KINERJA MARSHALL DALAM PEMBUATAN LASTON LAPIS AUS DENGAN CAMPURAN BERASPAL PANAS DAN HANGAT
DOI:
https://doi.org/10.26740/rekats.v14n01.p144-153Kata Kunci:
Marshall, Laston AC-WC, Aspal Panas, Aspal Hangat, Stabilitas, Kadar Aspal OptimumAbstrak
Inovasi teknologi aspal yang efisien dan ramah lingkungan menjadi keniscayaan di tengah dominasi perkerasan lentur pada infrastruktur jalan Indonesia. Salah satu terobosan menjanjikan yang sedang digalakkan adalah Campuran Aspal Hangat (WMA). Teknologi ini hadir sebagai solusi cerdas pengganti Campuran Aspal Panas (HMA) yang notabene membutuhkan suhu tinggi dan meninggalkan jejak negatif pada lingkungan. Penelitian ini mengupas tuntas performa campuran Laston lapis aus (AC-WC) dengan basis HMA dan WMA, menggunakan metode Marshall. Tujuannya tak lain untuk membongkar karakteristik stabilitas, kelelehan, kepadatan, rongga dalam campuran (VIM), rongga dalam agregat terisi aspal (VFA), volume agregat mineral (VMA), serta Marshall Quotient, dan menentukan kadar aspal optimum (KAO) yang paling pas. Uji coba ini dilaksanakan secara eksperimental di Laboratorium Jalan dan Transportasi Universitas Negeri Surabaya. Sebagai variabel bebas, suhu pencampuran diatur secara spesifik: 105°C untuk WMA dan 150°C untuk HMA, dengan variasi kadar aspal pada 4,6% dan 5,1%. Pengujian terhadap agregat dan abu batu mengacu pada standar SNI dan Spesifikasi Umum Bina Marga tahun 2018. Dari hasil pengujian yang cermat, terungkap bahwa campuran HMA memang unggul dalam stabilitas dibandingkan WMA. Namun demikian, WMA tetap tegak berdiri memenuhi persyaratan teknis dan memancarkan potensi besar sebagai alternatif yang sungguh ramah lingkungan. WMA terbukti menghadirkan efisiensi energi dan mengurangi emisi, meskipun secara angka Marshall Quotient dan stabilitasnya sedikit di bawah HMA. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa WMA sangat layak dipertimbangkan, mengingat efisiensi lingkungan dan performanya yang kompetitif terhadap HMA.
Unduhan
Referensi
Sukirman, S. (2016). Beton Aspal Campuran Panas. Institut Teknologi Nasional.
Gunawan, I. W., Thanaya, N. A., & Purbanto, I. G. R. (2014). Analisis Karakteristik Campuran Aspal Panas Dengan Menggunakan Campuran Aspal Reject. J. Ilm. Tek. Sipil, 18(1), 92-102.
Saodang, H. (2005). Konstruksi Jalan Raya. In Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952. (Vol. 13, Issue April).
Susilowati, A., Pratikto, P., & Wiyono, E. (2023, August). Studi Karakteristik Campuran Aspal Beton Hangat Laston AC-WC dengan Penambahan Rediset LQ-1106. In Seminar Nasional Inovasi Vokasi (Vol. 2, pp. 213-222).
Rombot, P., Kaseke, O. H., & Manoppo, M. R. (2015). Kajian kinerja campuran beraspal panas jenis lapis aspal beton sebagai lapis aus bergradasi kasar dan halus. Jurnal Sipil Statik, 3(3), 140521.
Caputo, P., Abe, A. A., Loise, V., Porto, M., Calandra, P., Angelico, R., & Oliviero Rossi, C. (2020). The role of additives in warm mix asphalt technology: An insight into their mechanisms of improving an emerging technology. Nanomaterials, 10(6), 1202.
Asmiani, N., Alham, M., & Yusuf, F. (2016). Penentuan Kualitas Aspal Buton dengan Menggunakan Metode Sokhlet Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara. Jurnal Geomine, 4(2), 67–70.
