NGENGKLENG DANCE (A SYMBOL OF INNER CRYING RESULTING FROM IGNRED RITUALS)
NGENGKLENG DANCE (A SYMBOL OF INNER CRYING RESULTING FROM IGNRED RITUALS)
Kata Kunci:
Email: Indi.20071@mhs.unesa.ac.id, bambangsugito @unesa.ac.idAbstrak
Abstrak: Karya tari Ngengkleng merupakan tari dramatik yang terinspirasi dari fenomena penundaan ritual sedekah bumi di Desa Kesiman, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Penundaan ritual tersebut menimbulkan keresahan dan rasa bersalah kolektif masyarakat yang dikaitkan dengan munculnya fenomena Ngengkleng, yaitu gangguan mental yang dialami beberapa perempuan muda. Karya ini mengungkapkan berbagai emosi masyarakat, seperti penyesalan, kegelisahan, amarah, dan harapan akan pemulihan, sekaligus merefleksikan pentingnya pelestarian tradisi sebagai penyangga harmoni sosial dan spiritual. Proses penciptaan menggunakan Metode Konstruksi I Jacqueline Smith melalui tahapan rangsang awal, improvisasi, evaluasi, seleksi, hingga pengembangan motif. Karya disajikan dalam bentuk tari dramatik dengan mode penyajian simbolis yang memadukan unsur tari dan teater. Struktur pertunjukan terdiri atas introduksi dan lima adegan yang menggambarkan perjalanan emosional tokoh utama. Didukung oleh tata rias, busana, properti, tata cahaya, serta iringan musik tradisional dan MIDI, karya ini disajikan oleh lima penari perempuan di panggung proscenium Gedung Cak Durasim Surabaya. Melalui penyajiannya, Ngengkleng diharapkan menjadi media edukasi budaya, refleksi sosial, serta kontribusi kreatif dalam pengembangan tari dramatik di Indonesia.
Kata kunci: Tari Ngengkleng, tari dramatik, sedekah bumi, budaya lokal.
Unduhan
Referensi
Arni, A., & Halimah, N. (2020). Fenomena kesurupan: Studi analisis kritis
dalam kajian teologi dan psikologi Islam. Madania: Jurnal Ilmu-
Ilmu Keislaman, 10(2), 105–122.
Hadi, Y. S. (2007). Kajian tari: Teks dan konteks. Pustaka Book Publisher.
Hawkins, A. M. (2003). Mencipta lewat tari (Y. Sumandiyo Hadi, Trans.).
Manthili Yogyakarta.
Liliweri, A. (2022). Komunikasi nonverbal: Mengenal bahasa tubuh dasar.
PT Refika Aditama.
Murgiyanto, S. (1983). Koreografi: Pengetahuan dasar komposisi tari.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Pramitya, A. A. I. M., Widianti, A., & Astaningtyas, N. M. I. N. (2018).
Gambaran emosi pada kasus remaja awal yang mengalami trans
disosiatif (kesurupan): Studi kasus di SMP SL Bali. Jurnal
Psikologi Mandala, 2(1).
Prasasti, S. (2020). Konseling indigenous: Menggali nilai-nilai kearifan lokal
tradisi sedekah bumi dalam budaya Jawa. Cendekia: Jurnal
Pendidikan dan Pembelajaran, 14(2), 110–123.
Rahmawati, I. (2022). Pengantar psikologi sosial. PT Bumi Aksara.
Santosa, E., et al. (2008). Seni teater jilid 2: Untuk SMK. Direktorat
Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.
Sari, N. M. (2017). Fungsi kesenian Tari Seblang bagi masyarakat Desa
Olehsari dan Kelurahan Bakungan di Banyuwangi Jawa Timur
(Doctoral dissertation, Universitas Airlangga).
Smith, J. (1985). Komposisi tari: Sebuah petunjuk praktis bagi guru (Ben
Suharto, Trans.). Ikalasti Yogyakarta.
Sugiyono. (2019). Metode penelitian kualitatif. Alfabeta.
Westerink, H. (2021). A dark trace: Sigmund Freud on the sense of guilt.
Leuven University Press.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pendidikan Sendratasik

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Abstract views: 0
,
PDF Downloads: 0



