DAYA TERIMA DAN KANDUNGAN GIZI BISKUIT DAUN KELOR SEBAGAI ALTERNATIF MAKANAN SELINGAN BALITA STUNTING

  • Gias Anjar Sasmita Rustamaji Universitas Negeri Surabaya
  • Rita Ismawati Universitas Negeri Surabaya
Keywords: Biskuit Daun Kelor, Daya Terima, Kandungan Gizi, Makanan Selingan Balita Stunting

Abstract

Stunting adalah salah satu masalah kesehatan yang perlu diwaspadai di Indonesia. Stunting disebabkan beberapa faktor, salah satu penyebab langsungnya adalah kurangnya asupan makan. Zat gizi yang berperan penting dalam stunting antara lain energi, protein, lemak dan zat besi. Zat gizi tersebut dapat diperoleh dari pangan lokal seperti daun kelor (Moringa oleifera). Penambahan daun kelor pada pembuatan biskuit diharapkan dapat meningkatkan kandungan gizi sehingga biskuit daun kelor dapat menjadi alternatif makanan selingan bagi balita stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan daun kelor terhadap daya terima biskuit dan kandungan gizi pada formula terbaik berdasarkan uji hedonik. Metode penelitian ini adalah eksperimental murni dengan melakukan penambahan daun kelor pada biskuit sebanyak 10 g, 15 g, dan 20 g yang kemudian dilakukan uji hedonik pada 30 panelis tidak terlatih. Data dianalisis secara deskriptif dan statistik menggunakan uji Kruskal Wallis, dengan uji lanjut Mann Whitney. Formula terbaik biskuit ditentukan dengan melihat nilai rata-rata daya terima tertinggi secara keseluruhan. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa biskuit yang paling disukai adalah F1, yaitu dengan jumlah penambahan daun kelor 10 g. Terdapat perbedaan yang signifikan pada penilaian warna, aroma, tekstur dan rasa (p < 0,05) yang artinya penambahan daun kelor berpengaruh terhadap daya terima biskuit. Kandungan gizi formula terbaik (F1) per porsi adalah E = 140,53 kkal, P = 5,28 g, L = 1,72 g, Fe = 1,25 mg. Disimpulkan bahwa biskuit daun kelor dapat digunakan sebagai alternatif makanan selingan balita stunting.

References

Amir, Y., Sirajuddin, S., & Syam, A. (2018). Daya Terima Susu Bekatul Sebagai Pangan Fungsional. Hasanuddin Journal of Public Health, 1(1), 16-25.
Augustyn, G. H., Tuhumury, H. C. D., & Dahoklory, M. (2017). Pengaruh Penambahan Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera) Terhadap Karakteristik Organoleptik dan Kimia Biskuit Mocaf (Modified Cassava Flour). AGRITEKNO: Jurnal Teknologi Pertanian, 6(2), 52-58.
Azmy, U., & Mundiastuti, L. (2018). Konsumsi zat gizi pada balita stunting dan non-stunting di kabupaten bangkalan. Amerta Nutrition, 2(3), 292-298.
Bey, H. (2010). All Things Moringa. The Story of an Amazing Tree of Life.
Dewi, E. K., & Nindya, T. S. (2017). Hubungan Tingkat Kecukupan Zat Besi Dan Seng Dengan Kejadian Stunting Pada Balita 6-23 Bulan. Amerta Nutrition, 1(4), 361-368.
Hardinsyah, M., & Supariasa, I. D. N. (2016). Ilmu gizi teori dan aplikasi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 131.
Indriasari, Y., Basrin, F., & Salam, M. B. H. B. ANALISIS PENERIMAAN KONSUMEN MORINGA BISCUIT (BISKUIT KELOR) DIPERKAYA TEPUNG DAUN KELOR (Moringa oleifera). Agroland: Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian, 26(3), 221-229.
Ismarani. (2012). Potensi senyawa tanin dalam menunjang produksi ramah lingkungan. CEFARS, 3(2): 46-55.
Ismawati, R., Wahini, M., Romadhoni, I. F., & Aina, Q. (2019). Sensory preference, nutrient content, and shelf life of Moringa oliefera leaf crackers. International Journal on Advanced Science Engineering Information Technology, 9, 489-494.
Izwardy, D. (2020). Studi Status Gizi Balita Terintegrasi Susenas 2019. Balitbangkes Kemenkes RI. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Juhartini. (2015). Pengaruh Pemberian Makanan Tambahan Biskuit dan Bahan Makanan Campuran Kelor terhadap Berat Badan dan Tinggi Badan pada Balita Gizi Kurang di Wilayah Kerja Puskesmas Kalumpang Kota Ternate Tahun 2015. Jurnal Kesehatan, 8(1), 1–8.
Kemenkes RI. (2018). Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia. Kementerian Kesehatan RI, 56.
Kemenkes RI. (2020). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2019. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Mazidah, Y. F., Kusumaningrum, I., & Safitri, D. E. (2018). Penggunaan Tepung Daun Kelor pada Pembuatan Crackers Sumber Kalsium. ARGIPA (Arsip Gizi dan Pangan), 3(2), 67-79.
Muliawati, D., & Sulistyawati, N. (2019). PEMBERIAN EKSTRAK MORINGA OLEIFERA SEBAGAI UPAYA PREVENTIF KEJADIAN STUNTING PADA BALITA.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019: Tentang Angka Kecukupan Gizi Yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Peraturan Menteri Kesehatan RI. (2019). ANGKA KECUKUPAN GIZI YANG DIANJURKAN UNTUK MASYARAKAT INDONESIA. 33.
Priandy, A. R. (2020). PENGARUH PENAMBAHAN DAUN KELOR (Moringa Oliefera) TERHADAP HASIL ORGANOLEPTIK OTAK-OTAK BANDENG KELOR. Jurnal Tata Boga, 9(1).
Rohayati dan Zainafree, I. (2014). Faktor yang Berhubungan dengan Penyelenggaraan Program Makan Siang di SD Al Muslim Tambun. Unnes Journal of Public Health, 3(3).
Sirajuddin, Surmita, & Astuti, T. (2018). Survey Konsumsi Pangan.
Tarigan, N., Rahmayanti, R., Harita, K. M., & Pardosi, M. M. (2020). ASUPAN ZAT GIZI, HEMOGLOBIN, ALBUMIN DAN BERAT BADAN ANAK BALITA GIZI KURANG YANG DIBERI COOKIES KELOR.
World Health Organization. (2012). Proposed global targets from maternal, infant and young child nutrition (discussion paper).
Published
2021-07-31
How to Cite
Rustamaji, G., & Ismawati, R. (2021). DAYA TERIMA DAN KANDUNGAN GIZI BISKUIT DAUN KELOR SEBAGAI ALTERNATIF MAKANAN SELINGAN BALITA STUNTING. GIZI UNESA, 1(1), 31-37. Retrieved from https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/GIZIUNESA/article/view/41287