Arlia, L., Saleh, S. M., & Anggraini, R. (2018). Karakteristik Campuran Aspal Porus Dengan Substitusi Gondorukem Pada Aspal Penetrasi 60/70. Jurnal Teknik Sipil, 1(3), 657–666.
Setiowati, R., & Putra, M. F. (2023). Struktur Biaya Produksi Aspal Buton Untuk Kebutuhan Infrastruktur Sebagai Substitusi Impor. Jurnal Teknologi Dan Manajemen, 21(1), 35-42.
Sukarman, S. (2003). Beton aspal campuran panas. Yayasan Obor Indonesia.
Achyani, R. (2023). Ekotoksikologi perairan: Sebuah pengantar. Syiah Kuala University Press.
Widyantara, I. G. N., Suparma, L. B., & Muthohar, I. (2018). Stabilitas Marshall Dan Ketahanan Deformasi Warm Mix Asphalt Menggunakan Aditif Zycotherm. Inersia lnformasi dan Ekspose Hasil Riset Teknik Sipil dan Arsitektur, 14(1), 48-61.
Kurniawan, S., Sunarjono, S., Riyanto, A., & Hernaeni, S. R. (2019). Durabilitas Campuran Aspal Emulsi Dingin dan Hangat.
Daniel, C. G., Canny, K., Firdaus, F. M., & Iskandar, D. B. (2023). Studi Komparasi Dampak Lingkungan Produksi Campuran Aspal Hangat Modifikasi Polimer EVA dengan Campuran Aspal Panas Skala Laboratorium Menggunakan Life Cycle Assessment (LCA). Teknik, 44(1), 23-38.
Maha, I., Subagio, B. S., Affendi, F., & Rahman, H. (2015). Kinerja Campuran Beraspal Hangat Laston Lapis Pengikat (AC-BC) dengan Reclaimed Asphalt Pavement (RAP). Jurnal Teknik Sipil ITB, 22(1), 57-66.
Natakusuma, J. C., & Wulandari, P. S. (2020). Pengaruh Variasi Gradasi Agregat dari Batas Bawah Hingga Batas Tengah Pada Campuran Aspal Emulsi Dingin. Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil, 9(1), 180-187.
Muaya, G. S., Kaseke, O. H., & Manoppo, M. R. (2015). Pengaruh Terendamnya Perkerasan Aspal oleh Air Laut yang Ditinjau terhadap Karakteristik Marshall. Jurnal Sipil Statik, 3(8).
Muldiyanto, A. (2011). Uji Stabilitas terhadap Flow Campuran Aspal dengan Marshall Test (Kadar Aspal 5%, Penetrasi 60/70). Jurnal Pengembangan Rekayasa dan Teknologi, 13(1), 11-18.
Nur, H. S., & Muharam, L. F. (2022). Analisis Karakteristik Campuran Aspal Panas Split Mastic Asphalt (SMA) menggunakan Bahan Tambah Buton Granular Asphalt (BGA) dan Tongkol jagung. Jurnal Media Inovasi Teknik Sipil Unidayan, 11(2), 59-62.
Susilowati, A., & Wiyono, E. (2019). Variasi Suhu Pemadatan Pada Campuran Beton Aspal Menggunakan Bahan Tambah Anti Stripping. Construction and Material Journal, 1(1), 12-20.
Qothrun Nada, A. (2023). Pengaruh Variasi Temperatur Pemadatan Pada Campuran Lapis Aspal Beton AC-WC Menggunakan Uji Marshall (Doctoral dissertation, Universitas Wijayakusuma).
SNI BETON 03-2847-2002.
Direktorat Jenderal Bina Marga. (2018). Spesifikasi Umum 2018. Divisi 6 Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
SNI. Standar Nasional Indonesia.; 2012.
Ratna Dwi Esti, L. (2022). Analisis Karakteristik Campuran Aspal Beton Lapis Aus (AC-WC) Dengan Menggunakan Kalsium Karbonat Sebagai Filler. Universitas Negeri Surabaya
Abstract views: 0
,
PDF Downloads: 0