KERENTANAN LAHAN PERTANIAN BAWANG MERAH TERHADAP KEKERINGAN DI DESA TEMPURAN KECAMATAN NGLUYU KABUPATEN NGANJUK

KERENTANAN LAHAN PERTANIAN BAWANG MERAH TERHADAP KEKERINGAN DI DESA TEMPURAN KECAMATAN NGLUYU KABUPATEN NGANJUK

  • Ginanjar Duta Firmansyah Unesa
  • Nugroho Hari Purnomo Unesa

Abstract

Abstrak

Desa Tempuran adalah sebuah desa di wilayah Kecamatan Ngluyu, Kabupaten Nganjuk yang merupakan salah satu wilayah yang mayoritas masyarakatnya didominasi oleh masyarakat yang bermatapencaharian sebagai petani tanaman bawang merah yang menjadi sektor unggulannya dengan hasil panen rata-rata sebesar 4200 hingga 4500 kwintal pertahun dengan 2 kali masa penanaman. Wilayah Desa Tempuran juga masuk kedalam kawasan rawan bencana kekeringan menurut peta resiko bencana kekeringan yang dibuat oleh BPBD Kabupaten Nganjuk. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat kerentanan lahan pertanian bawang merah terhadap kekeringan di Desa Tempuran dan juga bertujuan mengetahui strategi adaptasi yang dilakukan para petani untuk menghadapi datangnya bencana kekeringan yang hampir terjadi tiap tahunnya.

Penelitian ini menggunakan tiga variabel untuk menetukan kerentanan, yaitu variabel keterpaparan dengan curah hujan sebagai parameternya, variabel sensitivitas dengan menggunakan jenis tanah dan pola tutupan lahan sebagai parameternya, dan juga variabel kemampuan adaptasi dengan strategi adaptasi sebagai parameternya. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua jenis, yaitu primer yang didapatkan melalui wawancara dan kuisoner terhadap para petani di Desa Tempuran, serta data sekunder yang dikumpulkan dengan metode telaah dokumen yang didapatkan dari BMKG, BPS, dan BPBD. Data yang didapatkan kemudian diolah menggunakan software Arcgis versi 10.8 yang kemudian dijadikan sebuah peta tingkat kerentanan kekeringan di Desa Tempuran.

Hasil pemetaan menghasilkan fakta bahwa wilayah Desa Tempuran memilliki tiga kelas keretanan yaitu kerentanan rendah seluas 103,1 Ha, kerentanan sedang seluas 1335,1 ha, dan kerentanan tinggi seluas 169,8 ha. Adaptasi yang dilakukan antara lain adalah melakukan penanaman tanaman lain seperti cabai, jagung, dan kedelai, mengambil air dari sumur pribadi, membuat tadah air berupa bendungan dan sumur semi permanen di badan sungai, serta terdapat pula masyarakat yang meneywakan lahan pertanian bawang merah mereka.

Kata Kunci : Kerentanan, Kekeringan, Adaptasi Warga.

 

Abstract

Tempuran Village is a village in the Ngluyu District, Nganjuk Regency which is one of the areas where the majority of the community is dominated by people whose livelihoods are onion plant farmers which are the leading sector with an average harvest of 4200 to 4500 quintals per year with 2 times planting. However, the Tempuran Village area is also included in the drought-prone area according to the drought risk map made by the Nganjuk Regency BPBD. This study aims to determine the level of vulnerability of shallot agricultural land to drought in Tempuran Village and also aims to determine the adaptation strategies carried out by farmers to deal with the arrival of drought disasters that almost occur every year.

This study uses three variables to determine vulnerability, namely exposure variable with rainfall as its parameter, sensitivity variable using soil type and land cover pattern as the parameter, and also adaptability variable with adaptation strategy as the parameter. There are two types of data used in this study, namely primary data obtained through interviews and questionnaires to farmers in Tempuran Village, and secondary data collected using the document review method obtained from BMKG, BPS, and BPBD. The data obtained was then processed using Arcgis software version 10.8 which was then used as a map of the level of drought vulnerability in Tempuran Village.

The results of the mapping resulted in the fact that the Tempuran Village area has 3 railway classes, namely the low vulnerability area of ​​103.1 ha, the medium vulnerability area of ​​1335.1 ha, and the high vulnerability area of ​​169.8 ha. The adaptation strategies of the Tempuran Village community also vary and vary depending on the level of vulnerability they experience. The adaptations include planting other crops such as chili, corn, and soybeans, drawing water from private wells, constructing water reservoirs in the form of dams and semi-permanent wells in river bodies, and there are also people who rent out their shallot farmland.

Keywords: Vulnerability, Drought, Adaptation of Citizens.



Published
2022-06-14
Abstract View: 18