Kekerasan Simbolik oleh Guru PLB di SLB Negeri Gunungsari Baureno Bojonegoro

  • Adinda Ajeng Apriliana Universitas Negeri Surabaya

Abstract

Terjadinya kekerasan di sekolah masih banyak terjadi. Kekerasan dapat berupa fisik, verbal termasuk kekerasan simbolik. Kekerasan dilakukan dengan pemahaman untuk menciptakan keteraturan yang tertib, disiplin dan kondusif didalam kelas. Menciptakan kedisiplinan pada peserta didik melalui pendidikan di sekolah.  Namun, dengan menggunakan kekerasan dapat memberikan akibat kepada peserta didik pada kenyamanan belajarnya. Penelitian ini bertujuan untuk menggali terkait kekerasan simbolik yang terjadi di SLB Negeri Gunungsari oleh guru PLB. Sebagaimana guru PLB seharusnya memiliki pengalaman serta pengetahuan yang lebih baik untuk penanganan anak-anak berkebutuhan khusus dalam memberikan pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan subjek penelitian ini adalah guru dan peserta didik yang mengalami kekerasan simbolik. Pengumpulan data yang dilakukan dengan tahap observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis dalam penelitian ini berdasarkan perspektif kekerasan Simbolik oleh Pierre Bourdieu. Hasil penelitian menyatakan terjadinya kekerasan simbolik merupakan penerapan yang dilakukan untuk menciptakan moral kehormatan pada diri anak. Kekerasan dilakukan apabila peserta didik mengalami tantrum, tidak mengikuti pelajaran dengan baik ketika di dalam kelas serta tidak menerapkan aturan sekolah. Adapun reaksi dari peserta didik yang dimunculkan menunjukkan ketidaknyamanan terhadap guru menjadi bentuk penyesuaian dalam kegiatan belajar mengajar. Tindakan yang tegas bukan menjadi kekerasan semata akan tetapi untuk menciptakan moral kehormatan bagi pribadi peserta didik. Kekuasaan yang dimiliki oleh guru dijadikan sebagai ekosistem pendidikan yang dapat mengajarkan peserta didik memiliki perilaku yang baik.

Published
2021-03-24
Section
Articles