi geometri, dan pola bilangan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan eksplorasi etnomatematika pada motif batik di Sidoarjo yang dapat digunakan sebagai penerapan konsep-konsep matematika dalam pembelajaran. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan etnografi. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa motif batik di Sidoarjo dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan konsep-konsep matematika melalui budaya dalam pembelajaran, konsep-konsep tersebut yaitu geometri transformasi dan bangun datar.</p> Muhammad Fauzi Rizqi Agung Lukito ##submission.copyrightStatement## 2021-07-29 2021-07-29 10 2 410 419 10.26740/mathedunesa.v10n2.p410-419 EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN DI SETARA DARING TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MASA PANDEMI COVID-19 https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/42258 <p>Pandemi COVID-19 mempengaruhi banyak bidang, salah satu bidang yang terdampak yaitu pendidikan. Pemerintah berupaya mengurangi angka penyebaran COVID-19 ini dengan mengurangi kontak fisik yang terjadi. Alternatif yang diterapkan pada bidang pendidikan yaitu dengan menerapkan pembelajaran secara dalam jaringan (daring). Pembelajaran secara daring tidak hanya diterapkan pada pendidikan formal saja tetapi juga pendidikan nonformal. Salah satu pendidikan nonformal yang juga menerapkan pembelajaran secara daring yaitu SKB Gudo Jombang. Pada SKB Gudo Jombang pembelajaran secara daring dilaksanakan melalui Setara Daring. Pembelajaran secara daring memiliki kendala yang muncul dalam pelaksanaanya yang membuat interaksi antara guru dan siswa juga mengalami kendala. Interaksi siswa dan guru yang semakin baik membuat hasil belajar matematika semakin bagus pula. Melalui hasil belajar dapat dilihat efektivitas dari pembelajaran yang dilakukan. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas pembelajaran di Setara Daring terhadap hasil belajar siswa. Penelitian ini melibatkan 15 siswa kesetaraan paket C setara SMA kelas 12 tahun ajaran 2020/2021 yang dipilih secara acak menggunakan teknik simple random sampling pada masing-masing pertemuan selama dua pertemuan. Setelah dilakukan pembelajaran secara daring di Setara Daring, dari 15 sampel akan diperoleh data berupa hasil belajar siswa. Data yang diperoleh dilakukan uji normalitas terlebih dahulu selanjutnya dianalisis menggunakan metode one sample t test dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu 70 sebagai parameter pembanding. Hasil penelitian dengan taraf nyata sebesar 5% pada pertemuan pertama diperoleh t hitung = 0,930753 dan t tabel = -1, 76131 dan pada pertemuan kedua diperoleh t hitung = 2,034093 dan t tabel = -1,76131. Pada pertemuan pertama maupun pertemuan kedua didapatkan bahwa t hitung lebih besar atau sama dengan t tabel , hal ini berarti rata-rata hasil belajar siswa yaitu lebih dari atau sama dengan 70 yang juga berarti bahwa pembelajaran secara daring di Setara Daring berjalan dengan efektif.</p> Gadang Gumilar Ramadhana Laksono Raden Sulaiman ##submission.copyrightStatement## 2021-07-29 2021-07-29 10 2 433 438 10.26740/mathedunesa.v10n2.p433-438 Google Classroom Atau Cisco Webex?: Aplikasi Untuk Pembelajaran Daring Pada Mata Kuliah Aljabar Liniear https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/38456 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran penggunaan Google Classroom dan Cisco Webex dalam pembelajaran daring (online) pada mata kuliah Aljabar Liniear. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Populasi penelitian yaitu mahasiswa/i semester 2B Tadris Matematika. Sampel yang diambil adalah 10 mahasiswa. Pemilihan jumlah sampel berdasarkan tujuan penelitian dengan random sampling dan pertimbangan kondisi pandemi Covid-19 saat ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu dokumentasi berupa screnshoot proses pembelajaran daring dan wawancara. Analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data dan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian menggambarkan bahwa penggunaan Google Classroom dan Cisco Webex dalam pembelajaran daring memiliki kelebihan dan kekurangan nya masing-masing. Pada Google Classroom memiliki kelebihan yaitu bisa menyimpan materi yang dibagikan dosen saat pembelajaran berlangsung. Namun tidak ada fitur audio pada Google Classroom. Cisco Webex lebih memudahkan mahasiswa/i dalam memahami materi Aljabar Liniear. Hal ini disebabkan karena tersedianya sharescreen didalam Cisco Webex yang digunakan dosen ketika menjelaskan materi.