KARYA TARI “PANGIKET” SEBAGAI VISUALISASI MAKNA JANUR KUNING PADA TAKIR PLONTHANG MELALUI TIPE TARI DRAMATIK

1. INTRODUKSI, 2. METODE, 3. HASIL DAN PEMBAHASAN, 4. KESIMPULAN, 5. REFERENSI

Penulis

  • Danu Soleh Cahyono Universitas Negeri Surabaya
  • Setyo Yanuartuti

Kata Kunci:

Pangiket, takir plonthang, pengendalian, dramatik

Abstrak

Abstrak: Karya tari Pangiket merupakan sebuah karya tari yang memvisualkan makna janur kuning sebagai pengendalian diri manusia. Karya tari ini didasari oleh tradisi Ngetung Batih di Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek dimana tradisi ini merupakan ritual adat menyambut bulan Suro yang sarat makna spiritual, sosial, dan moral. Salah satu elemen penting dalam ritual ini adalah takir plonthang dengan janur kuning sebagai pengikatnya, yang dimaknai sebagai simbol pengendalian diri manusia. Pemaknaan tersebut menjadi inspirasi penciptaan karya tari Pangiket. Konsep koreografi berangkat dari urgensi nilai pengendalian diri yang kian terabaikan pada generasi muda di tengah maraknya perilaku negatif. Proses penciptaan karya tari ini menggunakan metode konstruksi 1 Jacqueline Smith melalui tahapan rangsang awal, eksplorasi, improvisasi, evaluasi, seleksi, dan penghalusan. Bentuk penyajian menggabungkan gaya dramatik dengan mode representatif dan simbolis. Unsur pendukung lain seperti tata busana dan rias mengambil inspirasi dari estetika Jawa. Selain itu karya tari ini dipertunjukkan di dalam panggung prosenium dengan menggunakan beberapa tata cahaya seperti par 64, par LED, dan fresnel. Hasil karya tari Pangiket diharapkan mampu menjadi tontonan sekaligus tuntunan, dengan pesan utama pentingnya pengendalian diri keseimbangan, bermasyarakat. dan untuk mewujudkan keharmonisan, kebahagiaan dalam kehidupan

Keywords: Pangiket, Janur Kuning, Pengendalian diri, Dramatik

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Referensi

Daryanti, Nurjannah. (2021). An Analysis of Urf on the Janur Tradition Yellow In Wedding

Customs Java In Regency Lawu East. Makassar: Student Scientific Journal of

Comparative Schools.

Goleman, Daniel. (2001). Emotional Intelligence: Why EQ is more important than IQ.

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Publisher.

Hadi, Y. Sumandiyo. (2007). Study Text And Contacts . Yogyakarta: Library Book

Publisher. 1- 133.

Hadi, Y. Sumandiyo. (2014). Choreography: Form-Technique- Content. Yogyakarta:

Creation Media.

Murgiyanto, S (1983). Choreography Basic Knowledge of Composition. Jakarta:

Department of Education and Culture. 1-153.

Ratnasari, Susilo. (2022). Tradition Ngetung Mother Suranan In Dongko Village, Dongko

District, Trenggalek Regency (Folklore Study). Surabaya: Baradha Online

Journal.

Sari, Y. K.. (2013). Influence Control Self And Learning Behavior on the Level of

Understanding of Introduction to Accounting (Empirical Study on Accounting

Study Program Students, Faculty of Economics, Padang State University).

Electronic Journal of Padang State University.

Smith, J. (1985). Dance Composition: A Practical Guide for Teacher. Translation: Ben

Suharto. Yogyakarta; Ikalasti Yogyakarta. 1- 125

Supriyono. (2011). Tata Make-up Stage. Poor: Bayumedia Publishing.

Yanuartuti, Wulan.(2017). “Travesti” (Visualization of Struggle) Life Tandak Ludruk in

Work Dance). Surabaya: Solah.

Diterbitkan

2025-12-11

Cara Mengutip

Cahyono, D. S., & Yanuartuti, S. (2025). KARYA TARI “PANGIKET” SEBAGAI VISUALISASI MAKNA JANUR KUNING PADA TAKIR PLONTHANG MELALUI TIPE TARI DRAMATIK : 1. INTRODUKSI, 2. METODE, 3. HASIL DAN PEMBAHASAN, 4. KESIMPULAN, 5. REFERENSI. Solah, 11(2). Diambil dari https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/solah/article/view/73801

Terbitan

Bagian

Articles
Abstract views: 37 , PDF Downloads: 20

Artikel paling banyak dibaca berdasarkan penulis yang sama

<< < 1 2