Vol. 15 No. 1 (2026): Bersembunyi di balik Pendisiplinan Tubuh

					View Vol. 15 No. 1 (2026): Bersembunyi di balik Pendisiplinan Tubuh

SPerang seolah-olah merupakan bagian dari kesejarahan peradaban manusia. Peradaban berdiri dan runtuh dari berbagai peperangan. Seolah-olah mengingatkan pada kita pada tulisan Peter L. Berger tentang Piramida Kurban Manusia. Betapa peradaban manusia yang tinggi, mulia dan indah ternyata merupakan kuburan dari tulang-tulang manusia. Ideologi yang begitu kokoh harus mengorbankan manusia-manusia yang "kalah" atau berbeda dari arus utama peradaban. Atas nama peradaban, para penguasa seolah-olah memperoleh kuasa untuk menaklukan, menundukkan dan menghancurkan orang-orang yang berbeda. Hitler harus melakukan "holocoust," begitu pula dengan Stalin membersihkan lawan-lawan politiknya, dan Mao Zedong dengan revolusi kebudayaannya. 

Di dalam kondisi ini, posisi warganegara seolah-olah dalam posisi lemah, tanpa pilihan dan tanpa kuasa apapun. Karena kontrak sosialnya, mereka telah kehilangan kuasa, bahkan kehilangan nyawa. Sungguh sebuah ironi telah dibayangkan oleh J.J. Rousseau (1712-1778). Namun demikian, dalam kumpulan massa yang begitu besar, sebagian kecil memilih tidak tinggal diam. Di masa pemerintahan Adolf Hitler, ada gerakan perlawanan Mawar Putih (Die Weiße Rose) (1942-1943) yang terdiri  dari para cendekiawan muda, seperti Hans dan Sophie Scholl serta Profesor Kurt Huber, begitu pula dengan sekelompok perwira, antara Claus von Stauffenberg, meskipun pada akhirnya harus dieksekusi mati. Kelompok petit bourguise dalam istilah Karl Marx (1818-1883) tidak selalu berpihak pada penguasa, begitu pula yang dikatakan oleh Antonio Gramsci (1891-1937).

Eksekusi merupakan bagian dari kekerasan yang dilakukan oleh penguasa. Kekerasan itu merupakan bentuk pendisiplinan tubuh dalam pemikiran M. Foucoult (1926-1984), seorang filsuf  Perancis. Penguasa menuntut kepatuhan warga negara agar tujuannya tercapai. Apakah tujuan itu merupakan merupakan cita-cita seluruh bangsa tentunya perlu dipertanyakan. Namun demikian, mereka mengemas sebagai ideologi yang sangat cantik dan mempesona.

Lebih lanjut, kenyataan-kenyataan ini tidak saja terjadi di negara tertentu saja. Sebagaimana menjadi catatan sejarah, ketika masa kolonial Belanda, para cendekiawan muda, seperti: Sukarno, M. Hatta, Sayutti Melik, dan Sutan Syahrir juga mengalami pendisiplinan, bahkan Mas Marco Kartodikromo dan Haji Misbach sakit, mati dan dikuburkan di tempat pembuangan. Pola-pola pendisplinan berlangsung terus pada pemerintahan Soekarno, salah satunya Sutan Syahrir yang meninggal sebagai tahanan politik di pengasingan (Zurich Swiss). Di masa pemerintahan Suharto, sejumlah aktivis Malari dan Petisi 50 "dicabut" hak-hak sosial dan ekonominya.

Pendisiplinan  tubuh  dalam berbagai bentuk kekerasan ini sebenarnya terjadi tidak saja di tingkat negara, tetapi juga institusi-institusi yang lebih rendah, bahkan masyarakat lokal pun  juga dapat melakukan. Melalui pendisiplinan tubuh, ketertiban sosial (social order) dapat tetap ditegakkan. Bagi seorang sosiolog, pasti mempertanyakan ketertiban sosial tersebut, apakah untuk kepentingan masyarakat ataukah terbatas untuk memenuhi syahwat kuasa para elite. Mempertanyakan secara kritis semacam itu harus dilakukan karena di era digital pendisiplinan tubuh tidak saja dilakukan oleh aparatus represif (lihat catatan Louis Althusser), tetapi bisa pula dilakukan sesama masyarakat sipil. 

Menjadi renungan kita sebagai seorang sosiolog ketika mencermati berbagai perubahan di masyarakat, institusi-institusi sosial dan negara, serta sistem dunia  (Imannuel Wallerstein, 1930-2019).

Published: 2026-04-17