</p> dina chairunnisa MELA AZIZA ##submission.copyrightStatement## 2021-06-11 2021-06-11 10 2 172 180 10.26740/mathedunesa.v10n2.p172-180 Penalaran Analogi Siswa SMA dalam Pemecahan Masalah Pembuktian Ditinjau dari Perbedaan Jenis Kelamin https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/42136 <p>Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan penalaran analogi siswa SMA dalam pemecahan masalah pembuktian ditinjau dari perbedaan jenis kelamin. Subjek penelitian terdiri dari 4 siswa kelas XI SMA, 2 siswa perempuan dan 2 siswa laki-laki yang telah mempelajari materi prasyarat yang digunakan untuk membuktikan.yang materi prasyarat yang digunakan untuk membuktikan. Data dikumpulkan dengan wawancara berbasis tugas (tes penalaran analogi dalam pembuktian). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua subjek menyebutkan tujuan masalah dengan baik, mengidentifikasi kemiripan antara masalah sumber dengan masalah target namun melakukan kesalahan saat mengidentifikasi perbedaan masalah sumber dengan masalah target,&nbsp; dan subjek&nbsp; belum menggunakan kesesuaian antara masalah sumber dengan masalah target sehingga didalam prosesnya terjadi beberapa kesalahan. Perbedaan subjek laki-laki dan perempuan terdapat pada komponen identifikasi struktur masalah, siswa laki-laki dapat melalui komponen identifikasi struktur masalah sumber sedangkan siswa perempuan melakukan kesalahan pada komponen ini. Siswa laki-laki dan siswa perempuan memilih strategi yang berbeda dalam menyelesaikan masalah pembuktian yang diberikan.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Pembuktian, Penalaran Analogi, Perbedaan Jenis Kelamin</p> Riskauni Fitri Maghfiroh Abdul Haris Rosyidi ##submission.copyrightStatement## 2021-07-29 2021-07-29 10 2 420 432 10.26740/mathedunesa.v10n2.p420-432 Level Kemampuan Literasi Matematis Peserta Didik SMP dalam Menyelesaikan Soal PISA Ditinjau dari Kemampuan Matematika https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/40891 <p><sup>Kemampuan literasi matematis adalah kemampuan menerapkan, menafsirkan, dan menjelaskan proses memecahkan masalah sehari-hari menggunakan konsep matematika. Kemampuan literasi matematis peserta didik dapat ditinjau dari kemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah. Tujuan penelitian ini antara lain: 1) mengidentifikasi level kemampuan literasi matematis peserta didik SMP yang memiliki kemampuan matematika tinggi dalam menyelesaikan soal PISA; 2) mengidentifikasi level kemampuan literasi matematis peserta didik SMP yang memiliki kemampuan matematika sedang dalam menyelesaikan soal PISA, dan; 3) mengidentifikasi level kemampuan literasi matematis peserta didik SMP yang memiliki kemampuan matematika rendah dalam menyelesaikan soal PISA. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif menggunakan pendekatan deskriptif. Subjek dipilih dengan teknik purposive sampling yang diambil berdasarkan kriteria tertentu. Subjek merupakan 3 peserta didik SMP dengan kemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah. Data penelitian diperoleh dari tes tulis dan kegiatan wawancara. Instrumen yang digunakan yakni enam soal PISA dan pedoman wawancara. Hasil penelitian ini antara lain: 1) Peserta didik berkemampuan matematika tinggi berada pada level 4 kemampuan literasi matematis; 2) peserta didik dengan kemampuan matematika sedang berada di level 3 kemampuan literasi matematis, dan; 3) peserta didik yang memiliki kemampuan matematika rendah berada pada level 2 kemampuan literasi matematis. Hasil penelitian ini dapat membantu guru dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan matematika peserta didik. Pengetahuan mengenai level kemampuan literasi matematis dapat digunakan oleh guru dalam merancang kegiatan pembelajaran yang dapat meningkatkan level kemampuan literasi matematis peserta didik.