PEMANFAATAN LUMPUR LAPINDO DAN FLY ASH SEBAGAI BAHAN CAMPURAN PADA PEMBUATAN BATA BETON RINGAN

  • WENNY MASITA ROSANTI

Abstract

Inovasi dalam dunia konstruksi terus menerus dilakukan untuk mencari material-material baru yang dapat digunakan untuk pembuatan bata beton. Lumpur Lapindo dan fly ash adalah limbah yang dapat dimanfaatkan karena mengandung banyak silika (SiO2). Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi penggunaan semen dalam pembuatan bata beton ringan sehingga dapat dimanfaatkan sebagai upaya menghindari kelangkaan sumber daya alam serta sumbangan pikiran dalam menangani bencana Lapindo dengan produk yang sesuai dengan SNI.

Pembuatan bata beton ringan pada penelitian ini melalui tiga tahap dengan membuat masing-masing campuran 5 buah benda uji, sebagai sampel mortar normal dan mortar ringan, dengan ukuran cetakan 5x5x5cm. Dalam penelitian ini dibuat 3 macam campuran mortar normal yaitu (1) 1LL:3FA:1PC:1CaO:4Ps (2) 2LL:2FA:1PC:4Ps (3) 3LL:1FA:1PC:4Ps. Dari ketiga campuran mortar normal, dipilih 1 (satu) campuran dengan kuat tekan maksimum untuk dipakai dalam pembuatan bata beton ringan. Mortar Normal yang paling maksimum hasil uji yaitu MN 3 dengan rata-rata kuat tekan 7, 14, dan 28 hari secara berturut-turut diperoleh sebesar 9,92; 11,03; dan 13,01 MPa. Kemudian, membuat benda uji bata beton ringan dengan ukuran 60x20x10 cm. Benda uji diuji tekan pada umur 7, 14, dan 28 hari, selanjutnya dilakukan uji penyerapan air setelah direndam selama 24 jam.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar bagian lumpur Lapindo dan semakin sedikit fly ash dapat meningkatkan kuat tekan pada bata beton ringan. Bata beton ringan hasil penelitian ini termasuk dalam kelas III berdasarkan SNI 03-0349-1989 yaitu kuat tekan rata-rata pada umur 7, 14, dan 28 hari secara berturut-turut sebesar 2,16; 3,04; dan 4,28 MPa dengan rata-rata penyerapan air sebesar 0,159%

Bata beton ringan dengan campuran lumpur Lapindo dan fly ash direkomendasikan sebagai bata beton yang digunakan untuk konstruksi memikul beban tetapi penggunaannya hanya untuk konstruksi yang terlindungi misalnya sebagai dinding penyekat. Pada proses pengecoran benda uji perlu diperhatikan saat melakukan rojokan sehingga benda uji menjadi benar-benar padat dan cetakan yang akan dipakai dipastikan presisi dan terpasang dengan rapat agar kuat tekan benda uji stabil.
Kata Kunci: Bata Beton Ringan, Lumpur Lapindo, Fly Ash

Innovations in the world of construction continuously performed to look for new materials that can be used for the manufacture of concrete bricks. Lapindo mud and fly ash is the waste that can be used because it contains a lot of silica (SiO2). This research was conducted with the aim to reduce the use of cement in the manufacture of lightweight concrete bricks that can be used as an attempt to avoid the scarcity of natural resources as well as their contributions in handling the Lapindo disaster with products that comply with standards

Manufacture of lightweight concrete brick in this study through three stages to make each 5 pieces of samples, namely normal mortar and lightweight mortar, the print size 5x5x5 cm mold. In this study, three kindsof normal mortar mixture that is 1) 1LL: 3FA: 1PC: 1CaO: 4Ps 2) 2LL: 2FA: 1PC: 4Ps 3) 3LL: 1FA: 1PC: 4Ps. Of the three normal mortar mix, selected one (1) mix with maximum compressive strength for use in the manufacture of lightweight concrete brick. Normal maximum mortar is a mixture of MN1 which is an average compressive strength of 7, 14 and 28 days respectively obtained of 9,92; 11,03; and 13,01Mpa. Then, to make lightweight concrete brick’s sample with 60x20x10 cm mold. Sample tested with compressive strength at the age of 7, 14, and 28 days, and the next is test of water absorption after soak for 24 hours.

The results showed that the more the composition of Lapindo mud and the less fly ash used can improve the compressive strength of lightweight concrete brick. Lightweight concrete bricks in this study belongs to a class III according to SNI 03-0349-1989 ie an average compressive strength at ages 7, 14 and 28 days respectively amounted to 2.16; 3,04; and 4.28 MPa with an average of 0.159% water absorption.

Lightweight concrete bricks with a mixture of Lapindo mud and fly ash brick is recommended as the concrete used for construction but its use only burden for the construction of the outdoor weather protected eg as wall insulation. In the process of casting the test object need to be considered when making rojokan so that the specimen to be really solid, and molds to be used ascertained with precision and is attached tightly so that the compressive strength of the test specimen is stable.
Keyword: Lightweight concrete brick, lapindo mud, fly ash, compressive strength

Published
2016-02-22
Abstract View: 265
PDF Download: 118