Implementasi Metode FCM Dan SAW dalam Pengelompokan dan Pemilihan Daerah Perkebunan Biofarmaka (Rimpang) Terbaik di Jawa Barat

Authors

  • Nabilah 'Afaaf Universitas Negeri Surabaya
  • Dwi Nur Yunianti Universitas Negeri Surabaya

DOI:

https://doi.org/10.26740/mathunesa.v14n1.p212%20-%20226

Abstract

Tanaman biofarmaka jenis rimpang seperti jahe, lengkuas, kunyit, dan kencur memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Provinsi Jawa Barat, namun diperlukan analisis kesesuaian wilayah yang tepat. Penelitian ini menerapkan metode Fuzzy C-Means (FCM) untuk mengelompokkan daerah berdasarkan ketinggian, suhu, kelembapan, kecepatan angin, curah hujan, dan penyinaran matahari, serta metode Simple Additive Weighting (SAW) untuk memberikan penilaian dan pemeringkatan guna menunjukkan daerah dengan hasil perkebunan biofarmaka rimpang terbaik pada setiap klaster berdasarkan kriteria luas panen dan jumlah produksi. Metode FCM diuji dengan jumlah klaster 2, 3, dan 4 menggunakan indeks Xie-Beni untuk memperoleh klaster optimal. Hasil terbaik diperoleh pada klaster 2 dengan nilai Xie-Beni sebesar 0,0551899560, yang menghasilkan dua zona utama, yaitu Zona Tropis Tinggi Lembap Tenang Hujan Sedang Cerah dan Zona Tropis Rendah Sangat Lembap Tenang Hujan Tinggi Teduh. Hasil analisis menunjukkan bahwa Zona Tropis Tinggi Lembap Tenang Hujan Sedang Cerah paling sesuai untuk pengembangan tanaman jahe, lengkuas, kunyit, dan kencur, dengan daerah terbaik berdasarkan metode SAW adalah Kabupaten Garut dan Kabupaten Sumedang. Sementara itu, Zona Tropis Rendah Sangat Lembap Tenang Hujan Tinggi Teduh paling sesuai untuk pengembangan tanaman kencur, dengan daerah terbaik yaitu Kabupaten Subang.

Kata kunci: Fuzzy C-Means, Simple Additive Weighting, Biofarmaka rimpang, Pengelompokan, Pemilihan daerah terbaik

Downloads

Download data is not yet available.

Downloads

Published

2026-04-30

Issue

Section

Articles
Abstract views: 1 , PDF Downloads: 2