<br></sup>Kata Kunci: level, kemampuan literasi matematis, PISA, kemampuan matematika.</p> Ikka Ananda Hakiki Pradnyo Wijayanti ##submission.copyrightStatement## 2021-07-15 2021-07-15 10 2 385 395 10.26740/mathedunesa.v10n2.p385-395 KONJEKTUR SISWA PADA MASALAH ANALOGI KLASIK TERBUKA TOPIK FUNGSI KUADRAT https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/40005 <p>Konjektur merupakan pernyataan yang diperoleh dari informasi yang diketahui dan diyakini kebenarannya,<br>namun nilai kebenarannya perlu dibuktikan. Konjektur siswa dapat dilihat ketika mereka menyelesaikan<br>masalah analogi klasik terbuka (AKT). Pada masalah AKT siswa dituntut untuk berpikir kreatif dalam<br>menduga sifat dari suatu hal tertentu yang belum diketahui sebelumnya menggunakan analogi. Penelitian ini<br>merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan tahapan konstruksi konjektur siswa<br>pada masalah AKT topik fungsi kuadrat. Instrumen pendukung penelitian adalah masalah AKT topik fungsi<br>kuadrat dan pedoman wawancara. Penelitian dilakukan secara online melalui googleform untuk pengerjaan<br>tes masalah analogi klasik terbuka dan whatsapp sebagai media untuk wawancara. Subjek penelitian ini<br>adalah tiga siswa SMA di Surabaya yang dipilih dari 70 siswa yang memiliki alur menjawab masalah AKT<br>berbeda-beda. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan tahapan konstruksi konjektur yaitu : 1)<br>memahami masalah, 2) mengeksplorasi masalah, 3) merumuskan konjektur, 4) memberikan argumen, dan<br>5) membuktikan konjektur. Hasil dari penelitian ini adalah subjek mampu menyelesaikan masalah AKT<br>topik fungsi kuadrat dengan tepat akan tetapi terdapat dua subjek yang memberikan argumen kurang tepat<br>dan satu subjek memberikan bukti konjektur kurang tepat. Pada tahap memahami masalah, setiap subjek<br>dapat memahami cara menyelesaikan masalah AKT. Pada tahap mengeksplorasi masalah, setiap subjek<br>dapat menjelaskan informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah AKT. Pada tahap merumuskan<br>konjektur, setiap subjek dapat membuat konjektur dengan tepat menggunakan analogi atau kemiripan<br>komponen A dan komponen C. Pada tahap memberikan argumen, semua subjek telah menggunakan<br>kemampuan penalaran analoginya, namun dua subjek memberikan argumen yang kurang tepat. Pada tahap<br>membuktikan konjektur, terdapat seorang subjek membuktikan menggunakan contoh kasus tertentu<br>sehingga bukti yang diberikan belum cukup untuk membuktikan konjektur yang diberikan. Hal tersebut<br>memperlihatkan bahwa siswa mampu menggunakan kemampuan penalaran analogi mereka untuk membuat<br>konjektur dengan tepat menggunakan kemiripan antara dua objek atau topik yang memiliki sifat yang mirip.<br>Meskipun subjek mampu membuat konjektur dengan tepat akan tetapi subjek memberikan argumen dan<br>bukti yang kurang tepat. Untuk itu, guru perlu melatihkan kemampuan konjektur siswa salah satunya<br>menggunakan masalah AKT agar siswa mampu mengkonstruksi pengetahuannya secara mandiri.</p> Malik Abdul Azis Abdul Haris Rosyidi ##submission.copyrightStatement## 2021-06-24 2021-06-24 10 2 254 265 10.26740/mathedunesa.v10n2.p254-265 Efektivitas Pembelajaran Matematika Berbasis Aplikasi Zoom Cloud Meeting sebagai Media Belajar Siswa Pada Saat Pandemi Covid-19 https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/42160 <p>Pada tahun 2020, Indonesia terjangkit penyebaran virus Covid-19. Akhirnya pemerintah mengeluarkan kebijakan baru yang berdampak pada dunia pendidikan di Indonesia. Proses belajar mengajar menjadi tidak efektif, yaitu tidak dapat dilaksanakan secara tatap muka. Pembelajaran berbasis aplikasi <em>Zoom Cloud Meeting</em> dapat membantu mengurangi timbulnya hambatan yang terjadi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan efektivitas pembelajaran yang ditinjau dari pengelolaan pembelajaran, aktivitas siswa, hasil belajar, dan respon siswa dalam pembelajaran matematika berbasis aplikasi <em>Zoom Cloud Meeting</em> pada materi luas permukaan dan volume kubus di kelas VIII. