Kajian tentang Adaptasi Petani Terhadap Peristiwa Banjir Bengawan Solo Di Desa Kedungprimpen Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro
Abstract
Kajian tentang Adaptasi Petani Terhadap Peristiwa Banjir Bengawan Solo
Di Desa Kedungprimpen Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro
Kabupaten Bojonegoro merupakan salah satu kabupaten yang memiliki potensi terhadap banjir, khususnya banjir Bengawan Solo. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan iklim perubahan curah hujan, serta kejadian iklim dan cuaca ekstrem yang dapat meningkatkan kejadian seperti banjir dan longsor. Desa Kedungprimpen merupakan desa yang mengalami peristiwa banjir Bengawan Solo setiap tahunnya, sebagaian besar wilayahnya merupakan lahan pertanian sehingga sangat berdampak terhadap produksi yang dihasilkan. Dari data yang diperoleh dari kecamatan Kanor, Desa Kedungprimpen pada tahun 2007-2010 mengalami peristiwa banjir pada lahan pertanian sebagai berikut, pada tahun 2007 sebanyak 150 Ha, setiap tahunnya mengalami peningkatan dan pada akhir tahun 2013 ini menjadi dua kali lipat yaitu mencapai 320 Ha. Tujuan diadakanya penelitian ini adalah untuk mengetahui adaptasi fisik dan sosial yang dilakukan oleh petani dan untuk menegetahui peran pemerintah di Desa Kedungprimpen Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi alamiah baru. Teknik yang dilakukan dalam penelitian ini adalah melalui observasi dan wawancara mendalam yang berbentuk komunikasi dengan informan. Informan yang dipilih oleh peneliti yaitu petani lahan basah dengan teknik Snow-ball Sampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa adaptasi fisik yang dilakukan adalah panca usaha tani dengan menanam jenis padi varietas Inpari 30 (Ciherang 1) karena batang tinggi, tahan banjir, hasil panen tinggi. Proteksi tanaman dilakukan dengan cara 3P yaitu pengamatan, pengendalian, dan pemberantasan. Pemupukan dilakukan dengan memperbanyak takaran jenis pupuk petroganik dan terdapat penambahan abu gosok supaya pupuk menjadi kesat dan tidak mudah tergerus oleh aliran air. Pengairan dengan menggunakan pengairan teknis irigasi pompanisasi areal HIPPA Sri Sedani. Diversifikasi yang dikembangkan selain budidaya padi yaitu budidaya pisang. Pola tanam dalam satu tahun yaitu padi dua kali. Pranoto mongso menggunakan aturan musim dan berpedoman dengan kalender umum dan Jawa. Adaptasi sosial meliputi kerjasama kelompok tani Sidobeno, Tani Makmur, dan Maju Mapan. Pekerjaan sampingan sebagian besar petani yaitu membuat keterampilan pelepah pisang (Pluntu), beternak, dan migrasi ke luar kota. Sedangkan peran pemerintah yaitu meliputi penyuluhan pertanian, penyediaan sarana produksi pertanian, dan Koperasi Unit Desa (KUD Bungur).
Kata Kunci : Adaptasi fisik, Adaptasi sosial, Banjir, Petani lahan basah.
Downloads
Abstract views: 119
,
PDF Downloads: 291