ARKEOLOGI WACANA KASUS AGUS SALIM
ANALISIS TEKS PEMBERITAAN PENYANDANG DISABILITAS TUNA NETRA DALAM KASUS PENYALAHGUNAAN DANA DONASI DI MEDIA DETIK.COM, TEMPO.COM DAN ANTARA NEWS
Abstract
Abstract
This study examines Indonesian online media coverage of a blind person with disabilities in a donation fund misuse case involving Agus Salim. The representation of persons with disabilities in mass media is often not neutral; rather, it is shaped by specific discursive practices intertwined with power relations, normalization processes, and moral constructions. Therefore, this study aims to reveal how discourse concerning blind persons with disabilities is produced, regulated, and circulated within Indonesian online media texts.
This research employs Michel Foucault’s discourse archaeology approach, focusing on the analysis of statements (énoncés), rules of discursive formation, and the historical conditions that enable the emergence of particular discourses. The data consist of news texts published by three national online media outlets—Detik.com, Antara News, and Tempo.co—during the period of coverage of the Agus Salim case. These media were selected based on differences in institutional characteristics, journalistic orientations, and ideological positions in the production of discourse.
The findings indicate that media coverage does not merely position Agus Salim as a legal subject but also reproduces disability identities through specific narratives, such as vulnerability, dependency, and moral problems. In Detik.com and Antara News, legal discourse and event chronology are more dominant, whereas Tempo.co tends to present a more reflective narrative by emphasizing power relations, the legitimacy of donations, and ethical issues in the management of public funds. These differences demonstrate that representations of persons with disabilities are not singular but are shaped by distinct discursive regimes operating within each media outlet.
This study concludes that online media play an active role in shaping social knowledge about persons with disabilities through particular discursive practices. Therefore, discourse archaeology analysis is essential to uncover how media language not only represents reality but also produces meaning, subjects, and social truth.
Keywords: discourse archaeology, Michel Foucault, online media, blind persons with disabilities, media representation
Abstrak
Penelitian ini mengkaji pemberitaan media online Indonesia terhadap penyandang disabilitas tuna netra dalam kasus penyalahgunaan dana donasi yang melibatkan Agus Salim. Representasi penyandang disabilitas dalam media massa kerap kali tidak netral, melainkan dibentuk oleh praktik wacana tertentu yang berkelindan dengan relasi kuasa, normalisasi, serta konstruksi moral. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana wacana tentang penyandang disabilitas tuna netra diproduksi, diatur, dan disirkulasikan dalam teks pemberitaan media online Indonesia.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah arkeologi wacana Michel Foucault, dengan fokus pada analisis pernyataan (énoncé), aturan pembentukan wacana, serta kondisi historis yang memungkinkan munculnya wacana tertentu. Data penelitian berupa teks-teks berita yang dipublikasikan oleh tiga media online nasional, yaitu Detik.com, Antara News, dan Tempo.co, dalam rentang waktu pemberitaan kasus Agus Salim. Pemilihan ketiga media tersebut didasarkan pada perbedaan karakter institusional, orientasi jurnalistik, serta posisi ideologis media dalam memproduksi wacana.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberitaan tidak semata-mata menempatkan Agus Salim sebagai subjek hukum, tetapi juga mereproduksi identitas disabilitas melalui narasi tertentu, seperti kerentanan, ketergantungan, dan problem moral. Dalam pemberitaan Detik.com dan Antara News, wacana hukum dan kronologi peristiwa lebih dominan, sementara Tempo.co cenderung menghadirkan narasi yang lebih reflektif dengan menekankan aspek relasi kuasa, legitimasi donasi, serta problem etika dalam pengelolaan dana publik. Perbedaan ini menunjukkan bahwa representasi penyandang disabilitas tidak berdiri tunggal, melainkan dibentuk oleh rezim wacana yang bekerja dalam masing-masing media.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa media online berperan aktif dalam membentuk pengetahuan sosial tentang penyandang disabilitas melalui praktik wacana tertentu. Dengan demikian, analisis arkeologi wacana menjadi penting untuk membongkar bagaimana bahasa media tidak hanya merepresentasikan realitas, tetapi juga memproduksi makna, subjek, dan kebenaran sosial.
Kata Kunci: Arkeologi wacana, Michel Foucault, media online, penyandang disabilitas tuna netra, representasi media
Downloads
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
Abstract views: 8
,
PDF Downloads: 2