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian yang digunakan adalah siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Sooko sebanyak 20 siswa. Pemilihan subjek pada penelitian ini menggunakan teknik <em>simple random sampling</em>. Instrumen yang digunakan yaitu observasi, tes (<em>pre-test</em> dan <em>post-test</em>), dan angket. Hasil dari penelitian ini yaitu kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran termasuk dalam kategori sangat baik, siswa aktif selama proses pembelajaran berlangsung, ketuntutasan hasil belajar sebanyak 16 siswa dengan persentase sebesar , dan respon siswa positif setelah mengikuti pembelajaran Matematika berbasis aplikasi <em>Zoom Cloud Meeting</em> sebagai media belajar siswa.</p> Aprillia Eka Rudyana Ismail Ismail ##submission.copyrightStatement## 2021-07-30 2021-07-30 10 2 439 447 10.26740/mathedunesa.v10n2.p439-447 Pengembangan e-book Interaktif pada Materi Bentuk Aljabar untuk Siswa SMP https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/mathedunesa/article/view/40400 <p><strong>Materi bentuk aljabar merupakan pintu gerbang menuju matematika tingkat lanjut. Seringkali siswa mengalami miskonsepsi pada materi bentuk aljabar terutama pada konsep operasi penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar dengan salah satu penyebabnya adalah kurangnya minat untuk mempelajari materi tersebut. Salah satu cara agar siswa berminat dalam belajar aljabar adalah menyediakan media pembelajaran seperti </strong><em style="font-weight: bold;">e-book</em><strong> interaktif agar dapat menunjang belajar siswa pada masa pandemi COVID-19 yang proses belajarnya dilaksanakan dari rumah melalui pembelajaran daring. Sehingga penelitian pengembangan ini bertujuan untuk: 1) Menghasilkan produk </strong><em style="font-weight: bold;">e-book</em><strong> interaktif pada materi bentuk aljabar untuk siswa SMP, 2) Mendeskripsikan kevalidan </strong><em style="font-weight: bold;">e-book</em><strong> interaktif pada materi bentuk aljabar untuk siswa SMP, 3) Mendeskripsikan kepraktisan </strong><em style="font-weight: bold;">e-book</em><strong> interaktif pada materi bentuk aljabar untuk siswa SMP, 4) Mendeskripsikan keefektifan setelah menggunakan </strong><em><strong>e-book</strong>&nbsp;</em><strong>interaktif pada materi bentuk aljabar. Penelitian ini menggunakan model pengembangan ADDIE yang terdiri dari 5 tahap yaitu </strong><em style="font-weight: bold;">Analyze,</em>&nbsp;<strong><em>Design, Develop,</em></strong> <em style="font-weight: bold;">Implement, </em><strong>dan</strong><em style="font-weight: bold;"> Evaluate</em><strong>. Penelitian ini menghasilkan produk </strong><em><strong>e-book</strong>&nbsp;</em><strong>interaktif dalam bentuk .apk untuk pengguna </strong><em style="font-weight: bold;">smartphone</em><strong> dengan sistem operasi android. </strong><em><strong>e-book</strong>&nbsp;</em><strong>interaktif materi bentuk aljabar untuk siswa SMP yang telah dikembangkan memenuhi kriteria kelayakan (valid,</strong> p<strong>praktis, dan</strong>&nbsp;<strong>efektif). Hasil uji kevalidan </strong><em><strong>e-book</strong>&nbsp;</em><strong>interaktif sebesar 87,42% dengan kategori “sangat valid”. Kevalidan diperoleh dari hasil penilaian 2 validator materi dan 2 validator media.&nbsp; Hasil uji kepraktisan </strong><em><strong>e-book</strong>&nbsp;</em><strong>interaktif sebesar 90% sehingga dapat dikatakan bahwa </strong><em><strong>e-book</strong>&nbsp;</em><strong>interaktif ini termasuk kategori</strong><strong>&nbsp;“Sangat Praktis”. Kepraktisan diperoleh dari hasil penilaian siswa melalui angket tertutup. </strong><em><strong>e-book</strong>&nbsp;</em><strong>interaktif ini termasuk efektif karena hasil belajar siswa tuntas dengan persentase ketuntasan sebesar 88,89% dan hasil respon</strong>&nbsp;<strong>siswa termasuk dalam kategori “sangat</strong>&nbsp;<strong>positif” dengan persentase sebesar 88,54%. Dapat disimpulkan bahwa e-book interaktif pada materi bentuk aljabar untuk siswa SMP layak digunakan dalam pembelajaran sehingga meningkatkan prestasi belajar dan minat siswa dalam belajar aljabar.</strong></p> Laila Tuljannah Siti Khabibah ##submission.copyrightStatement## 2021-06-30 2021-06-30 10 2 330 338 10.26740/mathedunesa.v10n2.p330-338