Konstruksi Masyarakat Sidoarjo tentang Konflik Bupati Subandi dan Wakil Bupati Mimik Idayana Pasca Pelantikan Kepala Daerah Sidoarjo
Abstract
Penelitian ini mengkaji bagaimana masyarakat Sidoarjo mengonstruksi konflik politik antara Bupati Subandi dan Wakil Bupati Mimik Idayana pasca pelantikan kepala daerah tahun 2025. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap sepuluh informan yang mewakili beragam latar belakang sosial dan profesi. Analisis dilakukan menggunakan Teori Konstruksi Sosial atas Realitas dari Peter L. Berger dan Thomas Luckmann melalui tiga tahapan, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terbentuk melalui media sosial, diskusi antarmasyarakat, dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Konflik politik kemudian berkembang menjadi realitas sosial melalui berbagai peristiwa institusional, seperti penolakan permintaan maaf Bupati, mutasi Aparatur Sipil Negara (ASN) secara sepihak, dan perselisihan hukum. Penafsiran masyarakat terbagi ke dalam tiga kelompok, yaitu akademisi dan tokoh masyarakat yang memandang konflik sebagai ancaman terhadap tata kelola pemerintahan yang baik, mahasiswa dan pemuda yang menunjukkan sikap skeptis hingga apatis terhadap politik, serta masyarakat akar rumput yang menganggap konflik tersebut sebagai perebutan kepentingan elite yang mengabaikan kepentingan publik. Konflik ini juga berdampak pada menurunnya kualitas pelayanan publik, seperti penanganan banjir, perbaikan jalan, dan layanan air bersih, sehingga memicu penurunan kepercayaan masyarakat serta meningkatnya kejenuhan politik.
Kata Kunci: Konstruksi Sosial, Konflik Politik, Pemerintahan Daerah, Kepercayaan Publik, Pelayanan Publik
Downloads
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
Abstract views: 38
,
PDF Downloads: 17