EKSISTENSI KETOPRAK GAYA BARU SISWO BUDOYO, DI TULUNGAGUNG, TAHUN 1958-2002

  • Khoirul Anwar

Abstract

Kesenian ketoprak merupakan warisan budaya nenek moyang yang seharusnya terus dilestarikan, namun dewasa ini generasi muda seakan enggan dan tidak tertarik dengan kesenian tradisional. Modernisasi membuat kebudayaan barat seakan menjadi kebudayaan yang harus dicontoh daripada kebudayaan asli Indonesia oleh generasi muda saat ini, bahkan generasi muda saat ini tidak mengerti apa itu kesenian ketoprak. Ketoprak berasal dari Jawa Tengah dan berkembang di Jawa Timur, kesenian ketoprak dinilai sebagai kesenian yang cukup kompleks, mencakup seni peran, seni tari, seni musik, serta terdapat adegan lawak yang sangat menghibur. Salah satu grup ketoprak yang terkenal adalah ketoprak Siswo Budoyo.
Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu, 1) Apa yang melatar belakangi terbentuknya ketoprak Siswo Budoyo?, 2) Bagaimana cara ketoprak Siswo Budoyo dapat mencapai puncak ketenaran pada tahun 1980?, 3) Mengapa ketoprak Siswo Budoyo mengalami kemunduran pada tahun 1998?.
Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah, langkah awal yaitu heuristik, dengan mengumpulkan sumber-sumber terkait tentang kesenian ketoprak Siswo Budoyo di Tulungagung, sumber primer didapat dari dokumentasi, wawancara dari narasumber, serta koran sezaman. Sedangkan sumber sekunder didapatkan dari buku-buku dan jurnal terkait dengan ketoprak Siswo Budoyo. Kritik sumber dilakukan untuk memilah sumber baik primer maupun sekunder yang terkait dengan ketoprak Siswo Budoyo. Interpretasi sumber digunakan untuk membandingkan sumber satu dengan sumber lain sehingga diperoleh fakta sejarah mengenai ketoprak Siswo Budoyo. Tahap akhir adalah historiografi yang menjadi hasil tulisan sebagai rekonstruksi sejarah.
Hasil penelitian mengenai eksistensi ketoprak Siswo Budoyo dapat dianalisis bahwa yaitu, 1) ketoprak Siswo Budoyo merupakan grup ketoprak yang terbentuk pada tanggal 19 Juni 1958 di Tulungagung, didirikan oleh Ki Siswondho, terbentuk karena jiwa seni Ki Siswondho yang lebih condong dengan kesenian ketoprak, yang mana sebelumnya Ki Siswondho pernah menekuni beberapa kesenian lainnya. 2) Upaya ketoprak Siswo Budoyo untuk tetap eksis diantaranya dengan cara menggunakan unsur gaya baru, namun dengan tidak meninggalkan ciri dari ketoprak itu sendiri. 3) Faktor menurunnya eksistensi ketoprak Siswo Budoyo karena adanya modernisasi yang kian marak, kurangnya kecintaan generasi muda terhadap ketoprak, serta tidak adanya pengganti Ki Siswondho sebagai pemimpin ketoprak setelah wafatnya beliau.
Kata Kunci : Eksistensi, Kesenian Ketoprak, Tulungagung.

Published
2017-05-02
Abstract Views: 120
PDF Downloads: 635