Pemerolehan Fonologis pada Anak Usia 5 Tahun: Kajian Psikolinguistik
DOI:
https://doi.org/10.26740/sell.v2i1.77571Keywords:
Pemerolehan bahasa, fonologi anak, psikolinguistik, gangguan artikulasi, organ bicaraAbstract
Penelitian ini menganalisis pemerolehan fonologis dan keterlambatan artikulasi pada anak usia 5 tahun dalam perspektif psikolinguistik. Pada usia tersebut, seorang anak idealnya telah mampu melafalkan sebagian besar bunyi bahasa dengan jelas. Namun, masih banyak ditemukan anak yang mengalami kesulitan artikulasi, seperti penghilangan, penggantian, atau penambahan bunyi dalam ucapannya. Studi kasus ini berfokus pada seorang anak berinisial Z berusia 5 tahun yang menunjukkan ketidaksesuaian artikulasi dibandingkan standar usianya. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dengan orang tua, serta dokumentasi terhadap ujaran anak sehari-hari. Dari hasil pengamatan ditemukan bahwa anak tersebut masih sering melakukan modifikasi bunyi, terutama omisi (penghilangan bunyi) dan substitusi (penggantian bunyi), sementara anaptiksis (penambahan bunyi) tidak menjadi pola dominan. Contoh omisi terlihat pada pelafalan ode untuk budhe, akde untuk pakde, dan es kim untuk es krim. Contoh substitusi tampak pada bensil untuk pensil, bu gulu untuk bu guru, serta gayepung untuk garengpung. Fenomena ini terutama terjadi pada bunyi-bunyi yang secara motorik sulit, seperti bunyi getar /r/, bunyi frikatif /s/, dan gugus konsonan. Secara psikolinguistik, anak sebenarnya memiliki kompetensi bahasa yang baik, tetapi mengalami hambatan performansi akibat ketidakmatangan organ bicara dan koordinasi saraf pusat. Faktor lingkungan, terutama kualitas stimulasi verbal dari keluarga, juga turut memengaruhi. Deteksi dini terhadap keterlambatan artikulasi sangat penting agar intervensi yang tepat dapat diberikan, sehingga tidak menghambat perkembangan emosional dan sosial anak di masa depan.
Downloads
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
Abstract views: 0
,
PDF Downloads: 1
