Komodifikasi Mitos Feminitas di Balik Narasi Pemberdayaan: Analisis Resepsi Iklan Lux I Love Being a Woman

Main Article Content

Khezia Nabiil
Aditya Fahmi Nurwahid

Abstract

Perempuan sering kali dihadapkan pada konstruksi sosial yang membatasi ruang ekspresi mereka, di mana masyarakat masih menetapkan standar atau ekspektasi tertentu mengenai peran ideal seorang perempua. Di tengah realitas tersebut, Lux Indonesia mengahadirkan iklan dengan tema I Love Being a Woman di YouTube hadir membawa narasi pemberdayaan perempuan melalui pesan penerimaan diri, kebebasan berekspresi, serta penolakan terhadap stigma sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis resepsi khalayak terhadap pesan iklan. Penelitian ini menggunakam pendekatan kualitatif, dipadukan dengan metode analisis resepsi Stuart Hall guna memetakan posisi pemaknaan khalayak, serta teori feminisme eksistensialis Simone de Beauvoir untuk menelaah secara kritis posisi perempuan dalam narasi iklan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan sejumlah informan dari latar belakang yang beragam. Hasil penelitian menunjukkan adanya keragaman pemaknaan. Informan pada posisi dominan hegemonik menerima pesan iklan sebagai wujud dukungan kebebasan perempuan. Informan pada posisi negosiasi sepakat dengan pesan tersebut, namun mengompromikannya dengan batasan nilai agama dan norma kepantasan sosial. Ditemukan pula informan yang cenderung menolak pesan iklan. Kesimpulan dari penelitian ini , iklan Lux I Love Being a Woman memiliki dua sisi yang bertentangan, yaitu di satu sisi membuka ruang bagi pesan pemberdayaan perempuan, tetapi di sisi lain tetap terikat pada logika industri kecantikan yang berpotensi mendisiplinkan tubuh perempuan.


 

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

How to Cite
Nabiil, K., & Fahmi Nurwahid, A. (2026). Komodifikasi Mitos Feminitas di Balik Narasi Pemberdayaan: Analisis Resepsi Iklan Lux I Love Being a Woman. The Commercium, 10(3), 1107–1125. https://doi.org/10.26740/tc.v10i3.81440
Section
artikel

References

Lux Indonesia Official. (2025). I Love Being A Woman - 100 Tahun Merayakan Kecantikan bersama

Keharuman Lux. https://www.youtube.com/watch?v=26MacaRlP5c

Garbett, K. M., Craddock, N., Saraswati, L. A., & Diedrichs, P. C. (2023). Body Image among Girls in Indonesia : Associations with Disordered Eating Behaviors , Life Engagement , Desire for Cosmetic Surgery and Psychosocial Influences.

BPS. (2025). Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Indonesia. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2025/05/05/2430/indeks-ketimpangan-gender-ikg-indonesia-konsisten-mengalami-penurunan-menjadi-0-421-menunjukkan-perbaikan-dalam-kesetaraan-gender

Becker-­herby, E. (2016). The Rise of Femvertising: Authentically Reaching Female Consumers. Journal of Business Research, 59(1), 46–53.

Clinic, Z. (2024). ZAP Beauty Index 2024.

Tong, R., & Botts, T. F. (2024). Feminist Thought A More Comprehensive Introduction Sixth. In Paper Knowledge . Toward a Media History of Documents (Vol. 5, Issue 2).

Shabilla, C. A. P., & Azwar. (2025). Gender, Signs, and Existence: A Semiotic Interpretation of A Normal Woman Through Simone de Beauvoir’s Existentialist Feminism. Icommedig, 2(1), 159–178. https://journal.uir.ac.id/index.php/icommedig/article/view/26404/9070

Gill, R. (2007). Gender and Media Rosalind Gill.

Ramdhani A.R, Cahya aulia Tuti Bahfiarti, M. I. S. (2026). KONSTRUKSI REALITAS SOSIAL TERHADAP ISU BUDAYA LOKAL DALAM PEMBERITAAN MEDIA ONLINE DI INDONESIA. Nusantara: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, 9(4), 1483–1490.

Lisa. (2025). Statistik YouTube 2025: Wawasan & Tren Utama. AFFmaven. https://affmaven.com/id/youtube-statistics/

Siska, F., Maria Magdalena Beatrice Sogen, Yulanda, N., Hasni, Tanggur, F. S., & Handani, S. S. (2023). Metodelogi Penelitian Pendidikan.

Halik, A., Komunikasi, I., Dakwah, F., & Komunikasi, D. (2018). Paradigma Kritik Penelitian Komunikasi (Pendekatan Kritis-Emansipatoris Dan Metode Etnografi Kritis). Jurnal Dakwah Tabligh, 19(2), 162–178.

Djamba, Y. K., & Neuman, W. L. (2002). Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches. In Teaching Sociology (Vol. 30, Issue 3). https://doi.org/10.2307/3211488

Sugiyono. (2013). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D.

Muammar Khaddafi, Linda Puji Kusuma, Liza Ulfitri, & Tassya Putri Azzahra. (2025). Perbandingan Metode Pengumpulan Data dalam Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif dalam Arahan Ilmu Akuntansi. Jurnal Inovasi Ekonomi Syariah Dan Akuntansi, 2(4), 208–218. https://doi.org/10.61132/jiesa.v2i4.1388

Feger, A. (2025). Why brands are rethinking age and inclusivity in beauty. https://www.emarketer.com/content/why-brands-rethinking-age-inclusivity-beauty

Knapman, E. (2022). The beauty industry’s obsession with anti-ageing: Is this the beginning of the end?

Effendy, R., Damayanti, M. A., Widayati, S., & Setiyaningsih, L. A. (2024). Mendambakan Kecantikan Ideal Sebagai Penindasan: Analisis Resepsi Iklan ImPerfect Beauty Elshe Skin. Jurnal Komunikasi Nusantara, 6(1), 169–181. https://doi.org/10.33366/jkn.v6i1.471