PERLAWANAN TOKOH PEREMPUAN TERHADAP BUDAYA PATRIARKI DALAM NOVEL SUNYI PALING RIUH KARYA FAJAR SULAIMAN: KAJIAN FEMINISME EKSTENSIALIS SIMONE DE BEAUVIOUR

Authors

  • Aldira Diva Safira Universitas Negeri Surabaya

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh budaya patriarki yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat dalam kehidupan sosial maupun dalam karya sastra. Novel Sunyi Paling Riuh karya Fajar Sulaiman menghadirkan tokoh perempuan yang mengalami berbagai bentuk penindasan patriarki, tetapi juga menunjukkan upaya perlawanan untuk memperoleh kebebasan dan eksistensinya sebagai individu. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk budaya patriarki yang dialami tokoh perempuan serta menganalisis bentuk perlawanan tokoh perempuan terhadap budaya patriarki berdasarkan kajian feminisme eksistensialis Simone de Beauvoir.

     Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan feminisme eksistensialis Simone de Beauvoir. Sumber data penelitian adalah novel Sunyi Paling Riuh karya Fajar Sulaiman. Data penelitian berupa kata, frasa, kalimat, dialog, dan narasi yang berkaitan dengan budaya patriarki dan perlawanan tokoh perempuan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik baca dan catat, sedangkan teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

     Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh perempuan dalam novel mengalami berbagai bentuk budaya patriarki, seperti subordinasi perempuan, pembatasan kebebasan, stereotip gender, serta dominasi laki-laki dalam pengambilan keputusan. Sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya patriarki, tokoh perempuan melakukan upaya transendensi sebagaimana dikemukakan Simone de Beauvoir, yaitu menjadi perempuan intelektual melalui pendidikan dan pemikiran kritis, bekerja untuk memperoleh kemandirian ekonomi, serta berperan sebagai agen transformasi sosial yang berupaya mengubah kondisi ketidakadilan yang dialaminya.

     Perlawanan tersebut menunjukkan usaha tokoh perempuan untuk keluar dari posisi “liyan” (the Other) dan menegaskan eksistensinya sebagai subjek yang bebas dan mandiri. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa karya sastra dapat menjadi media refleksi terhadap ketidakadilan gender sekaligus sarana untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kesetaraan gender. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian feminisme eksistensialis dalam penelitian sastra Indonesia serta menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya yang membahas isu perempuan dan budaya patriarki dalam karya sastra.

Downloads

Download data is not yet available.

Downloads

Published

2026-07-30
Abstract views: 0 , PDF Downloads: 0