Analisis Semantik Perlawanan Kaum Marginal dalam Puisi "Bunga dan Tembok" Karya Wiji Thukul
DOI:
https://doi.org/10.26740/sell.v2i1.78730Keywords:
semantik, perlawanan, puisi, widji thukul, orde baruAbstract
Penelitian ini menganalisis puisi "Bunga dan Tembok" karya Wiji Thukul dalam perspektif semantik dengan fokus pada representasi perlawanan kaum marginal. Puisi ini lahir dalam konteks represi rezim Orde Baru yang ditandai oleh penggusuran, perampasan tanah, dan pembungkaman suara kritik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik analisis semantik yang meliputi penelusuran makna leksikal, makna kontekstual, dan makna implisit dari diksi-diksi kunci: bunga, tembok, dirontokkan, biji-biji, dan tiran. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara leksikal kelima diksi tersebut bermakna netral, tetapi secara kontekstual merepresentasikan oposisi antara rakyat kecil (bunga) dan kekuasaan otoriter (tembok/tiran). Makna implisit puisi ini mencakup kritik terhadap kebijakan pembangunan yang mengorbankan rakyat, ajakan untuk tidak takut bersuara, serta optimisme bahwa semangat perlawanan (biji-biji) akan terus tumbuh di bawah tekanan. Kesimpulannya, puisi "Bunga dan Tembok" merupakan bentuk perlawanan simbolik kaum marginal yang efektif melalui pilihan diksi dan permainan makna.
Downloads
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
Abstract views: 3
,
PDF Downloads: 3
