THE PERSISTENCE OF THE KLATAKAN COMMUNITY'S SHELL SEEKERS IN THE DANCE WORK OF "RANG KARANG
THE PERSISTENCE OF THE KLATAKAN COMMUNITY'S SHELL SEEKERS IN THE DANCE WORK OF "RANG KARANG
Keywords:
Karya Tari, Koreografi, Rang Karang, Perempuan PesisirAbstract
Tari Rang Karang merupakan sebuah karya tari yang merepresentasikan etos kerja dan kegigihan para perempuan pesisir di desa Klatakan dalam aktivitas mencari kerang. Fenomena sosial ini diangkat ke dalam bentuk karya tari dramatik yang memvisualisasikan rangkaian adegan gerak dari aktivitas keseharian masyarakat Situbondo khususnya desa Klatakan. Metode penciptaan yang digunakan dalam karya ini mengacu pada metode konstruksi oleh Jacqueline Smith, yang meliputi tahapan eksplorasi, improvisasi, hingga pembentukan komposisi. Karya ini menerapkan konsep koreografi lingkungan, di mana pertunjukan dipentaskan langsung di lingkungan alami pesisir pantai Karya ini menerapkan konsep koreografi lingkungan, di mana pertunjukan dipentaskan langsung di lingkungan alami pesisir pantai, tidak hanya memindahkan gerak ke atas panggung, tetapi menjadikan ekosistem pesisir, interaksi tubuh dengan alat (cothek dan rinjing), serta dinamika alam (pasang-surut dan terik matahari) sebagai bagian integral dari struktur koreografi. Tubuh penari menjadi jembatan untuk menarasikan hubungan manusia dengan lingkungannya. Karya ini dibawakan oleh 6 penari wanita yang melambangkan kolektivitas pekerja perempuan. Dengan iringan musik pentatonis gamelan Jawa yang dikolaborasikan dengan instrumen dug-dug dan hadrah, menciptakan karakteristik musik Pandhalungan yang khas. Hasil dari penciptaan ini diharapkan mampu menunjukkan kekuatan naratif gerak yang menyatu dengan ruang lingkungan aslinya.
Kata Kunci: Karya tari, Koreografi, Rang Karang, Perempuan Pesisir
Downloads
References
Hadi, Y. S. (2007). Dance studies: Text and context. Yogyakarta: Pustaka Book publisher.
Hadi, Y. S. (2012). Choreography: Form, technique, and content. Yogyakarta: Cipta Media.
Hamalik, O. (2002). Teaching and learning process. Jakarta: Bumi Aksara.
Hawkins, A. M. (2003). Moving from within: A new method for dancemaking. Princeton:Princeton Book Company.
Moleong, L. J. (2017). Qualitative research methodology. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Murgiyanto, S. (2004). Tradition and innovation: Several problems of dance in Indonesia. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
Rohidi, T. R. (2011). Art research methodology. Semarang: Cipta Prima Nusantara.
Smith, J. (1985). Dance composition: A practical guide for teachers. London: A & C Black.
Soedarsono. (2002). Indonesian performing arts in the era of globalization. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Soedarsono. (2003). Introduction to knowledge and dance composition. Yogyakarta: Akademi Seni Tari Indonesia.
Sumaryono. (2011). Dance anthropology in the Indonesian perspective. Yogyakarta: Badan Penerbit ISI Yogyakarta.
Supanggah, R. (2007). Bothekan Karawitan I. Surakarta: ISI Press.
Sedyawati, E. (2006). Indonesian culture: Studies in archaeology, art, and history. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Sugiyono. (2019). Qualitative, quantitative, and R&D research methods. Bandung: Alfabeta.
Widaryanto, F. X. (2009). Environmental choreography. Surakarta: ISI Press.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 imelda ida royani, Bambang Sugito

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Abstract views: 6
,
PDF Downloads: 0
,
PDF Downloads: 0
