SILKY PUDDING SUSU KEDELAI DAN DAUN KELOR SEBAGAI ALTERNATIF MAKANAN SELINGAN BALITA STUNTING

  • Sofi Tsuroyya Al Fatin State University of Surabaya
Keywords: Puding Susu, Kedelai, Daun Kelor, Makanan Selingan, Balita Stunting

Abstract

Stunting terjadi karena kurangnya asupan energi, protein, dan zat besi, serta status ekonomi yang rendah. Susu kedelai merupakan salah satu sumber protein. Daun kelor mengandung tinggi protein dan zat besi. Penggunaan susu kedelai dalam pembuatan silky pudding dengan penambahan daun kelor diharapkan mampu memenuhi kebutuhan makanan selingan balita stunting. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bubuk daun kelor terhadap daya terima silky pudding dan kandungan gizi serta nilai ekonomi pada formula terbaik berdasarkan uji hedonik. Penelitian menggunakan metode eksperimen murni dengan penambahan bubuk daun kelor yaitu 3 g, 5 g, dan 7 g, yang kemudian diujikan pada 40 panelis tidak terlatih. Data dianalisis secara deskriptif dan statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Mann Whitey (α=5). Formula terbaik silky pudding ditentukan dengan melihat nilai rata-rata daya terima tertinggi secara keseluruhan. Kandungan gizi yang dianalisis yaitu energi dengan metode Bonferroni; protein dengan metode Kjeldahl dan zat besi dengan spektrofotometri gelombang. Nilai ekonomi produk diperoleh dengan menghitung biaya produksi (food cost). Hasil penilaian daya terima menunjukkan bahwa silky pudding dengan penambahan bubuk daun kelor dapat diterima dengan kategori agak suka. Formula silky pudding dengan penambahan bubuk daun kelor yang paling disukai adalah silky pudding dengan penambahan 3 g bubuk daun kelor. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada penilaian warna, tekstur, rasa, dan keseluruhan (p>0,05), sedangkan pada aroma terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05) yang berarti penambahan bubuk daun kelor mempengaruhi aroma tetapi tidak berpengaruh terhadap warna, tekstur, rasa, dan keseluruhan silky pudding. Formula terbaik memiliki kandungan 189,48 kkal energi, 8,88 g protein, dan 2,19 mg zat besi per porsi. Harga silky pudding formula terbaik adalah Rp 897,2/porsi.

References

Aridiyah, F.O., Rohmawati, N., & Ririanty, M. (2015). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Stunting pada Anak Balita di Wilayah Pedesaan dan Perkotaan. E-Jurnal Pustaka Kesehatan, 3(1), 163–170.

Atmarita (Ed). (2005). Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM). Jakarta: PERSAGI.

Ayustaningwarno, F. (2014). Teknologi Pangan : Teori Praktis dan Aplikasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Dewi, I. A., &  Adhi, K.T. (2016). Pengaruh Konsumsi Protein dan Seng Serta Riwayat Penyakit Infeksi Terhadap Kejadian Pendek Pada Anak Balita Umur 24-59 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Nusa Penida III. Arc. Com. Health, 3(1), 36–46.

Ernawati, A., & Samiasih, A. (2011). Hubungan Antara Perilaku Mengkonsumsi Makanan Manis Dan Perilaku Menggosok Gigi Dengan Kejadian Karies Gigi Pada Anak TK Pertiwi 37 Gunung Pati. Jurnal Keperawatan, 4(2), 183-193.

Harianti. (2011). Ikan Gabus (Channa striata) dan Berbagai Manfaat Albumin yang Terkandung di Dalamnya. Jurnal Balik Diwa, 2, 18–25.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan : Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia. Jakarta : Pusdatin Kemenkes RI. ADDIN Mendeley Bibliography CSL_BIBLIOGRAPHY  

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Hasil Utama Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Tahun 2018. Jakarta : Balitbang Kemenkes RI.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Permenkes RI No 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. Jakarta.

Koswara, S. (2006). Susu kedelai tak kalah dengan susu sapi. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi Fakultas Teknologi Pertanian IPB. Bogor.

Ojugo, C. (2010). Practical Food and Beverage Cost Control. Edisi Kedua. Canada: Nelson Education, Ltd.

Rahmawati, P.S., & Adi, A.C. (2016). Daya Terima dan Zat Gizi Permen Jeli dengan Penambahan Bubuk Daun Kelor (Moringa Oleifera). Media Gizi Indonesia, 11(1), 86-93.

Rudianto, A. S., & Alharini, S. (2013). Studi Pembuatan Dan Analisis Zat Gizi Pada Produk Biskuit Moringa Oleifera Dengan Subtitusi Tepung Daun Kelor. Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makasar.

Sharlin, J., & Edelstein, S. (2020). Buku Ajar Gizi Dalam Daur Keihdupan. Jakarta: EGC.

Susetyowati. (2016). Ilmu Gizi Teori dan Aplikasi: Gizi Bayi dan Balita. Jakarta: EGC.

Thurber, M.D., & Fahey, J.W. (2009). Adoption of Moringa Oleifera to Combat Undernutrition Viewed Through The Lens of the “Diffussion of Innovations” Theory”. Ecol Food Nutr,  48(3), 212–225.

UNICEF. (2013). Improving Child Nutrition, The Achievable Imperative for Global Progress. New York: United Nations Children’s Fund.

Wellina, W.F., Kartasurya, M.I., & Rahfilludin, M.Z. (2016). Faktor Risiko Stunting pada Anak Umur 12-24 Bulan. Jurnal Gizi Indonesia,5(1), 55–61.

Winarno, F.G. (2006). Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

World Health Organization. (1995). Physical Status: The Use and Interpretation of Anthropometry. Geneva : World Health Organization.

Zakaria, Abdullah, T., Retno, S.L., & Rudy, H., (2013). Pemanfaatan Tepung kelor dalam Formulasi Pembuatan Makanan Tambahan Untuk Balita Kurang Gizi. Media Gizi Pangan, 15, 1-6.

Zakiatul, A.R., (2016). Studi Tentang Tingkat Kesukaan Responden Terhadap Penganekargaman Lauk Pauk dari Daun Kelor (Moringa oleivera). E-Journal Boga,  5, 17-22.
Published
2021-07-31
How to Cite
Al Fatin, S. (2021). SILKY PUDDING SUSU KEDELAI DAN DAUN KELOR SEBAGAI ALTERNATIF MAKANAN SELINGAN BALITA STUNTING. GIZI UNESA, 1(1), 38-44. Retrieved from https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/GIZIUNESA/article/view/41092